Anak Tifatul Sembiring Kritik Bapaknya soal 'Jin Buang Anak': Koplak!

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Kamis, 27 Jan 2022 18:39 WIB
Fathan Asaduddin Sembiring
Fathan Sembiring (dok Pribadi)
Jakarta -

Anggota DPR Fraksi PKS Tifatul Sembiring sempat bicara soal polemik 'jin buang anak' dan kemudian mengklarifikasi pernyataannya. Meski sudah mengklarifikasi, pernyataan awal Tifatul tetap mendapat kritik keras dari anaknya, Fathan Sembiring.

Kritik itu dilontarkan Fathan melalui status Facebooknya. Dia meminta ayahnya diam dan tidak membuat keisengan-keisengan.

"Mingkem gitu Beh, mingkem..! Politik di Indonesia itu sudah tidak perlu keisengan-keisengan begini. What's the point?" tulis Fathan dalam statusnya, Kamis (27/1/2022). detikcom telah mendapatkan izin untuk mengutip tulisan ini.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa lontaran-lontaran seperti 'jin buang anak' memang tidak jadi masalah di era generasi ayahnya. Namun, menurutnya, Tifatul lupa bahwa sekarang sudah berbeda zaman.

"Untuk generasi beliau, memang lontaran-lontaran begitu dipandang tidak masalah. Beliau lupa kalau sudah bukan zamannya lagi begitu, ada media sosial--wong dia menterinya dulu, kok masih coba-coba," ungkapnya.

"Suasana kebatinan masyarakat Indonesia di tengah-tengah pandemi begini sedang tidak baik-baik saja. Janganlah dikasih minyak untuk mengguyur bara, apalagi spesifik soal kedaerahan, wajar kalau siapapun yang berasal dari Kalimantan makin tersinggung," lanjutnya.

Lebih lanjut, dia bercerita bahwa saat ini dirinya bekerja sebagai konsultan bisnis dan manajemen. Dia mengaku sering pulang-pergi ke Kalimantan. Dia menyebut Kalimantan sebagai masa depan Indonesia.

"Kegiatan saya sebagai konsultan bisnis dan manajemen banyak membuat saya pergi ke Kalimantan, paling sering ke Kalbar. Kalimantan adalah masa depan Indonesia. Terlepas dari ajaibnya UU IKN kemarin, fokuslah lontaran kritis ke soal itu, bukan soal keisengan dengan membela entah siapa itu eks caleg dan kemudian ini yang ditangkap, diingat, dan memiliki jejak digital oleh masyarakat luas," ujarnya.

Dia pun memungkasi statusnya dengan kata 'koplak'. Untuk diketahui, dalam bahasa Jawa, kata 'koplak' sering dipakai untuk menggambarkan kondisi kewarasan yang tidak sempurna.

"Koplak!" pungkasnya.