Kepala BNPT: Hampir 50% Medsos Isinya Intoleransi dan Rencana Kejahatan

Rakha Arlyanto Darmawan - detikNews
Kamis, 27 Jan 2022 11:29 WIB
Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar.
Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar (Dok. BNPT)
Jakarta -

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar menyebut 50% konten di media sosial berisi ujaran intoleransi dan rencana kejahatan. Menurutnya, kelompok remaja rentan terindikasi paham radikal.

Hal itu disampaikan Boy saat memberi sambutan dalam acara 'Ngopi Bareng Pangdam Jaya', di Kodam Jaya, Cililitan, Jakarta Timur, Kamis (27/1/2022). Boy mencatat remaja rentan terpapar paham radikalisme.

"Social media hari ini hampir 50% berisi bagian dari semangat intoleransi, semangat untuk melakukan merendahkan martabat manusia, dan tempat menyebarluaskan rencana-rencana yang mengarah ke kejahatan," kata Boy dalam sambutannya.

Boy menyebut anak muda merupakan golongan rentan terpapar paham radikalisme. Terkhusus golongan remaja dan pelajar.

"Anak-anak muda pelajar itu rentan sekali terpapar ideologi radikal ini. Yang berusia remaja ini," ujar Boy.

Karena itu, Boy mengatakan perlu adanya upaya sistematis dalam penanggulangan masifnya penyebaran paham radikal di zaman ini. Terlebih akses teknologi dan informasi harus dapat memberi pengaruh positif dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

"Karena masuknya (paham radikal) sistematis, pengelolaannya pun harus sistematis. Teknologi diharapkan dapat menjadi bagian mencerdaskan kehidupan bangsa kita," ucap Boy.

"Siapa yang dapat membuat penguatan itu, tentu kita semua," imbunya.

Sebelumnya, Komisi III DPR RI menggelar rapat kerja bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terkait evaluasi kinerja 2021. Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar menyampaikan temuan 600 akun. Adapun konten dari akun-akun tersebut tentang propaganda, termasuk anti-NKRI.

"BNPT telah melakukan monitoring terhadap situs akun di dunia maya yang berpotensi mengandung paham radikal, berdasarkan monitoring yang dilakukan dengan internal BNPT dikerjasamakan dengan stakeholder, termasuk Kominfo, kami telah mencatat setidaknya ada 600 akun berpotensi radikal dengan rincian konten propaganda 650," kata Boy saat rapat kerja bersama Komisi III DPR RI, Selasa (25/1).

Boy merinci sebanyak 409 di antaranya berisi konten informasi serangan. Selain itu, kata dia, 147 konten bertemakan anti-NKRI.

"Di mana 409-nya adalah konten yang bersifat umum dan merupakan konten informasi serangan, 147 konten anti dengan NKRI, 7 konten intoleran, 2 konten berkaitan dengan paham takfiri," paparnya.

(rak/zap)