Polri Beberkan 4 Ciri Orang Terpapar Ekstremisme-Terorisme

Mulia Budi - detikNews
Rabu, 26 Jan 2022 17:37 WIB
Direktur Keamanan Negara (Kamneg) Badan Intelijen dan Keamanan (BIK) Polri, Brigjen Umar Effendi (tangkapan layar)
Direktur Keamanan Negara (Kamneg) Badan Intelijen dan Keamanan (BIK) Polri, Brigjen Umar Effendi (tangkapan layar)
Jakarta -

Polri mengungkap sejumlah ciri atau tanda seseorang terpapar ekstremisme dan terorisme. Ciri-ciri tersebut diperoleh berdasarkan hasil penelitian hingga studi kasus.

"Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian serta studi kasus yang terjadi, terdapat beberapa ciri-ciri apabila seseorang individu ataupun komunitas yang telah terpapar paham ekstremisme dan terorisme," ujar Direktur Keamanan Negara (Kamneg) Badan Intelijen dan Keamanan (BIK) Polri, Brigjen Umar Effendi, dalam Halaqah Kebangsaan MUI, Rabu (26/1/2022).

Umar menjelaskan terdapat 4 ciri seseorang terpapar ekstremisme dan terorisme. Salah satunya intoleran.

"Akan menunjukkan sikap maupun pemikiran yang pertama intoleran, yaitu tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain, tapi kalau dalam diskusi internal kita ada bantah-bantahan nggak apa-apa Pak, jangan jadi dianggap baru diskusi ngotot-ngototan, 'wah kamu intoleran'," ujarnya.

"Kemudian, fanatik, selalu merasa benar sendiri dan menganggap yang lain salah. Berikutnya adalah eksklusif, memisahkan dan membedakan diri dari kelompok pada umumnya. Yang berikutnya adalah revolusioner menghendaki adanya perubahan kehidupan atau pemerintah secara cepat dan drastis dengan cara kekerasan atau pemaksaan kehendak," jelasnya.

Selain itu, dia menjelaskan, dalam mengurangi penyebaran paham ekstrem, MUI melakukan optimalisasi Islam Washatiyah.

"Yang pertama, memahami moderasi dalam beragama tanpa melanggar syariat agama, yakni menerapkan cara pandang dan bersikap dalam kehidupan beragama yang melindungi martabat kemanusiaan, membangun kemaslahatan umat berlandaskan prinsip adil, berimbang dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa," ujarnya.

"Yang kedua mensyukuri bahwa kebinekaan sebagai anugerah dari Allah serta pentingnya wawasan kebangsaan dan wawasan keagamaan berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila. Ketiga, ikut menjadi penggerak yang mampu mengajak umat dalam mencegah berkembangnya paham radikalisme dan terorisme. Keempat, selalu bertabayun dan mampu memfilter informasi yang diterima, sehingga tidak mudah terprovokasi atau ikut menyebarkan berita atau konten hoaks yang menyesatkan umat," jelasnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan ada fenomena terorisme di Indonesia yang berbeda dengan negara lain. Di Indonesia, tutur Umar, satu keluarga bisa menjadi pelaku terorisme.

"Di negara lain itu pelaku teror mungkin masih tidak bersatu dalam keluarga, mungkin ada yang anak-anak, mungkin ada yang perempuan, ada dewasa, tapi di Indonesia ini sudah terjadi pelaku teror ini satu keluarga lengkap bapak, ibu, anak, ini perlu menjadi perhatian kita semua, di negara lain sepertinya belum ada, di Indonesia sudah ada," ucap Umar.

"Siapa kira-kira jadi sasaran BPET (Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme) ini salah satunya ya ibu-ibu yang di rumah yang waktu luang pegang gadget buka sana-sini akhirnya terpapar, ini salah satu menjadi perhatian kita nanti ke depan," katanya.

(isa/isa)