Sebutan Orang Dekat Istana Dibalas Pangkostrad Maruli 'Apa Salahnya?'

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 26 Jan 2022 07:19 WIB
Mayjen Maruli Simanjuntak ditunjuk Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa menjadi Pangkostrad. Sebelumnya, dia menjabat sebagai Pangdam IX/Udayana. (dok FB Kodam IX/Udayana)
Mayjen Maruli Simanjuntak (dok FB Kodam IX/Udayana)
Jakarta -

Mayjen Maruli Simanjuntak menanggapi santai anggapan penunjukannya sebagai Pangkostrad lantaran ada kedekatan dengan Istana. Pertanyaan 'apa salah?' pun terlontar dari menantu Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan itu.

Penilaian sebagai orang dekat Istana itu muncul usai Maruli didapuk sebagai Pangkostrad. Maruli ditunjuk untuk menduduki bangku Pangkostrad yang kosong usai ditinggal Jenderal Dudung Abdurachman menjadi KSAD.

Effendi: Apa yang Dekat Presiden Saja yang Punya Kesempatan?

Penilaian sebagai 'orang dekat Istana' itu salah satunya datang dari anggota Komisi I DPR RI Effendi Simbolon. Effendi awalnya menilai penunjukan Maruli sebagai Pangkostrad atas pertimbangan objektif dan subjektif Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa dan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dia lantas menyinggung hanya orang yang dekat Presiden Jokowi yang dipilih menduduki posisi strategis di TNI.

"Secara objektif dan subjektif pasti itu menjadi pertimbangan Panglima dan KSAD dan panglima tertinggi presiden. Kita so far percayakan itu suatu keputusan yang tepat tetapi jangan kemudian ini tidak mendengar, melihat, bahwa ini mempengaruhi juga psikologis dari prajurit sendiri, perwira sendiri, mereka-mereka itu kan pasti punya rasa juga," kata Effendi kepada wartawan, Sabtu (22/1).

"Apa iya hanya mereka-mereka saja yang punya kesempatan? Apa iya karena mereka yang dekat melayani presiden saja yang punya kesempatan? Apa kami kalau tidak kenal presiden tidak punya kesempatan. Itu harus juga dibangun untuk menampung aspirasi yang berkembang walaupun kita tahu Jendral Dudung itu kedekatannya belum lama. Tapi oleh karena hal yang oleh Presiden dilihat memang dibutuhkan, maka beliau dipilih menjadi Pangkostrad kemudian diangkat sebagai KSAD," lanjutnya.

Effendi lalu berharap TNI bisa mengedepankan manajemen meritokrasi dalam memilih prajurit yang akan ditempatkan pada jabatan strategis ke depan. Kebijakan manajemen meritokrasi itulah yang dapat mendorong jiwa korsa yang sehat tetap dapat terbangun di tubuh TNI.

"Memang tidak semua (dekat dengan presiden) tapi lebih baik lah TNI harus menjadikan masukan untuk lebih mengedepankan manajemen yang berbasis meritokrasi. Siapapun dia sepanjang hasil rekamnya bagus ya go a head. Mereka adalah para prajurit pejuang yang punya kepastian, pengabdian dan loyalitas yang prima agar terbangun korsa itu yang sehat," ujarnya.

Effendi juga menyinggung, jika yang ditunjuk mengisi jabatan strategis hanya orang tertentu, tidak tertutup kemungkinan akan terjadi kerusakan moral atau demoralisasi di TNI. Dia berharap hal tersebut bisa menjadi perhatian.

"Kalau orangnya itu-itu aja itu kan pasti terjadi demoralisasi. Nah ini kan akan mengganggu keberlangsungan TNI itu sendiri. Jadi itu juga harus jadi perhatian kita semua, perhatian presiden khususnya di TNI ya. Bagaimanapun kita tahulah suara hati mereka-mereka yang satu angkatan, apalagi yang lintas angkatan. Mereka harus harmoni, kita terbuka ajalah siapa pun pasti ingin jenderallah, siapa sih nggak ingin jenderal dan menjabat juga jabatan-jabatan strategis," imbuhnya.

Simak respons Mayjen Maruli di halaman selanjutnya.

Lihat Video: Mayjen Maruli Simanjuntak akan Dilantik Jadi Pangkostrad Pada 31 Januari

[Gambas:Video 20detik]