Curhat Sopir Taksi Puskopau Tak Ada Penumpang Imbas Revitalisasi Bandara Halim

Wildan Noviansah - detikNews
Rabu, 26 Jan 2022 15:58 WIB
Sopir taksi Puskopau di Bandara Halim Perdanakusuma (Wildan/detikcom)
Sopir taksi Puskopau di Bandara Halim Perdanakusuma. (Wildan/detikcom)
Jakarta -

Pilu nasib sopir taksi Pusat Koperasi Angkatan Udara (Puskopau) Halim Perdanakusuma yang terancam tidak mendapat penumpang karena bandara ditutup sementara imbas revitalisasi. Para sopir mengungkap hal itu berpengaruh terhadap pendapatannya.

Hal itulah yang dialami Arpan (51), salah seorang sopir taksi Puskopau. Penutupan sementara bandara membuat dia dan teman-temannya menganggur sejak pagi alias belum mendapat penumpang.

"Imbasnya sangat berpengaruh pada pengemudi angkutan, terutama taksi reguler. Ya nganggurlah. Belum (ada orderan) sama sekali, tidak ada dari kemarin," kata Arpan kepada detikcom di lokasi, Rabu (26/1/2022).

Arpan mengatakan sejak pagi ada puluhan taksi Puskopau yang siaga di area bandara. Namun, makin siang mereka mulai pergi untuk mencari penumpang di luar bandara.

"Karena mayoritas teman-teman masih beranggapan masih ada pendaratan hari ini. Namun, setelah dikonfirmasi kepada petugas, hari ini tidak ada pendaratan di Halim Perdanakusuma," kata Arpan.

"Tadinya ini sampai ada 40 unit, dua-tiga orang mulai keluar," imbuhnya.

Arpan mengatakan mau tidak mau para sopir harus mencari penumpang di luar bandara. Sebab, mereka harus memenuhi setoran.

"Rp 310 ribu per hari tadinya. Karena ditutup bandara, manajemen mengambil keputusan setoran diturunkan jadi 150 ribu, baru berlaku dari kemarin tanggal 25," kata dia.

"Namun, dengan begitu juga pengemudi juga nggak sanggup, ini udah banyak yang turun. Cuma dengan 150 ribu pun walaupun hanya baru mencoba satu hari, tapi beberapa teman sudah merasa angkat tangan, sudah nggak kuat," lanjut Arpan.

Arpan mengatakan setoran yang tidak dibayarkan akan menjadi utang ke manajemen. Jika sampai 5 hari tidak ada setoran, sopir Puskopau terancam diberhentikan sementara.

"Karena di sini kan sistemnya utang. Kalau pada hari ini tidak bisa setor hanya dapat sekian, setoran nya jadi hutang, begitu juga seterusnya. Kalau kita sampai hutang 5 atau 6 hari, kita akan di berhentikan sementara, kalau kita mau kerja lagi, kita harus bayar itu, beratnya di situ," ujarnya.

Bahkan, menurut Arpan, ada beberapa sopir yang sudah lebih dulu menyatakan berhenti dan balik ke kampung. Mereka yang pulang khawatir tidak dapat memenuhi setoran seperti biasa.

"Ada sebagian bertahan, tapi teman-teman yang memang tidak memiliki gantungan di akan memilih turun dan pulang kampung sementara. Mungkin berani di kampung. Beberapa orang sudah pulang ke daerah Kuningan, ke Brebes," kata dia.

"Cuma ya kita-kita disini, yang berdomisili di daerah Jabodetabek ini kita mau ke mana, kita serba terjebak, dilanjutkan menambah luka, tidak dilanjutkan malah setengah mati," imbuhnya.

Seperti yang direncanakan Kamto (40). Dia berencana pulang kampung jika situasi tidak lagi memungkinkan.

"Saya akan pulang kampung ke Cianjur. Saya lihat situasi di sini udah nggak bisa, jadi pulang," ujar Kamto.

Kamto berharap manajemen Puskopau bisa memberikan solusi terbaik bagi para supir imbas penutupan sementara Bandara.

"Sementara mudah-mudahan pihak manajemen kami bisa memberikan solusi terbaik bagi kami nantinya sebelum itu dibuka. Apalagi sebentar lagi masuk ke bulan Ramadhan, terus lebaran. Kebutuhan untuk yang berkeluarga itu sangat tinggi. Kita tidak berpikir untuk diri kita, tapi anak istri," kata dia.

Lebih lanjut, dia berharap pengerjaan revitalisasi Bandara Halim Perdanakusuma bisa diselesaikan sesuai target yang sudah ditentukan, yakni selama 3.5 bulan. Dengan demikian, dia dan sopir lainnya bisa kembali beroperasi dengan normal.

"Mudah-mudahan waktu yang telah ditentukan, mudah-mudahan tepat, tidak molor proyeknya, agar Halim-nya dibuka kembali, kami bisa berorientasi di Halim," ujarnya.

(eva/eva)