Kasus Harian Corona Tembus 7.000, Wapres Ma'ruf: Percepat Testing-Tracing

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Kamis, 27 Jan 2022 16:30 WIB
Wakil Presiden Maruf Amin
Wapres Ma'ruf Amin (dok. Setwapres)
Jakarta -

Kasus harian COVID-19 pada Rabu kemarin mencapai 7.010 kasus positif. Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin memerintahkan agar testing, tracing, hingga vaksinasi terus dipercepat.

"Kita memang sudah memperkirakan bahwa memang Februari dan awal Maret itu akan terjadi peningkatan melihat perkembangan Omicron di seluruh dunia ini terjadi, tetapi kita sudah mengantisipasi supaya kenaikannya itu tidak eksponensial seperti yang terjadi di beberapa negara," kata Ma'ruf saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai kasus harian Corona melebihi 7.000 kasus, Kamis (27/1/2022).

Merespons kenaikan kasus itu, Ma'ruf meminta agar protokol kesehatan diterapkan dengan ketat. Dia juga meminta agar testing, tracing, treatment, hingga vaksinasi dipercepat.

"Karena itu, melakukan pengetatan-pengetatan ya khususnya dalam penerapan protokol kesehatan, masker, dan juga menjaga jarak, testing, tracing, treatment itu terus kita lakukan lebih cepat lagi untuk mengetahui lebih banyak yang misalnya terkena, kemudian juga vaksinasinya dipercepat baik yang pertama, kedua dan juga booster, terutama juga lansia dan anak-anak, kemudian juga penerapan PeduliLindungi itu terus kita tekankan," katanya.

Ma'ruf Amin mengatakan bahwa memang terjadi kenaikan kasus di berbagai negara. Dia juga meminta orang yang datang dari luar negeri menjalani karantina tanpa adanya dispensasi.

"Ini memang tren global ini sudah tinggi, karena itu kita antisipasi untuk dan juga yang datang dari luar negeri dengan membuat karantina, kita lakukan pemeriksaan yang ketat dan kemudian karantina. Tidak ada dispensasi-dispensasi tanpa karantina. Ini untuk mencegah melonjaknya, seperti di Inggris, Amerika, India juga dan Malaysia," tutur dia.

Pada Rabu (26/1) kemarin, pemerintah melaporkan kasus harian positif Corona sebanyak 7.010 kasus. Terakhir kali kasus Corona menembus 7.000 kasus adalah pada September 2021.

(lir/idn)