Jazilul Kenang Peran Besar Gus Dur dalam Kebebasan Perayaan Imlek

Jihaan Khoirunnisa - detikNews
Jumat, 04 Feb 2022 16:07 WIB
Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid
Foto: Dok. MPR RI
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid menyebut warga keturunan China di Indonesia bisa bebas merayakan Imlek tak lepas dari peran Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Menurutnya, di era Gus Dur menjadi Presiden lah babak baru kebebasan beragama hingga tradisi dijalankan.

"Ketika Gus Dur menjadi presiden, inpres yang ada dicabut serta mengeluarkan aturan yang baru yakni Keppres Nomor 6 Tahun 2000. Keputusan inilah yang diakui sebagai babak baru bagi kalangan Tionghoa di Indonesia untuk menjalankan kebebasan beragama, adat, budaya, dan tradisi serta merayakan Imlek secara terbuka di tengah masyarakat," ujar Jazilul dalam keterangannya, Jumat (4/2/2022).

Dia pun membandingkan selama periode Orde Baru, kala itu perayaan Imlek dilarang. Larangan ini berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967. Akibatnya kalangan Tionghoa terbatas dalam merayakan Imlek.

Namun, kata dia, Gus Dur memberikan kesempatan kembali kepada kalangan Tionghoa untuk menjalankan kebebasan beragama, adat, tradisi, dan budaya. Sebab dirinya memandang bangsa ini merupakan bangsa yang beragam.

"Sehingga semua kalangan mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Tidak boleh ada perbedaan dan diskriminasi yang disebabkan karena mayoritas atau minoritas," tambahnya.

Ia menyebut langkah Gus Dur terkait kebebasan merayakan Imlek mendapat respons positif dari banyak pihak. Utamanya kaum Tionghoa yang bahkan menganugerahkan sebutan 'Bapak Tionghoa' kepada Gus Dur, saat Perayaan Cap Go Meh di Klenteng Tay Kek Sie, 10 Maret 2004.

Lebih lanjut, Jazilul mengatakan keberagaman menjadi kekuatan besar yang dimiliki bangsa Indonesia saat ini. Apalagi ditambah dengan hadirnya kalangan Tionghoa di Tanah Air yang menambah khasanah budaya dan keberagaman.

Menurutnya, meski bangsa ini beragam, namun tetap saling menghormati dan menghargai. "Kita adalah bangsa yang bhinneka, terdiri dari berbagai suku dan agama. Banyak kontribusi dalam budaya dan sendi-sendi kehidupan yang disumbangkan oleh kalangan Tionghoa kepada bangsa ini," lanjut Jazilul.

Pria yang akrab dipanggil Gus Jazil itu mengatakan kaum Tionghoa dapat merayakan Imlek dengan suka cita merupakan wujud toleransi masyarakat Indonesia. Hal ini terlihat dari lampion serta ornamen Imlek yang terpasang di sudut-sudut jalan di berbagai kota dan kabupaten, tidak hanya di tempat ibadah kalangan Tionghoa saja.

"Ini menunjukan bahwa semua suku dan agama memiliki kesetaraan," tutur dia.

Dikatakan Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini, nilai keberagaman, saling menghormati dan menghargai harus dipelihara. Sehingga diharapkan dapat tercipta suasana harmoni di tengah masyarakat. "Keinginan seperti ini terus disosialisasikan oleh MPR," ujarnya

Dia menjelaskan Imlek tahun ini merupakan tahun macan air. Menurutnya, macan menjadi simbol energi, kepemimpinan, wibawa, kekuatan, kehormatan, perlindungan, altruisme, dan gagasan masa depan.

"Dengan simbol inilah kita bisa optimis dalam menghadapi berbagai ujian di tahun macan," jelasnya.

"Selamat Hari Raya Imlek, Gong Xi Fa Cai, semoga kemakmuran terus melimpahi kita," pungkasnya.

(akd/ega)