ADVERTISEMENT

Kasus Rasis di Laga Liga 3, Komisi X DPR: Perlu UU Keolahragaan

Isal Mawardi - detikNews
Sabtu, 26 Feb 2022 06:53 WIB
Suasana Stadion Benteng, Kota Tangerang, Banten, Jumat (4/2/2022). Renovasi Stadion Benteng yang dapat menampung 75.000 penonton tersebut saat ini telah rampung dengan menghabiskan dana Rp 31 miliar. ANTARA FOTO/Fauzan/tom.
Stadion Benteng Reborn, Tangerang (Foto: ANTARA FOTO/Fauzan)
Jakarta -

Ricuhnya laga liga 3 antara Persikota Tangerang dengan Belitong FC di Stadion Benteng Reborn, Tangerang, Banten diduga dipicu aksi rasisme berupa teriakan tiruan suara monyet. Komisi X DPR mengkritik tindakan tersebut.

"Hal-hal begini sering terjadi padahal tak terkait dengan prestasi olahraga yang sedang atau telah ditonton namun bisa jadi pemicu kerusuhan. Dan pelakunya bukan atlet namun penonton maupun suporter," ujar Wakil Ketua Komisi X Abdul Fikri Fakih ketika dihubungi, Jumat (25/2/2022).

Sehingga, jelas Abdul, harus ada UU yang baru tentang keolahragaan. Baik penonton maupun suporter akan diatur hak dan kewajibannya. Ia mengatakan suara suporter yang tidak ada hubungannya dengan olahraga, lebih baik dihiraukan.

"Menurut saya apapun suaranya asal tidak terkait untuk mendukung prestasi olahraga dalam hal ini berarti cabor sepakbola, sebaiknya diabaikan," imbuh Abdul.

"Mudah-mudahan Presiden segera menandatangani UU yang sudah disahkan DPR sehingga event olahraga cabor apapun termasuk sepakbola bisa berjalan tanpa harus direcoki dengan hal lain yang tak terkait dengan tujuan olahraga. Supaya juga aturan turunannya segera terbit. Karena bila ada hak dan kewajiban tentu ada sanksi yang selanjutnya diatur dalam detail regulasi di bawah UU baru ini," jelasnya.

Wakil Ketua Komisi X DPR lainnya, Dede Yusuf, turut berkomentar. Ia menyebut hal-hal seperti itu harus dihindari.

"Sebaiknya dalam pertandingan tidak gunakan teriakan bernada rasis atau keterlaluan," kata Dede.

Dede sendiri telah mendengar suara yang dimaksud dari unggahan Instagram Belitong FC. Namun ia tak bisa memastikan apakah itu tiruan suara monyet atau tidak.

"Dalam UU yang baru ditetapkan tentang supporter menjadi tanggung jawab klub dan tidak bisa hadir di lokasi tanpa izin klub. Juga tidak boleh menggunakan kata-kata /tindakan rasis," tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, Belitong FC melalui mengunggah video yang merekam suara menirukan suara monyet itu melalui akun Instagram @belitong.fc. Teriakan menirukan suara monyet itu terjadi saat pemain dari Belitong FC sedang menggocek bola.

"Apakah kalian dengar suara menyerupai suara monyet pada rekaman video di atas? Ya suara tersebut berulang kali terdengar hampir sepanjang laga kemarin. Semoga kejadian ini tidak berulang di kemudian hari, demi kemajuan sepak bola Indonesia 🇮🇩. #saynotoracism #IndonesiaSATU," demikian caption video yang diunggah akun Belitong FC, dilihat Jumat (25/2/2022).

Terkait teriakan yang menirukan suara monyet itu, panitia pelaksana mengaku tidak mendengar teriakan rasisme dari tribun penonton. Dia hanya mendengar sorakan saja dan itu pun tidak bernada rasis.

"Tidak ada suara rasisme karena suaranya yang saya dengar cuman 'wuuu...wuuu...wuuuu' gitu doang. Tidak tahu kalau ada rasisme, tidak tahu suaranya," ujar Wakil Ketua Panpel, Acep Suwardiman, saat dihubungi detikcom, Jumat (25/2).

(isa/aik)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT