BOR RS COVID-19 Jakarta Melonjak Lagi, Kini Jadi 54%!

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Jumat, 28 Jan 2022 21:14 WIB
Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria, di Balai Kota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (20/9/2021).
Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria (Karin/detikcom)
Jakarta -

Keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) 140 RS rujukan COVID-19 DKI Jakarta melonjak jadi 54 persen. Begitu pula BOR ICU, naik jadi 18 persen.

"Bed occupancy rate-nya 54%, naik, nih, dari 45% ke 54%," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria di Balai Kota DKI Jakarta, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (28/1/2022).

Adapun tempat tidur isolasi COVID-19 saat ini telah terisi 2.260 dari 4.222 tempat tidur. Sedangkan untuk ICU terisi 112 tempat tidur dari total 629 yang disiapkan.

"Sekalipun umumnya (pasien) tidak ada gejala. Tapi jangan dianggap enteng," ujar Riza.

DKI juga melaporkan penambahan kasus positif Omicron sebanyak 121 orang sehingga totalnya menjadi 2.525 orang. Terkait penambahan kasus Omicron, Riza menekankan terjadi peningkatan kasus transmisi lokal secara signifikan.

"Tadinya jauh jaraknya import case sama lokal, berarti di antara kita nih saling menularkan. Bukan cuman yang datang dari luar negeri. Jadi harus hati-hati," tegasnya.

Untuk diketahui, pada Rabu (26/1) kemarin BOR RS COVID-19 DKI sudah mencapai 45%. Dinkes DKI Jakarta kala itu mengklaim situasi masih terkendali.

"Untuk keterisian ICU itu 14%, keterisian isolasi 45%," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dwi Oktavia kepada wartawan, Kamis (27/1).

"Jadi saat ini di angka keterisian 45% relatif kondisinya masih cukup bisa kendalikan di dalam lingkungan faskes untuk kasus yang perlu perawatan. Untuk ICU masih oke, keterisian ICU di 14%," jelasnya.

Dwi mengatakan BOR masih dalam kategori aman hingga angka 60-70%. Jika melebihi batas itu, kata dia, perlu langkah khusus menambah tempat tidur isolasi.

"Tapi tetap kita lihat dan kalau memang jumlah tempat tidur COVID perlu ditambah, maka kita tambah tentu dengan melakukan penyesuaian RS-nya, kemudian pengaturan area RS untuk full COVID dengan yang campur, walau area perawatannya beda. Kita lihat semua aspek," ujarnya.

(taa/maa)