Waket MPR Tekankan Pendekatan Adat-Budaya dalam Pengembangan IKN Baru

Inkana Izatifiqa R Putri - detikNews
Kamis, 27 Jan 2022 16:57 WIB
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat menilai pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) baru perlu mengedepankan pendekatan budaya, socio culture. Dengan demikian, manfaat dari pembangunan tersebut dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

"Saya khawatir sekarang ini diam-diam. Jangan-jangan ada api dalam sekam. Apalagi menjelang 2024 isu-isu politik akan mengemuka dan rawan 'digoreng'. Sehingga perlu pendekatan dari sisi budaya yang lebih intens dalam pengembangan Ibu Kota baru di Kalimantan Timur ini," kata Lestari dalam keterangannya, Kamis (27/1/2022).

Hal itu diungkapkannya usai mengunjungi lokasi pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) baru bersama sejumlah pimpinan MPR RI di Kalimantan Timur hari ini.

Menurut Lestari, permasalahan yang timbul terkait adat dan budaya, serta socio culture mudah diledakkan dengan berbagai alasan. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah untuk memperhatikan aspek-aspek adat dan budaya dengan baik dalam proses pengembangan Ibu Kota Negara baru.

Lestari mengakui dalam proses pembangunan Ibu Kota Negara baru, pemerintah telah berupaya membangun komunikasi dengan masyarakat setempat. Meski demikian, Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem ini menilai upaya tersebut belum cukup dan masih perlu ditingkatkan.

Berdasarkan pengamatan dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), lanjut Lestari, sebagian komunitas masyarakat setempat mengetahui ada rencana pembangunan Ibu Kota Negara di wilayah mereka. Sedangkan, sebagian masyarakat lainnya masih belum tahu.

Lebih lanjut, Lestari mengungkapkan sebagian komunitas masyarakat yang tahu tentang pembangunan Ibu Kota Negara baru masih berdasarkan pengamatan AMAN. Mereka belum memahami konsekuensi yang akan muncul antara lain terkait masalah sosial, budaya, kepastian hukum dan lingkungan hidup, dalam proses pembangunannya.

Pasalnya, sejumlah kawasan yang dibangun menjadi Ibu Kota Negara baru memang merupakan wilayah tempat tinggal dari sejumlah etnis di Kalimantan Timur. Misalnya, di Kabupaten Penajam Paser Utara yang terdapat komunitas dari etnis Paser, dan beberapa komunitas dari sub etnis Dayak Kenyah dan Dayak Modang.

Sementara di Kutai Kartanegara terdapat komunitas-komunitas dari etnis, Dayak Modang, Benuaq, Tunjung, Kenyah, Punan, dan Basab. Terkait keberagaman beragamnya etnis yang bersentuhan dengan wilayah pembangunan dan pengembangan Ibu Kota Negara baru, Lestari mengimbau pemerintah agar lebih melakukan pendekatan adat dan budaya secara intensif.

Hal ini agar pembangunan Ibu Kota Negara baru di Kalimantan Timur memberi kemaslahatan bagi seluruh masyarakat.

(ncm/ega)