Minta Pemuda Muslim Tak Apolitis, HNW Singgung Sejarah Sumpah Pemuda

Yudistira Imandiar - detikNews
Senin, 14 Feb 2022 14:26 WIB
Hidayat Nur Wahid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mengajak kaum muda muslim di Indonesia untuk tak bersikap anti dan buta politik. Ia mendorong agar kaum muda menembangkan wawasan politik yang positif dan konstruktif.

"Indonesia adalah Negara warisan perjuangan para ulama yang ada di partai politik maupun ormas-ormas Islam bersama bapak-bapak bangsa dari kalangan nasionalis kebangsaan. Sejak dari awal, Republik Indonesia merupakan negara demokrasi," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (14/2/2022)

"Karenanya wajar bila generasi muda muslim baik milenial maupun gen Z memahami dan melaksanakan politik dengan baik dan benar. Sehingga bisa melanjutkan peran historis, untuk merealisasikan cita-cita Indonesia Merdeka dan cita-cita Reformasi," imbuh kepada para mahasiswa STID Al-Hikmah dalam acara Seminar Politik, Minggu (13/2/2022).

Politisi yang akrab disapa HNW itu menjelaskan kesadaran berbangsa dan bernegara di Indonesia turut dibangkitkan oleh tokoh umat Islam dan organisasi mereka. Misalnya, ulas Hidayat, Jamiatul Khair, Sarekat Dagang Islam, dan Syarikat Islam pada tahun 1911 semuanya menegaskan pentingnya kesadaran politik untuk kemerdekaan dan kebebasan dari penjajahan Belanda baik dalam aspek politik maupun ekonomi.

Dalam Sumpah Pemuda tahun 1928, kalangan muslim ikut berpartisipasi sebagai unsur Jong Islamieten Bond. Mereka terdiri dari organisasi pemuda dari kalangan umat Islam.

"Oleh karena itu generasi muda muslim sekarang harus melanjutkan peran menyejarah tersebut. Apalagi dalam sistem hukum di Indonesia terbuka peluang bagi Partai Politik Islam bersama partai-partai politik lainnya, memperjuangkan cita-cita mereka dalam koridor Pancasila. Karena Partai Politik sejatinya adalah sarana seperti ormas, yayasan, sistem pendidikan atau TV dan radio, yang semuanya tidak ada pada masa Rasulullah SAW tetapi dipergunakan dan diterima umat untuk memperjuangkan kemaslahatan mereka," papar Hidayat.

"Maka generasi muda muslim, di negeri demokratis seperti Indonesia ini jangan bersikap apolitis atau termakan propaganda kaum sekuleris maupun islamophobia, karena tidak membawa maslahat bagi umat dan negara Indonesia," imbuhnya.

Wakil Ketua Majelis Syura PKS ini menuturkan kelompok anti politik Islam biasanya berdalih sikap apolitis merupakan cara agar agama yang suci tidak dibawa ke politik yang dinilai kotor. Namun, menurut Hidayat agama harus dihadirkan dalam urusan politik agar politik menjadi bersih dan bisa menghasilkan produk kebijakan yang juga bersih, seperti tidak korupsi, amanah, berlaku adil, dan menjaga lingkungan hidup.

Hidayat menegaskan Indonesia sebagai negara demokrasi menjunjung tinggi aspirasi dan perjuangan politik dari seluruh pihak, termasuk umat Islam. Sehingga bukan hal yang tabu bagi generasi muda muslim untuk terlibat dalam politik, baik melalui partai politik Islam maupun melalui organisasi masyarakat Islam.

"Sebagai mahasiswa misalkan, karena sudah berusia di atas 17 tahun maka bisa bergabung menjadi anggota partai politik. Kalaupun tidak melalui jalur partai secara langsung, maka keterlibatan politik generasi muda milenial bisa dilakukan dalam aktivitas di ormas maupun keseharian seperti keaktifan dalam kegiatan masyarakat, mengajak warga kepada kebaikan dan tidak melakukan kejahatan, mencerdaskan masyarakat agar menggunakan hak pilih dengan kritis baik dan benar, sehingga dapat memilih calon wakil rakyat maupun pemimpin yang benar-benar jujur, baik, profesional, dan pro kepada rakyat," ulas Hidayat.

Ia menambahkan mayoritas bangsa Indonesia hari ini adalah berusia muda dan beragama Islam. Oleh sebab itu, jika mereka justru abai terhadap politik, maka jangan heran jika kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan tidak memperhatikan dan mementingkan aspirasi generasi muda serta tidak bermaslahat bagi umat Islam dan masa depan NKRI.

"Namun jika generasi muda muslim yang meyakini bahwa Islam rahmatan lil alamin juga memiliki kesadaran penuh untuk memperjuangkan politik baik melalui parpol Islam maupun lainnya juga melalui ormas Islam, maka potensi menghadirkan kemaslahatan bagi generasi muda dan umat Islam dalam rangka membumikan Islam yang rahmatan lil alamin, serta menghadirkan cita-cita legal konstitusional dari proklamasi dan reformasi, menyongsong NKRI dalam 100 tahun ulang tahun kemerdekaannya, bisa diwujudkan," urai Hidayat.

(akd/ega)