ADVERTISEMENT

detik's Advocate

Saudara Angkat Suami Saya Ribut soal Warisan, Bagaimana Hukum Pembagiannya?

Andi Saputra - detikNews
Senin, 21 Feb 2022 09:39 WIB
Ilustrasi uang rupiah
Ilustrasi uang (Foto: Getty Images/iStockphoto/Squirescape)
Jakarta -

Warisan menjadi berkah bagi yang bisa menerimanya dengan ikhlas, namun bisa menjadi petaka bila para pihak bertikai. Salah satunya dialami oleh pembaca detik's Advocate.

Pertanyaan pembaca detik's Advocate itu dikirim ke email: redaksi@detik.com dan di-cc ke andi.saputra@detik.com:

Selamat sore Mas Andi

Saya VR. Say ibu rumah tangga. Saya tertarik setelah membaca artikel di Google mengenai anak angkat mendapatkan waris atau tidak. Setahu saya di agama memang ada hibah 1/3 bagian untuk anak angkat.

Kalau boleh saya bercerita ya mas. Saya menikah dengan suami dan sudah sejak lama mengetahui kalau suami saya adalah keponakan kandung mama mertua (anak adik kandung dari mama).

Kami tinggal di rumah bersama anak-anak angkat lainnya (ada dua orang perempuan). Setelah almarhum bapak mertua meninggal timbul lah rasa takut dan khawatir pada anak angkat tersebut. Sampai ribut dan pernah memukul kepala suami saya.

Anak angkat semua sudah menikah/berkeluarga tapi tetap tinggal satu rumah. Anak-anak angkatnya ini nakal. Punya banyak utang (CC dan kredit mobil) semua itu dibayarkan sama mama. Seolah-olah mereka takut nggak kebagian jatah waris.

Padahal kami (saya dan suami) tidak pernah membahas masalah waris dan tidak pernah ikut campur masalah rumah tangga anak-anak yang lain.

Yang saya ingin tanyakan adalah bagaimana caranya mengedukasi mereka supaya menyadari bahwa ada hukum waris secara agama dan hukum negara. Apalagi anak-anak angkat tersebut bersekolah tinggi (sekolah hukum dan kedokteran) tapi seperti nggak sekolah. Jadi agak sulit buat saya menjelaskannya.

Minta tolong Mas Andi dasar hukum warisnya disebutkan dan aturan pembagian waris seperti hal tersebut di atas. Karena kalau mereka melakukan hal-hal di luar batas saya nggak perlu banyak bicara. Hukum yang berbicara.

Terima kasih.

VR

Untuk menjawab masalah di atas, tim detik's Advocate meminta pendapat hukum dari Slamet Yuono, SH, MH (Partner pada Kantor Hukum 99 & Rekan). Berikut jawaban lengkapnya:

Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih atas pertanyaan yang Saudarai sampaikan kepada detik's Advocate. Kami turut bersimpati terhadap permasalahan yang dialami saudari dan suami saudari serta mama mertua dalam menghadapi anak-anak angkat lainnya yang bertindak dan bersikap kurang baik kepada suami saudari.

Terhadap pertanyaan saudari tersebut, kami akan membahasnya melalui pendekatan Hukum Islam.

Status Anak Angkat

Sebelum menjawab pokok pertanyaan, kami akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai Anak Angkat hal ini didasarkan pada uraian saudari yang menjelaskan jika suami adalah termasuk anak angkat dari mama mertua di samping dua (2) anak angkat lainnya.

Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Buku II Hukum Kewarisan Pasal 171 huruf (h), disebutkan:

Anak angkat adalah anak yang dalam pemeliharaan untuk hidupnya sehari-hari, biaya pendidikan dan sebagainya beralih tanggung jawabnya dari orang tua asal kepada orang tua angkatnya berdasarkan putusan Pengadilan

Berdasarkan Pasal 171 huruf (h) tersebut dinyatakan pengangkatan anak berdasarkan Putusan Pengadilan, hal ini adalah untuk menegaskan legalitas dari status anak tersebut adalah anak angkat dan untuk menghindari atau meminimalisir sengketa kewarisan jika ternyata keberadaan anak angkat tersebut dipermasalahkan oleh Ahli waris lainnya serta Penetapan/Putusan Pengadilan tersebut dapat digunakan sebagai alat bukti jika terjadi sengketa di Pengadilan.

Mengenai ketentuan adanya putusan pengadilan mengenai pengangkatan anak ini juga dijelaskan dalam Pasal 1 butir (18) Peraturan Menteri Sosial RI Nomor 110/HUK/2009 Tentang Persyaratan Pengangkatan Anak, yang menyatakan :

Pasal 1: Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan:

(18) Penetapan atau Keputusan Pengadilan adalah Putusan atau Penetapan Ketua Pengadilan yang memutuskan atau menetapkan bahwa CAA menjadi anak angkat

Tetapi jika ternyata pengangkatan anak tanpa adanya Penetapan/Putusan Pengadilan maka hal ini menjadi tugas dari anak angkat tersebut untuk membuktikan di pengadilan terkait dengan kebenaran status anak angkat tersebut, tentunya harus dibuktikan dengan menghadirkan saksi-saksi dan alat bukti lainnya yang mendukung pengakuan mengenai status hukum anak angkat tersebut.

Pembagian Waris

Saudari menyampaikan dalam penjelasan jika Bapak Mertua telah meninggal, dalam kondisi demikian maka kita menggunakan ketentuan antara lain:

Mengenai kelompok ahli waris sebagaimana diatur dalam Pasal 174 KHI

(1) Kelompok ahli waris terdiri dari :

a. Menurut hubungan darah:
-Golongan laki-laki terdiri dari : ayah,anak laki-laki, saudara laki-laki, paman dan kakek.
-Golongan perempuan terdiri dari : ibu, anak perempuan, saudara perempuan dari nenek.

b. Menurut hubungan perkawinan terdiri dari : duda atau janda.

(2) Apabila semua ahli waris ada, maka yang berhak mendapat warisan hanya : anak, ayah, ibu, janda atau duda.

Mengenai besarnya bagian waris sebagaimana dimaksud dalam Surat An-Nisaa ayat 11, 12 dan 176 di mana dalam Kompilasi Hukum Islam diatur dalam Pasal 176 sampai dengan 182.

Pasal 176:

Anak perempuan bila hanya seorang dia mendapat separoh bagian, bila dua orang atau lebih mereka bersama-sama mendapat dua pertiga bagian dan apabila anak perempuan bersama-sama dengan anak laki-laki. maka bagian anak laki-laki adalah dua berbanding satu dengan anak perempuan.

Pasal 177

Ayah mendapat sepertiga bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, bila ada anak, ayah mendapat seperenam bagian.

Pasal 178

(1) Ibu mendapat seperenam bagian bila ada anak atau dua saudara atau lebih. Bila tidak ada anak atau dua orang saudara atau lebih, maka ia mendapat sepertiga bagian.

(2) Ibu mendapat sepertiga bagian dari sisa sesudah diambil oleh janda atau duda bila bersama-sama dengan ayah.

Pasal 179

Duda mendapat separoh bagian, bila pewaris tidak meninggalkan anak, dan bila pewaris meninggalkan anak, maka duda mendapat seperempat bagian.

Pasal 180

Janda mendapat seperempat bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, dan bila pewaris meninggalkan anak maka janda mendapat seperdelapan bagian.

Pasal 181

Bila seorang meninggal tanpa meninggalkan anak dan ayah, maka saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu masing-masing mendapat seperenam bagian. Bila mereka itu dua orang atau lebih maka mereka bersama-sama mendapat sepertiga bagian.

Pasal 182

Bila seorang meninggal tanpa meninggalkan anak dan ayah, sedang ia mempunyai satu saudara perempuan kandung atau seayah, maka ia mendapat separoh bagian. Bila saudara perempuan tersebut bersama-sama dengan saudara perempuan kandung atau seayah dua orang atau lebih, maka mereka bersama-sama mendapat dua pertiga bagian.

Bila saudara perempuan tersebut bersama-sama dengan saudara laki-laki kandung atau seayah, maka bagian saudara laki-laki dua berbanding satu dengan saudara perempuan.

Mengenai wasiat dan wasiat wajibah untuk anak angkat

Anak angkat bukan Ahli tetapi memiliki hak untuk mendapatkan 'wasiat', sebagaimana dimaksud dalam Kompilasi Hukum Islam, Buku II Hukum Kewarisan, Bab V hal Wasiat, Pasal 194 ayat (1) yang berbunyi:

Orang yang telah berumur sekurang-kurangnya 21 tahun, berakal sehat dan tanpa adanya paksaan dapat mewasiatkan sebagian harta bendanya kepada orang lain atau lembaga.

Jika anak angkat ternyata tidak mendapatkan wasiat dari orang tua angkatnya yang telah meninggal dunia, maka anak angkat diberikan 'wasiat wajibah' sebanyak 1/3 dari harta warisan orang tau angkatnya, hal ini sebagaimana diatur dalam Kompilasi Hukum Islam, Buku II Hukum Kewarisan, Bab Wasiat, Pasal 209 ayat (2) yang berbunyi:

Terhadap anak angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan orang tua angkatnya.

Dengan wasiat wajibah seseorang dianggap menurut hukum telah menerima wasiat meskipun senyatanya tidak ada wasiat yang diberikan oleh orang tua angkatnya.

Dalam permasalahan yang saudari sampaikan harta milik Almarhum Bapak mertua yang dapat dibagi adalah harta bersama bagian Alm. Bapak mertua (Alm Bapak mertua dan Ibu mertua masing-masing mendapatkan seperdua dari harta bersama), selanjutnya harta bawaan milik almarhum bapak mertua ditambah harta bersama bagian almarhum Bapak mertua setelah digunakan untuk keperluan pewaris/almarhum bapak mertua selama sakit sampai meninggal, biaya pengurusan jenazah (tajhis), pembayaran hutang dan pemberian untuk kerabat.

Lihat juga video 'Bisakah Anak Hasil Nikah Siri Dapat Warisan?':

[Gambas:Video 20detik]



Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT