Begini Cara Orang Tua Mendidik Arum Si Gadis Pemanah Berkuda Raih Prestasi

ADVERTISEMENT

Inspirasi

Begini Cara Orang Tua Mendidik Arum Si Gadis Pemanah Berkuda Raih Prestasi

Danu Damarjati - detikNews
Minggu, 27 Feb 2022 16:45 WIB
Arum Nazlus Shobah (Grandyos Zafna/detikcom)
Arum Nazlus Shobah (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Arum Nazlus Shobah adalah gadis remaja yang menjuarai sejumlah kompetisi panahan berkuda di Turki. Ternyata, saudaranya juga juara dalam panahan berkuda. Bagaimana cara orang tuanya mendidik sehingga anak-anaknya berprestasi?

Arum adalah anak 13 tahun kelahiran Depok, Jawa Barat, 14 Mei 2008. Dia adalah putri bungsu dari Sunaryo Adhiatmoko.

Kakak Arum bernama Arsa Wening juga berprestasi di olahraga yang sama. Pada Juni 2021, Arsa (15) dan Arum pernah menyabet gelar juara 1 dan 2 di podium yang sama dalam kompetisi di Ankara, Turki.

"Di kami, anak-anak kami didik secara natural saja, sesuai passion-nya," kata Sunaryo kepada detikcom, Jumat (25/2/2022).

Kakak tertua Arum, yakni Azmiah Rusydina, juga menikah dengan juara dunia panahan berkuda 2019 dan 2021, Kharisma Zaky. Jadi, olahraga panahan berkuda sudah lekat di keluarga Sunaryo Adhiatmoko. Dalam suasana itu, Arum si putri bungsu juga turut menggemari aktivitas panahan berkuda.

"Bukan karena anak-anak dipaksa atau ditekan. Saya membawa anak-anak melihat sesuatu dulu, ketika dia melihat apakah dia tertarik, ketika anak tertarik, maka saya berkewajiban menjaga ketertarikan itu agar stabil," kata Sunaryo.

Arsa Wening (Dok pribadi Sunaryo Adhiatmoko)Arsa Wening (Dok pribadi Sunaryo Adhiatmoko)

Di sisi lain, Sunaryo paham anak punya dunia sendiri, dunia yang lekat dengan bermain dan belajar. Dialog orang tua dan anak dikedepankan agar tidak ada unsur pemaksaan dalam aktivitas latihan. Namun soal latihan panahan berkuda, justru Arum-lah yang merasa tertantang untuk mempelajari teknik-teknik yang sulit.

"Kebetulan anak-anak saya suka challenge. Kalau saya hadirkan sesuatu yang menantang, mereka bangkit. Jadi saya hanya menjaga motivasi saja," kata Sunaryo, yang bermukim di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Sunaryo tidak memaksa anak-anaknya bisa jadi juara. Hal yang paling penting adalah anak-anak bisa menjalani proses pendidikan dengan baik. Panahan berkuda, kata Sunaryo, mengajarkan nilai-nilai kepemimpinan, visi, respons, tanggung jawab, serta kepedulian.

Arum Nazlus Shobah, pemanah berkuda. (Dok pribadi Sunaryo Adhiatmoko)Arum Nazlus Shobah, pemanah berkuda. (Dok pribadi Sunaryo Adhiatmoko)

"Kami sebagai ayah dan ibu tidak pernah mendidik mereka harus menjadi juara. Menjadi juara hanya bonus. Yang utama fokusnya adalah edukasi," tutur Sunaryo.

Sunaryo sendiri adalah Sekretaris Jenderal Perkumpulan Panahan Berkuda Indonesia (KPBI). Organisasi ini mengembangkan olahraga-budaya (ethnosport) panahan berkuda pada 2015-2016 disertai riset ke Korea hingga Turki.

Arum Nazlus Shobah, pemanah berkuda. (Dok pribadi Sunaryo Adhiatmoko)Arum Nazlus Shobah, pemanah berkuda. (Dok pribadi Sunaryo Adhiatmoko)

Simak juga Video: 120 Mangkok Per Hari, Pria di Depok Sudah Bagikan 18 Ribu Bubur gratis

[Gambas:Video 20detik]



(dnu/imk)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT