Edy Mulyadi Tersangka, Raja Tayan: Ucapannya Memang Mengandung Kebencian

Audrey Santoso - detikNews
Senin, 31 Jan 2022 20:58 WIB
Raja Keraton Tayan Kalimantan Barat, Gusti Yusri.
Raja Keraton Tayan Kalimantan Barat, Gusti Yusri (kanan), dan istrinya (kiri). (Dok. Pribadi)
Jakarta -

Raja Keraton Tayan, Kalimantan Barat (Kalbar), Gusti Yusri, mendukung langkah Bareskrim Polri menersangkakan dan menahan Edy Mulyadi. Gusti menilai memang sudah seharusnya Edy Mulyadi ditindak tegas.

"Sudah seharusnya hal itu (penetapan tersangka dan penahanan Edy Mulyadi) dilakukan," kata Gusti kepada wartawan, Senin (31/1/2022).

Menurut Gusti, pernyataan Edy Mulyadi memang mengandung kebencian. Dia pun berharap kasus Edy Mulyadi dituntaskan dengan cepat oleh polisi.

"Karena pernyataan-pernyataannya memang mengandung unsur kebencian yang dikualifisir UU ITE," ucap pria yang juga menjabat sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalbar ini.

"Saya mengharapkan agar proses hukumnya dilakukan secara cepat," sambung dia.

Gusti juga berharap polisi profesional dalam memproses pidana Edy Mulyadi. Transparan, tidak bertele-tele, sehingga tidak menimbulkan implikasi lain," imbuh dia.

Ucapan Edy Mulyadi yang Diperkarakan

Di kanal YouTubenya, Edy mengunggah video yang memuat kritik menolak pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) baru di Penajam Paser, Kalimantan Timur (Kaltim). Istilah jin buang anak hingga kuntilanak dan genderuwo dibawa-bawa Edy dalam pernyataannya.

Berikut ini pernyataannya:

Ini ada tempat elite, punya sendiri, yang harganya mahal, punya gedung sendiri, lalu dijual, pindah ke tempat jin buang anak, lalu nyewa. Nyewa Bro. Bukan orang kaya, orang gebleg. Kalau saya bilang goblog nggak enak ya. Saya nggak ngomong goblog ya, saya ngomong gebleg. Ini nggak masuk akal kita sebetulnya.

Kedua, itu ibu kota itu nanti yang tinggal siapa di situ? Apakah menteri , dirjen, dan direkturnya? Apakah hanya ASN saja? Wong ASN saja malas ke sana. Atau perlu ada rakyat tinggal di sana? Itu 182.000 hektare loh. Lalu kalau rakyat tinggal di sana, siapa yang membangun perumahannya?

Apakah yang membangun itu, siapa namanya, Ciputra? Agung Podomoro? Atau siapa lagi sih grup-grup itu? Sedayu? No. Orang-orang itu orang-orang bisnis. Kalau buat bangun perumahan, mereka akan bertanya yang utama siapa yang beli? Pasarnya siapa? Kalau pasarnya kuntilanak, genderuwo ngapain gua bangun di sana. Nggak ada.

Ucapannya dinilai menghina Kalimantan. Masyarakat Kalimantan pun meradang. Edy akhirnya ramai-ramai dipolisikan.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.

Simak Video: Kronologi Pemeriksaan hingga Penahanan Edy Mulyadi

[Gambas:Video 20detik]