ADVERTISEMENT

Perspektif

Bahaya Perang Nuklir Membayangi Rusia Vs Ukraina, RI Harus Beraksi!

Danu Damarjati - detikNews
Senin, 07 Feb 2022 19:30 WIB
Kiamat di Bumi: Mulai dari misi ke bulan, bom atom, senjata nuklir, hingga kecerdasan buatan
Foto ilustrasi tak berhubungan langsung dengan berita: Ledakan berbahaya. (Sumber: BBC)
Jakarta -

Bahaya pecahnya perang nuklir membayangi ketegangan Rusia versus Ukraina. Doktrin 'Mutually Assured Destruction' atau MAD (Kesepakatan untuk Saling Menghancurkan) diyakini bisa membuka pintu gerbang 'kiamat'. Indonesia harus turun tangan!

Sebagaimana diketahui, Ukraina saat ini condong ke NATO (meski belum anggota NATO), maka ada Amerika Serikat (AS) di belakang Ukraina. Di sisi lain, ada Rusia yang sama-sama punya senjata nuklir seperti AS.

Meski kecil kemungkinan Rusia dan Amerika Serikat (AS) sepakat perang langsung, kemungkinan 'kecelakaan kemanusiaan' bukannya sama sekali nol. Indonesia harus tampil demi perdamaian dunia, sebagaimana amanat pembukaan Undang-Undang Dasar alinea empat.

Pakar hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran (UNPAD), Teuku Rezasyah, menilai konflik AS vs Rusia dewasa ini mirip dengan konflik perang dingin AS vs Uni Soviet era '60-an. Kini, Rusia sudah menempatkan pasukannya di wilayah perbatasan dengan Ukraina yang merupakan negara bekas Uni Soviet yang sejak 2014 dipimpin oleh orang yang tidak pro-Rusia. Sebagaimana diketahui, Presiden Ukraina pro-Rusia yakni Viktor Yanukovych sudah digulingkan pada saat itu.

Tolak Kirim Senjata, Pemerintah Jerman Dicecar Kritik Soal Konflik Ukraina-RusiaKonflik Ukraina-Rusia (Foto: DW/News)

Bahaya perang nuklir

Teuku Rezasyah melihat saat ini dunia sudah muak dengan perang. Dunia internasional saat ini lebih menaruh perhatian kepada masalah bersama seperti perubahan iklim, isu lingkungan, dan peningkatan kehidupan sesuai Sustainable Development Goals. Maka, opsi perang adalah opsi yang tidak bakal diambil. Lalu bagaimana dengan dua negara besar: AS dan Rusia?

"Risikonya terlalu besar, karena masing-masing punya nuklir. AS dan Rusia tidak akan berani. Ini menurut saya hanya sebatas psywar, perang urat saraf untuk menggentarkan saja," kata Teuku Rezasyah kepada Perspektif detikcom, Senin (7/2/2022).

Terlebih saat ini, AS bukan lagi negara yang amat sangat populer. AS tidak akan mengambil risiko membela Ukraina, kecuali hanya sebatas mengirim pasukan dan menguji peralatan perangnya, tanpa perang sungguhan melawan Rusia.

"AS tidak berani. Rusia juga sama," kata dia.

Ada doktrin berasal dari AS bernama Mutually Assured Destruction (MAD) atau Kesepakatan untuk Saling Menghancurkan. Doktrin ini muncul dari era Menteri Pertahanan AS McNamara tahun '60-an. Intinya, MAD adalah prinsip pencegahan yang didasarkan pada gagasan bahwa serangan nuklir satu negara adidaya akan dibalas dengan serangan balik nuklir yang luar biasa, mati satu mati semua, hancur satu hancur semua, tak ada pemenang.

WASHINGTON, DC - DECEMBER 02: A military aide carries the nuclear football as he walks toward Marine One to depart with U.S. President Donald Trump., on December 2, 2017 in Washington, DC. President Donald Trump is traveling to New York city to attend meetings with the Republican National Committee.   Mark Wilson/Getty Images/AFPWASHINGTON, DC - DECEMBER 02: A military aide carries the nuclear football as he walks toward Marine One to depart with U.S. President Donald Trump., on December 2, 2017 in Washington, DC. President Donald Trump is traveling to New York city to attend meetings with the Republican National Committee. Mark Wilson/Getty Images/AFP Foto: Mark Wilson/Getty Images/AFP

Presiden AS juga punya tas berkode 'football' seukuran koper, berisi perangkat untuk mengaktifkan nuklir mereka. Koper itu selalu dibawa-bawa pengawal Presiden. Namun kembali lagi, perang AS versus Rusia (apalagi perang nuklir) tak akan terjadi menyusul ketegangan Ukraina versus Rusia belakangan ini.

Masih ada potensi perang nuklir, yakni lewat 'kecelakaan' yang disebut 'accidental detonation'. Perang nuklir pernah nyaris terjadi pada 1962, saat itu Uni Soviet menaruh peluru kendali di Kuba dan AS membaca peluru kendali itu berpotensi bermuatan nuklir. Perang Dunia III nyaris meletus. Saat itu awak kapal selam Rusia sudah berdebat di dalam kapal selam apakah menembak AS atau tidak, untungnya mereka tidak melepaskan tembakan. Perang terhindarkan pada saat itu. Namun, 'kecelakaan kecil' yang bisa memantik perang nuklir bisa saja terjadi lewat ketegangan Ukraina vs Rusia pada 2022 ini.

"Dunia memang menghindari perang nuklir, namun kita tidak tahu soal potensi terjadinya accidental detonation, peledakan mendadak, mungkin saja, bisa senggolan di laut tertentu, komunikasi dengan pusat susah terjalin, komandan di lapangan harus berinisiatif, mungkin saja terjadi," kata Rezasyah.

Bila perang nuklir terjadi antara AS dan Rusia, bukan hanya AS dan Rusia yang kena dampaknya. Dampak perang nuklir bakal lebih besar ketimbang ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki Jepang. Dampak perang nuklir modern bakal lebih masif dari pada itu, yakni setara dengan meletusnya Gunung Krakatau Tahun 1883, seluruh dunia bisa kena dampaknya, paling tidak kena debu nuklir yang beracun. Rusak semua!

"Bisa terjadi nuclear winter, satu dunia terdampak. Itu bakal menjadi bencana besar," kata Rezasyah.

Indonesia harus beraksi

Pada situasi ini, demi perdamaian dunia, Indonesia harus beraksi. Tak cukup Menteri Luar Negeri RI Retno Lestari Priansari Marsudi yang turun tangan, melainkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) langsung yang harus turun tangan.

"Ini bisa menjadi panggung Indonesia kalau pemerintah Indonesia sadar akan mekanismenya," kata Rezasyah.

Sampai saat ini, ada Turki yang bergerak mencoba menjadi penengah AS, Ukraina, dan Turki. Namun demikian, negara yang berseteru dinilai ogah ditengahi Turki karena Turki tidak sepenuhnya bebas dari keberpihakan. Indonesia adalah negara yang lebih netral ketimbang Turki.

"Indonesia adalah negara yang benar-benar tulen non-align. Kita tidak ke Rusia dan tidak ke China dan ke mana-mana. Koalisi kita dengan Australia bagus, dengan Jepang bagus, melibatkan ASEAN iya. Non Align Movement (Gerakan Non Blok) iya, Selatan-selatan iya, OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) iya," kata Rezasyah.

Jokowi harus turun tangan langsung. Mekanisme yang paling mungkin adalah Jokowi langsung datang ke New York memimpin delegasi Indonesia, berkomunikasi langsung dengan Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menggerakkan Majelis Umum, berbicara di Dewan Keamanan PBB.

"Untuk mengatakan bahwa perilaku Anda-Anda ini (AS, Rusia) sudah mengganggu keamanan dunia, berpotensi menghancurkan peradaban dunia. Harus berinisiatif. Kalau hanya kirim Menlu ke sana, dampaknya tidak gede, tapi kalau Presiden yang datang itu bisa," kata Rezasyah.

Simak Video: Polandia Tuding Rusia Sedang Membangun Kekaisaran

[Gambas:Video 20detik]




(dnu/tor)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT