Rocky Gerung Sindir Pemindahan IKN: Mana Ada Mimpi Sukarno Gusur Orang?

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 26 Jan 2022 22:02 WIB
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) disebutkan mewujudkan cita-cita presiden pertama RI, Sukarno, terkait pemindahan ibu kota negara (IKN). Peneliti Perhimpunan Demokrasi (P2D), Rocky Gerung, menepis hal tersebut.

"Kalau Presiden Sukarno sadar dari mimpinya, ditempeleng itu Presiden Jokowi, karena bukan itu konsepnya, kan (Jokowi) nggak ngerti," ujar Rocky Gerung dalam acara 'Adu Perspektif: Ibu Kota Nusantara, Antara Realita dan Utopia' yang disiarkan di detikcom, Rabu (26/1/2022).

"Ini (pemindahan ibu kota) menggusur, mana ada Sukarno menggusur orang?" lanjut Rocky.

Rocky mengatakan cara Sukarno melihat bangsa berbeda dengan Jokowi. Sukarno, sebut Rocky, mengutamakan keakraban, bukan menggusur.

"Alasan Bung Karno (ibu kota negara) pindah apa? Semua itu, tidak ada yang disebut perspektif Jokowi, sama sekali nggak ada. Karena ini ambisi aja dan nggak ada nilainya," jelasnya.

Rocky menyoroti cara Jokowi memindahkan ibu kota baru dengan menggusur penduduk asli.

"Bagaimana mungkin menggusur orang asli di situ? Menggusur pohon, menggusur cacing dari situ, kan keindahan itu yang mestinya jadi perspektif," imbuh Rocky.

"Kalau mimpi Bung Karno itu seorang yang estetik, paham seni, Jokowi nggak paham seni. Cara amplas meja Jokowi paham, tapi apa fungsi meja secara estetik, Jokowi nggak paham, itu bedanya Jokowi dengan Bung Karno," lanjutnya.

Beberapa hari ke belakang, beredar 'Buku Saku Pemindahan IKN' yang dikeluarkan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Dalam buku itu dijelaskan mengenai latar belakang pemindahan IKN tersebut. Tertera bahwa Presiden Jokowi melakukan itu karena mewujudkan cita-cita presiden pertama RI, Sukarno.

Dalam buku tersebut dijelaskan juga bahwa setidaknya ada 3 mantan Presiden RI yang memiliki rencana yang sama. Pada 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah menyodorkan skenario, mempertahankan Jakarta sebagai ibu kota, tapi direncanakan dan dibangun benar-benar, atau memindahkan pusat pemerintahan keluar dari Jakarta.

Kemudian pada 1997, Presiden Soeharto mengeluarkan Keppres Nomor 1 Tahun 1997 tentang koordinasi pengembangan kawasan Jonggol sebagai kota mandiri. Dimaksudkan awalnya untuk pusat pemerintahan.

Mundur jauh ke belakang, pada 1957, Presiden Sukarno menggagas pemindahan Ibu Kota Negara ke Palangka Raya, saat meresmikan kota tersebut sebagai ibu kota Kalimantan Tengah (Kalteng).

(isa/jbr)