Alami Diskriminasi, Guru Tunarungu: Biarkan Saja!

Khairunnisa Adinda Kinanti - detikNews
Minggu, 23 Jan 2022 19:00 WIB
Jakarta -

Memiliki keterbatasan tentu bukan menjadi suatu halangan setiap manusia untuk tetap bisa berkarya. Terlahir dengan kondisi tunarungu, Ninuk Dwi Wuriyanti (41), berhasil melahirkan karya-karya indah dari imajinasi dan jari-jemarinya.

Ninuk adalah guru tunarungu yang mengajar mata pelajaran tata busana di Yayasan Santi Rama. Dulunya, Ninuk juga menuntut ilmu di yayasan yang terletak di Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan tersebut.

"Awalnya saya tidak ada niatan untuk menjadi guru. Dulu saya berencana untuk membuka usaha butik, tapi harus ada modal dulu. Kemudian saya berpikir untuk melamar pekerjaan," ujar Ninuk dengan bahasa isyarat dalam program Sosok.

Kini telah banyak siswa yang dididik dari gerakan jari Ninuk. Garis tangan yang tak pernah diperkirakan oleh ibu kandung Ninuk, Hj. Zainiah (69) . Ia pun bercerita tentang pahit getirnya membesarkan Ninuk.

Sejak Ninuk umur 3 tahun, Hj. Zainiah sudah khawatir dengan keadaan anaknya yang belum bisa berbicara. Segala usaha dilakukan untuk mengetahui kondisi sang buah hati.

"Saya bawa ke rumah sakit bagian saraf, bagian THT. Terakhir tuh saya dapat surat dari THT, disuruh bawa ke Rumah Sakit Gatot Soebroto. Di bagian BERA (Pemeriksaan Telinga). Ninuk diperiksa hanya diajak main saja. Tapi memang baru ketahuannya di situ, kalau Ninuk ada saraf telinganya yang terganggu." ujar Hj. Zainiah

Dari kecil Ninuk tumbuh di lingkungan dengan orang-orang yang merasakan hal serupa, yaitu tidak bisa mendengar. Namun, keputusannya ketika lulus SMA, membuat sang ibu sedikit khawatir.

"Saya tanya, 'Kamu mau kuliah? Sedangkan kamu tuh sekolahnya di Santi Rama tuh semuanya anaknya sama. Pendengarannya sama. Kalau di kuliah kan anaknya normal semua. Kamu sanggup kuliah?'Ninuk jawab, 'InsyaAllah saya kuat. Saya bisa. Mamadoain saja'. Ya kita sebagai orang tua kan hanya mendukung ya biar anak kita maju," cerita Hj.Zainiah sambil menangis.

Ninuk telah memegang gelar D3 di ASRIDE ISWI Jurusan Desain Model dan gelar S1 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jurusan Pendidikan Tata Busana. Semasa kuliah dan belajar di lingkungan baru, Ninuk tak menampik tindakan diskriminasi yang ia alami.

"Ketika masuk dunia perkuliahan dan bertemu dengan orang dengar, ada rasa minder karena cara berkomunikasinya berbeda. Saya mencoba untuk berbaur, ada yang merespon, ada yang cuek. Ya saya biarkan saja," imbuh Ninuk.

(vys/ids)