ADVERTISEMENT

Tentang Rentenir Nanang Bikin Robin Ditegur Hakim dan Jaksa di Sidang

Tim Detikcom - detikNews
Senin, 24 Jan 2022 15:03 WIB
Azis Syamsuddin dituntut 4 tahun dan 2 bulan penjara. Selain itu, jaksa juga menuntut agar hak politik Azis Syamsuddin juga dicabut selama 5 tahun.
Foto: ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN
Jakarta -

Sosok seorang rentenir bernama Nanang disebut-sebut mantan penyidik KPK AKP Stepanus Robin Pattuju dalam persidangan. Perihal cerita Robin itu sempat membuat hakim mengeluarkan teguran dan kini giliran jaksa KPK yang menuding Robin berbohong.

Hal itu terjadi dalam persidangan pada Senin, 22 November 2021, sewaktu Robin masih duduk sebagai terdakwa perkara suap. Robin sendiri saat ini sudah divonis 11 tahun penjara serta hukuman itu telah berkekuatan hukum tetap atau inkrah.

Kembali mengenai sidang pada November 2021 ketika awalnya jaksa menanyakan soal penerimaan uang dari Aliza Gunado melalui mantan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin kepada Robin. Saat itu Robin menepis soal penerimaan uang sehingga membuat jaksa mengulang keterangan Robin dalam berita acara pemeriksaan atau BAP.

Berikut BAP yang dibacakan jaksa saat itu:

BAP: Sekitar 1-2 hari kemudian Maskur menghubungi saya dan mengatakan Aliza Gunado akan menjadi tersangka dan meminta untuk menyiapkan Rp 1,5 miliar. Setelah Maskur menyampaikan permintaan tersebut, maka malam hari bertemu dengan Azis Syamsuddin di rumah dinas beliau, dan pada saat itu saya menyampaikan Aliza akan menjadi tersangka agar menyiapkan uang Rp 1,5 miliar karena Aliza Gunado akan jadi tersangka.

Azis syamsuddin lalu mengatakan akan menyampaikan ke Aliza Gunado lalu saya mengatakan permintaan DP Maskur Husain sebesar Rp 300 juta lalu Azis berkata saya minta nomor rekening lalu saya berikan nomor rekening saudara Maskur setelah itu saya meninggalkan rumah dinas Azis Syamsuddin. Kemudian Azis menghubungi saya melalui aplikasi signal, kemudian mengatakan akan kirim uang Rp 200 juta ke rekening saudara Maskur Setelah Azis meminta rekening mandiri lalu saya carikan rekening mandiri atas nama Angga Yudistira, rekening itu saya minta dari Riefka Amalia.

Dan mengatakan ke Riefka akan ada yang mengirim uang ke rekening tersebut. Azis lalu menghubungi lewat aplikasi Signal dan mengatakan ke saya 'ini sudah saya kirim kirim Rp 100 juta', ya sudah nanti kami cek dulu setelah itu saya hubungi Riefka minta dicek, dan Riefka mengatakan sudah ada uang masuk Rp 100 juta, dan lalu Riefka mentransfer uang tersebut ke rekening BCA yang ATM-nya ada di saya.

Kira-kira seminggu kemudian saya dipanggil Azis ke rumah dinasnya, saya ke rumah Azis bersama Agus Susanto, setelah tiba di rumah dinas saya turun sendiri dan Agus menunggu di mobil lalu Azis mengatakan ini titipan Aliza Guando sambil menyerahkan amplop warna cokelat berisi uang dolar Singapura, tapi saya lupa berapa jumlah lembar dolar Singapura itu. Setelah saya menerima uang, lalu saya hubungi Maskur, dan mengatakan uang dalam dolar Singapura. Maskur lalu mengatakan agar menukar dulu uang money changer di Gajah Mada, hasil penukaran uang dolar Singapura itu senilai Rp 1,5 miliar.

Terkait BAP itu, Robin mengakui pernyataan di BAP itu adalah pernyataannya saat diperiksa penyidik. Namun, Robin mengaku terpaksa menyampaikan itu karena ketakutan kepada seseorang bernama Nanang.

"Dari mana tahu sehingga bisa menerangkan seperti itu?" tanya jaksa KPK.

"Saya ketakutan terhadap orang yang kasih pinjaman uang, yaitu Nanang, karena saya berpikir kalau saya buka keterangan soal Nanang akan membahayakan nyawa saya," kata Robin.

"Kenapa di persidangan untuk umum membuka Nanang?" ucap jaksa.

"Saya merasa keluarga saya sudah aman," kata Robin.

Nanang sendiri di persidangan ini tidak terungkap sosoknya. Robin hanya menyebut Nanang sebagai seorang rentenir yang memiliki teman preman.

Nanang, kata Robin, adalah orang yang meminjamkan uang ke Robin. Dia pun membantah dia menerima uang dari Aliza Gunado melalui Azis sebagaimana BAP tersebut.

Robin sendiri saat ini tidak tahu Nanang itu di mana. Dia mengaku hanya pernah bertemu Nanang di salah satu supermarket yang letaknya disamping gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan.

"Saya tidak tahu dia (Nanang) di mana dan saya tidak mencoba mencari. Nanang pernah ke kantor ke KPK mencari saya di April awal, di Pojok Halal, saya bilang bertemu Pojok Halal, April 2021, terancam nyawa keluarga saya karena saya tahu Nanang bergaul dengan preman," ucapnya.

"Polisi kok takut sama preman?" tanya jaksa.

"Kan saya tidak bisa 24 jam menjaga keluarga saya," kata Robin.

Hakim Sebut Robin Ngarang Cerita

Setelah Robin panjang-lebar mengaku ketakutan kepada sosok Nanang, hakim anggota Jaini Bashir pun mencecar Robin.

Hakim Jaini geram atas pengakuan Robin yang menyebut nama Nanang itu. Jaini bahkan mengaku ragu akan kesaksian Robin yang membawa-bawa sosok Nanang tanpa diketahui identitas jelasnya.

"Saudara jangan ngarang-ngarang ada polisi takut sama rentenir, aneh. Kalau cerita yang ngarang yang benar dari awal dikarang, ngarangnya jangan tanggung-tanggung cerita kok aneh-aneh di sini. Nggak ada cerita yang aneh-aneh," kata hakim Jaini.

Jaini menilai keterangan Robin berbeda dengan sejumlah saksi. Dia menyebut Robin mengarang cerita tentang sosok Nanang yang disebut meminjamkan dia duit itu.

"Silakan, kami juga punya keyakinan karena dari awal Rita juga sudah cerita dia tidak mengakui duit yang diberikan Azis Syamsuddin, Aliza juga begitu, pemberian jumlahnya mirip yang diakui itu, yang Saudara karang-karang dari Nanang kan nggak ada," tegas hakim Jaini.

Simak video 'Jaksa Soroti Sumpah Mubahalah Azis Syamsuddin di Sidang Tuntutan':

[Gambas:Video 20detik]



Sosok Nanang Diungkit Robin

Bahkan dalam sidang selanjutnya pada Senin, 20 Desember 2021, Robin masih mengungkit soal Nanang. Kala itu hakim anggota Jaini lagi yang mencecar soal ini.

"Sesudah dari rumah terdakwa, saudara pulang bawa uang?" tanya hakim Jaini.

Robin mengaku tidak pernah membawa tas berisi uang setelah dari rumah Azis Syamsuddin. Dia mengaku pernah sekali membawa tas isi uang setelah dari rumah Azis, tapi uang itu bukan diterima oleh Azis melainkan dari orang bernama Nanang.

"Saya ke rumah terdakwa, sebelum masuk (rumah Azis) saya ambil uang," kata Robin.

"Uang dari siapa yang di luar Saudara ambil? Ketemu di mana?" cecar hakim Jaini.

"Dari Saudara Nanang, Yang Mulia, (ketemu) di dekat lampu merah," ucap Robin.

"Kayak dagang obat pinggir jalan aja Saudara dapat duit di pinggir jalan, aneh. Uang itu banyak lho, kalau menurut saksi Agus Susanto setelah antar mobil di dalam Saudara turun 5 menit nggak sampai, terus pulang," tegas hakim Jaini Bashir.

Hakim Jaini pun meminta Robin tidak mengarang cerita. Dalam sidang ini, Robin mengaku takut kepada sosok Nanang karena Nanang adalah rentenir yang memiliki banyak teman preman.

Hakim pun menyebut pengakuan Robin itu tidak jelas. Diketahui, hakim Jaini juga hakim pengadil dalam perkara AKP Robin.

"Kan saudara di perkara lain kita yang periksa. Jadi kita tahu, jadi jangan dibuat-buat alibi yang aneh-aneh. Saudara kan penyidik, rentenir itu paling takut sama polisi karena dia nggak ada izin. Kan aneh minjam duit Rp 5 miliar tanpa jaminan, polisi takut sama preman, pulang aja kampung, nggak jelas kan," tegas hakim Jaini Bashir.

Jaksa Yakini Sosok Nanang Cerita Bohong dari Robin

Waktu berlalu hingga Azis Syamsuddin dituntut jaksa. Azis Syamsuddin sendiri didakwa jaksa memberikan suap ke Robin

Dalam surat tuntutan yang dibacakan, jaksa tak lupa menyinggung sosok Nanang yang selalu diungkit Robin. Apa kata jaksa?

AKP Robin menyebut Nanang memberikan uang USD 100 ribu dan sejumlah uang dolar Singapura, namun kesaksian itu dimentahkan oleh jaksa. Menurut jaksa, uang yang diakui AKP Robin itu dari Nanang justru waktu penerimanya bertepatan dengan kesanggupan Robin mengurus penyelidikan KPK yang menjerat Azis Syamsuddin. Oleh karena itu, jaksa meyakini uang yang disebut Robin dari Nanang adalah dari Azis.

"Alasan Stepanus Robin Pattuju bahwa uang yang diterimanya dari Terdakwa secara tunai sejumlah USD 100.000 dan sejumlah uang dolar Singapura pada tanggal 5 Agustus 2020 di rumah dinas Terdakwa di Jalan Denpasar Raya 3/3, Jakarta Selatan, berasal dari seseorang rentenir bernama Nanang bukan dari Terdakwa nyata hanya suatu dalih, karena tidak ada satu saksipun selain Stepanus Robin Pattuju yang mengetahui keberadaan Nanang," ungkap jaksa saat membacakan tuntutan Azis Syamsuddin di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (24/1/2022).

"Bahwa saksi menerima uang-uang Nanang waktunya bertepatan dengan saksi menyatakan bisa mengurus Terdakwa. Bahwa penerimaan uang-uang oleh saksi, setelah ada pembicaraan dengan Terdakwa," lanjut jaksa.

Menurut jaksa, sosok Nanang ini adalah skenario yang dibuat AKP Robin dan Azis. Adapun hal yang menguatkan jaksa adalah keterangan mantan Bupati Kukar Rita Widyasari.

"Sebagaimana telah kami uraikan di atas, tegas Rita Widyasari menyampaikan bahwa setelah Stepanus Robin dan Maskur Husain ditangkap oleh KPK, Terdakwa (Azis Syamsuddin) pernah meminta Rita Widyasari via telepon untuk mengakui uang dolar yang ditukarkan Stepanus Robin di money changer, namun dikarenakan Rita Widyasari menolak, Rita kemudian diminta untuk menyampaikan apa adanya, dengan alasan Terdakwa sudah mempunyai skema/skenario lain untuk uang sekitar Rp 8.000.000.000,00 tersebut," papar jaksa.

Karena itu, jaksa menilai pernyataan Robin tentang Nanang di perkara Azis Syamsuddin ini patut dikesampingkan. Sebab, jaksa meyakini sosok Nanang ini tidak ada.

"Alasan Stepanus Robin Pattuju tidak menyebut nama Nanang selaku pemberi uang pada saat pemeriksaan Dewan Pengawas KPK, karena takut akan sosok Nanang nyata juga dalih karena di luar logika, sebab tegas Nanang hanya digambarkan sebagai seorang rentenir yang punya banyak teman preman, sedangkan Stepanus Robin merupakan seorang polisi yang mempunyai banyak teman polisi juga," tutur jaksa.

"Lebih lanjut, tegas Stepanus Robin tidak pernah menerangkan di depan persidangan bahwa dirinya pernah melapor kepada pihak yang berwenang institusi Kepolisian maupun KPK atas adanya ancaman dari Nanang terhadap diri dan/atau keluarganya. Dan jika pun benar bukan Terdakwa yang memberikan uang tersebut dan Stepanus Robin takut menyebutkan nama pemberi sebenarnya, Stepanus Robin Pattuju cukup tidak menjawab saja ketika ditanya dari pada menyampaikan fitnah," tambah jaksa.

(dhn/fjp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT