Puan Maharani Disindir Kader Demokrat, Gus Falah Angkat Bicara

Muhamad Yoga Prastyo - detikNews
Selasa, 25 Jan 2022 23:01 WIB
Gus Falah (Dok. Pribadi).
Foto: Gus Falah (Dok. Pribadi).
Jakarta -

Anggota DPR Fraksi PDIP, Nasyirul Falah Amru angkat bicara terkait pernyataan Deputi Bapilu Partai Demokrat, Kamhar Lakumani yang menyindir Ketua DPR, Puan Maharani. Sindiran tersebut terkait momen ketika salah satu anggota Demokrat melakukan interupsi saat rapat paripurna pengesahan RUU Cipta Kerja tahun 2020.

Kamhar membandingkan arahan Ketum PDIP, Megawati Soekarnoputri yang mengancam kadernya bila menginterupsi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menjadi presiden, dengan sikap Puan saat mematikan mikrofon ketika anggota Fraksi Demokrat melakukan interupsi,

"Setiap interupsi sudah dikasih kesempatan. Tapi kalau pihak yang sama interupsi berkali-kali, gimana? Kan ada batasan interupsi," kata Nasyirul dalam keterangan tertulis, Selasa (25/1/2022).

Pria yang juga akrab disapa Gus Falah itu meminta kader Demokrat untuk melihat secara utuh video yang menampilkan momen saat insiden mikrofon itu terjadi. Ia pun menegaskan, Puan bersama pimpinan rapat paripurna lainnya sudah mengakomodasi seluruh fraksi yang ada di DPR, termasuk Demokrat.

"Dalam kasus insiden mikrofon ini, Demokrat kan sebenarnya sudah mengikuti pembahasan UU Cipta Kerja di semua tahapan. Baik dalam rapat kerja, Panja, tim khusus, bahkan Badan Musyawarah (Bamus). Mbak puan saat itu hanya membantu mengatur lalu lintas interupsi dalam rapat paripurna supaya teratur," jelas Gus Falah.

Seperti diketahui, insiden mikrofon ini terjadi saat salah satu Anggota Fraksi Demokrat yang bernama Irwan hendak menyampaikan interupsi. Awalnya interupsi tersebut mendapatkan izin dari Azis Syamsuddin yang kala itu masih menjabat sebagai Wakil Ketua DPR.

Menurut Gus Falah, tindakan Puan Maharani mematikan mikrofon tersebut untuk memenuhi permintaan Azis Syamsuddin yang hendak memotong interupsi Irwan. Hal ini terjadi karena Irwan dinilai mempunyai pendapat yang sama seperti perwakilan Fraksi Demokrat lain yang sudah disampaikan terlebih dahulu.

"Mayoritas fraksi sudah menyepakati pengesahan UU Cipta Kerja. Demokrat kalah suara tapi masih terus memaksakan argumennya, dan itu pun masih difasilitasi pimpinan sidang karena sudah diberi izin beberapa kali menyampaikan interupsi," tambahnya.

Ia juga menyangkal upaya Demokrat dalam membandingkan cara Megawati dengan Puan. Menurut pria yang juga menjabat sebagai Anggota Komisi VII DPR itu, hal tersebut sangat tidak tepat. Sebabnya, sikap Megawati untuk menghormati SBY dalam Sidang Tahunan peringatan HUT RI di MPR/DPR tidak bisa dibandingkan dengan rapat paripurna biasa.

"Kader Demokrat itu tidak paham konteks. Mas Pramono Anung sedang bahas konteks sikap Bu Mega menghormati agenda negara, malah dibawa ke sidang internal DPR," tegas Gus Falah.

Sebelumnya, diberitakan bahwa Pramono Anung mengungkap ancaman pemecatan oleh Megawati terhadap kader PDIP di DPR yang berencana menginterupsi SBY ketika tengah menyampaikan Nota Keuangan dalam momen HUT RI. PDIP yang kala itu berstatus sebagai oposisi pemerintahan SBY dinilai masih tetap menjunjung etika politik dan konstitusi.

"Jadi seperti yang saya sampaikan di dalam maupun di luar kekuasaan, Bu Mega selalu mengajarkan konstitusi. Bahkan pernah kejadian di tahun 2005 atau 2006, waktu itu teman-teman akan melakukan interupsi pada sidang 17 Agustus pada waktu presiden menyampaikan nota keuangan," ungkap Pramono Anung

"Ibu marah sekali dan memberikan perintah pada waktu itu, saya masih Sekjen, siapa pun yang melakukan interupsi kepada presiden waktu itu, Pak SBY, saya akan pecat saat itu juga," tambahnya.

(akn/ega)