Hermawan Sulistyo soal Edy Mulyadi: Biarkan Polisi Bekerja Secara Profesional

Tim Detikcom - detikNews
Sabtu, 29 Jan 2022 15:21 WIB
Hermawan Sulistyo
Hermawan Sulistyo (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Pengamat politik dan keamanan nasional Hermawan Sulistyo berharap masyarakat mendukung proses hukum terhadap Edy Mulyadi di kepolisian. Hermawan meminta masyarakat tak berspekulasi negatif atas proses penegakan hukum.

"Sekarang diproses polisi. Saya minta tidak ada respons negatif macam-macam," kata Hermawan kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (29/1/2022).

Hermawan memilih membiarkan polisi bekerja dulu. Nantinya masyarakat dapat menilai hasil kinerja kepolisian terkait kasus 'jin buang anak' Edy Mulyadi.

"Biarkan polisi bekerja profesional. Nanti kita nilai," ucap dia.

Menurut Hermawan, tak ada yang perlu dipermasalahkan soal proses penegakan hukum yang kini sedang dilakukan Bareskrim Polri. Hermawan menyebut Edy telah berbicara seenaknya.

"Kenapa orang ngomong seenaknya kok sekarang ini tidak boleh diproses polisi? Biarkan polisi bekerja profesional dulu," ujar Hermawan.

Awal Mula Kasus

Kasus ujaran 'jin buang anak' bermula dari pernyataan Edy Mulyadi terkait rencana pemindahan ibu kota negara (IKN) ke Kalimantan Timur. Edy menyampaikan dirinya menolak rencana ini.

Edy menggunakan istilah 'tempat jin buang anak' untuk menggambarkan lokasi IKN baru. Pernyataan Edy menuai respons negatif, terutama dari masyarakat Kalimantan.

Edy lalu ramai-ramai dipolisikan. Bareskrim Polri telah menarik seluruh laporan terkait Edy Mulyadi dari tingkat jajaran untuk ditangani pihaknya.

Kasus 'jin buang anak' saat ini naik ke tahap penyidikan. Polisi telah memanggil Edy sebagai saksi kemarin, Jumat (28/1) untuk dimintai keterangan, namun Edy tak hadir.

Pengacara Edy Mulyadi, Herman Kadir, mengatakan akan menyurati Dewan Pers. Herman menyebut kliennya menyatakan soal penolakan pemindahan IKN dan mengistilahkan IKN yang bari sebagai tempat jin buang anak dalam kapasitas sebagai wartawan.

"Kami juga akan mengirim surat ke Dewan Pers, minta perlindungan hukum karena, bagaimanapun, Pak Edy kan waktu bicara kan sebagai wartawan, wartawan senior diminta oleh panitia itu. Jadi antara dia pribadi dan profesinya sudah melekat. Jadi kita mau kirim surat ke Dewan Pers untuk minta perlindungan hukum. Ini kita sudah siapin suratnya," ungkap Herman kepada wartawan pagi tadi.


Edy Mulyadi Telah Minta Maaf

Edy Mulyadi telah meminta maaf atas ucapannya berkaitan dengan pernyataan Kalimantan sebagai tempat jin membuang anak. Dia mengaku pernyataan itu sebetulnya untuk menggambarkan lokasi yang jauh.

Permintaan maaf itu disampaikan oleh Edy melalui akun YouTubenya, BANG EDY CHANNEL. Dalam video klarifikasi itu, dia awalnya menyinggung kembali pernyataannya.

"Kalimatnya gini lengkapnya, 'kita ini punya tempat bagus-mahal di Jakarta, tiba-tiba kita jual, kita pindah tempat ke tempat jin buang anak'. Kalimatnya kurang-lebih gitu, 'lalu kita pindah ke tempat jin buang anak'," kata Edy seperti dilihat detikcom melalui kanal YouTubenya, Senin (24/1).

Edy lantas menjelaskan maksud pernyataan tempat jin buang anak, yakni untuk menggambarkan istilah lokasi yang jauh. Dia lantas menyebut Monas hingga BSD juga dulu disebut sebagai tempat jin buang anak.

"Di Jakarta, tempat jin buang anak itu untuk menggambarkan tempat yang jauh, jangankan Kalimantan, istilah kita--mohon maaf ya--Monas itu dulu tempat jin buang anak, BSD, Balai Serpong Damai, itu tahun 80-90-an itu tempat jin buang anak, jadi istilah biasa," ucapnya.

Lebih lanjut Edy Mulyadi menduga memang ada pihak yang sengaja memainkan isu yang diucapkannya itu. Bagaimanapun, dia mengakui tetap meminta maaf terkait pernyataannya.

"Tapi temen-temen, saya nggak tahu dengan motif apa segala macam ada yang berusaha memainkan isu ini. Tapi, meski demikian, saya ingin sampaikan bahwa saya minta maaf, itu benar-benar bukan masalah. Saya akan minta maaf, itu mau dianggap salah atau tidak salah, saya minta maaf," ujarnya.

(fjp/yld)