Pengacara Didit Wijayanto Wijaya Didakwa Rintangi Penyidikan Korupsi LPEI

Zunita Putri - detikNews
Selasa, 25 Jan 2022 16:57 WIB
Sidang Didit Wijayanto Wijaya
Sidang Didit Wijayanto Wijaya (Zunita/detikcom)
Jakarta -

Pengacara Didit Wijayanto Wijaya didakwa melakukan perintangan penyidikan kasus korupsi Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Didit disebut jaksa memberi arahan kepada tujuh saksi agar tidak kooperatif ketika diperiksa jaksa di kasus penyidikan LPEI.

"Terdakwa Didit Wijayanto Wijaya bersama-sama Indrawijaya Supriadi, Amri Alamsyah, Creisa Ryan Gara Savada, Eko Madiasto, Mugi Gara Savada, Eko Madiasto, Mugi Lastiasi, Novlies Hendrawan, Rizki Armando Riskomar (dilakukan penuntutan secara terpisah) telah melakukan atau turut serta melakukan perbuatan dengan sengaja mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan perkara Tindak Pidana Korupsi penyelenggaraan Pembiayaan Ekspor Nasional oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)," ujar jaksa Try saat membacakan dakwaan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakpus, Selasa (25/1/2022).

Jaksa mengatakan Didit Wijayanto selaku pengacara memberi arahan kepada Indrawijaya Supriadi, Amri Alamsyah, Creisa Ryan Gara Savada, Eko Madiasto, Mugi Gara Savada, Eko Madiasto, Mugi Lastiasi, Novlies Hendrawan, Rizki Armando Riskomar, saat ketujuh orang tersebut diperiksa oleh penyidik. Menurut jaksa, arahan Didit tersebut masuk dalam kategori merintangi.

"Terdakwa Didit Wijaya bersama Indrawijaya Supriadi, Amri Alamsyah, Creisa Ryan Gara Savada, Eko Madiasto, Mugi Gara Savada, Eko Madiasto, Mugi Lastiasi, Novlies Hendrawan, Rizki Armando Riskomar, yang masing-masing diperiksa sebagai saksi dugaan korupsi LPEI untuk meminta penundaan pemeriksaan terhadap para saksi dalam pemeriksaan saksi-saksi oleh penyidik Tipidsus Kejagung RI agar para saksi tidak memberikan keterangan terkait materi pokok perkara dengan alasan meminta agar penyidik mencantumkan nama tersangka, mencantumkan pasal yang disangkakan dalam BAP saksi," kata jaksa.

"Serta meminta adanya perhitungan kerugian negara yang sudah pasti, sehingga penyidik pada saat memeriksa Indrawijaya Supriadi, Amri Alamsyah, Creisa Ryan Gara Savada, Eko Madiasto, Mugi Gara Savada, Eko Madiasto, Mugi Lastiasi, Novlies Hendrawan, Rizki Armando Riskomar tidak mendapat keterangan apa pun," lanjut jaksa.

Jaksa mengungkapkan, sebelum Indra dkk memberi keterangan, Didit melakukan briefing melalui Zoom kepada tujuh orang itu. Diketahui, ketujuh orang tersebut adalah klien Didit Wijaya.

"Terdakwa mengadakan pertemuan via Zoom Meeting membahas mengenai skenario yang dibuatkan oleh terdakwa Didit Wijayanto Wijaya yang kemudian dituangkan dalam tulisan tangan para saksi sendiri untuk niatnya dibaca dan menjadi jawaban para saksi sendiri untuk nantinya dibaca dan menjadi jawaban para saksi saat dilakukan pemeriksaan di depan penyidik yang pada intinya skenario yang disarankan oleh terdakwa Didit Wijayanto Wijaya yang kemudian dilaksanakan oleh para saksi," jelas jaksa.

Berikut ini arahan dan siasat Didit yang dinilai jaksa merintangi penyidikan:

1. Terdakwa Didit Wijayanto Wijaya menyampaikan kepada para saksi saat diperiksa penyidik agar 'tidak kooperatif diawal tetapi kemungkinan selamat, di pengadilan susah, lebih berat karena perkara tipikor'.

2. Terdakwa Didit Wijayanto Wijaya menyampaikan kepada para saksi saat pemeriksaan jangan masuk materi, cukup di formil saja, karena akan lebih sulit pembelaan kalau masuk ke materi pokok.

3. Terdakwa Didit Wijayanto Wijaya membuat 'skenario proses pemeriksaan di KJA ke-2' oleh IDCC dengan tujuan bila pada saat di BAP tetapi tidak ada isi materi BAP-nya, di mana skenario tersebut dibuat secara tertulis, kemudian saksi tuangkan/salin ulang dalam tulisan tangan saksi sendiri, sehingga semua pertanyaan penyidik dijawab sesuai 'skenario KJA ke-2' yang dibuat oleh terdakwa kemudian saksi-saksi salin ulang dengan tulisan tangan.

4. Terdakwa Didit Wijayanto Wijaya menyampaikan apabila menjawab pertanyaan yang dibutuhkan/sesuai penyidik dan menandatangani BAP maka nanti bisa seperti lotre untuk menjadi tersangka walaupun tidak salah.

5. Terdakwa Didit Wijayanto Wijaya memberi arahan kepada saksi untuk mencabut jawaban BAP penyelidikan yang sudah telanjur ditandatangani, sehingga BAP penyidikan saja yang dipakai.

Atas hal tersebut, Didit Wijayanto Wijaya didakwa melanggar Pasal 21 atau Pasal 22 Juncto Pasal 35 ayat 1 UU RI No 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU No 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 atau ke-2 KUHPidana.

Ajukan Eksepsi

Didit pun mengajukan eksepsi atau nota keberatan atas dakwaan jaksa.

"Saya akan mengajukan eksepsi atau nota keberatan," ujar Didit setelah mendengar dakwaan dari jaksa.

Sementara itu, pengacara Didit, Antoni Silo menilai dakwaan jaksa kabur. Antoni menilai kliennya tidak merintangi penyidikan kasus korupsi LPEI.

"Sejauh ini kami yakin gugatan ini kabur, bagaimana sih pikiran dan ansihat ditersangkakan, dipenjara, melakukan penyidikan tuh tugas dan kewenanagan jaksa, kalau advokat beri nasihat hukum ke klien kemudian dia menjadi tidak dapat keterangan apa yang salah dari tugas advokat, karena tugas kami beri nasihat hukum," kata Antoni.

Antoni meyakini kliennya tidak melakukan perintangan. Menurutnya, uraian perbuatan Didit yang dijabarkan jaksa itu hanya saran Didit sebagai pengacara.

"Kami perihatin terlalu dipaksakan advokat menjalankan tugas dianggap merintangi penydiidkan, Didit selalu hadir dan menghadirkan kliennya (saat pemeriksaan penyidikan)," ucap Antoni.

(zap/dwia)