Bareskrim Periksa Indra Kenz soal Binomo Jumat Pekan Ini

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Senin, 14 Feb 2022 15:00 WIB
Indra Kenz
Indra Kenz (Dok. Instagram)
Jakarta -

Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri melayangkan panggilan resmi terhadap crazy rich asal Medan, Indra Kenz, yang menjadi terlapor di kasus investasi bodong aplikasi Binomo. Indra Kenz bakal diperiksa polisi Jumat (18/2/2022).

"Jumat dipanggil ya IK (Indra Kenz)," ujar Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Whisnu Hermawan saat dimintai konfirmasi, Senin (14/2).

Whisnu mengatakan Indra Kenz diundang untuk datang ke Bareskrim Polri, Jakarta Selatan (Jaksel). Indra Kenz diperiksa pada Jumat pagi sekitar pukul 10.00 WIB.

"Mengundang terlapor atas nama IK yang direncanakan tanggal 18 Februari 2022 pukul 10.00 WIB," tuturnya.

Whisnu menyebut Indra Kenz diduga melakukan tindak pidana judi online dan/atau penyebaran berita bohong (hoax) melalui media elektronik dan/atau penipuan atau perbuatan curang dan/atau tindak pidana pencucian uang (TPPU). Menurutnya, Indra Kenz mempromosikan bahwa aplikasi Binomo legal dan resmi di Indonesia, padahal bodong.

"Terlapor Indra Kesuma dan kawan-kawan. Yaitu pada sekitar April 2020, korban atas nama Maru Nazara dan kawan-kawan melihat promosi yang disebar oleh terlapor Indra Kesuma dan kawan-kawan melalui YouTube, Instagram, Telegram dengan menawarkan keuntungan melalui aplikasi trading Binomo (binary option), bahwa Binomo sudah Legal dan resmi di Indonesia," terang Whisnu.

Terpisah, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan memaparkan Indra Kenz mengajarkan strategi trading kepada korban. Hal tersebut dibuktikan dengan video di akun YouTube Indra Kenz, ketika dia juga menunjukkan keuntungan dari Binomo.

Ramadhan mengatakan korban awalnya ikut bergabung trading melalui aplikasi Binomo dengan deposit minimal Rp 140 ribu. Awalnya, korban mendapat keuntungan dari trading itu.

Hanya, pada transaksi berikutnya, korban selalu mengalami kerugian. Kerugian yang dialami salah satu korban mencapai Rp 540 juta.

"Bukti dalam YouTube terlapor. Dan juga terlapor mengajarkan strategi trading dalam aplikasi tersebut dan terus memamerkan hasil profitnya," kata Ramadhan.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.