Saat 3 Insan Tuna Netra Dipersatukan Lewat Quran

Khairunnisa Adinda Kinanti - detikNews
Minggu, 12 Des 2021 06:26 WIB
Jakarta -

Setiap ibu yang mengandung, pasti menginginkan yang terbaik bagi si calon buah hati, terlahir tanpa kurang suatu apapun. Namun, bagaimana jika Tuhan sudah berkehendak?

Seperti halnya Via Farahdila (19), perempuan asal Aceh ini sudah terlahir dengan keadaan tuna netra. Namun, Via tetap mau belajar tentang agama Islam dan belajar menghafal Al Quran.

Via mulai belajar Al Quran saat ia masih duduk di sekolah dasar (SD). Tapi diakui Via, saat itu dia tidak terlalu fokus karena masih terpengaruh dengan lingkungan. Ia pun baru serius mendalami ilmu agama dan Al Quran ketika tamat sekolah SMA.

"Saya mulai belajar Al Quran ketika saya SD. Cuma itu tidak terlalu fokus karena masih terpengaruh dengan lingkungan, dan masih ingin main-main. Pas saya SMA, ada salah satu pembimbing saya di sekolah itu sebelum saya masuk pesantren, itu mengajak saya untuk menghafal Al Quran. Alhamdulillah saya melewati 1 juz sama beliau waktu itu. Tapi semenjak itu, sempat berhenti lagi," cerita Via dalam program Sosok detikcom.

"Kemudian ketika saya tamat sekolah, ada informasi Sam'an ini. Sebelumnya saya tidak ada niatan untuk pesantren lagi, untuk belajar agama itu tidak ada niatan. Lalu ketika saya mendengarkan audio informasi Sam'an, saya jadi entah kenapa spontan gitu hati ingin ke Sam'an," lanjutnya.

Namun, ternyata tuna netra bisa menghampiri siapa saja, tanpa memandang usia dan latar belakangnya. Yaitu Seno Soemadi (38) dan Ahmad Zulfikar Alfarizi (27). Mereka adalah yang mengalami tuna netra di usia dewasa.

Seno, dulunya sempat bekerja di perusahaan kapal kontainer bendera Singapura. Semua berawal ketika Seno main gadget setiap hari. Selama di kapal, ia pun membeli kartu internet, agar bisa bermain game. Namun, karena perbedaan zona waktu antara Indonesia dan Afrika, ia nekat menghabiskan kartu internet tersebut agar tidak terbuang sia-sia.

"Kebetulan pada saat itu kapalnya servisnya ke Afrika Selatan di Durban. Pada saat itu tiba-tiba mata jadi buram. Setelah beberapa menit kemudian kembali lagi jadi normal. Setelah itu saya minta izin sama kapten saya untuk bisa turun dan dicek," ujar Seno.

"Dan ternyata ada pendarahan di mata saya. Itu yang menyebabkan syaraf retina saya jadi rusak. Itu bisa diakibatkan karena saya main gadget terlalu sering," lanjutnya.

Lain halnya dengan Ahmad Zulfikar Alfarizi, pria asal Tegal ini dulunya sempat kuliah di UII jurusan Ekonomi Pembangunan. Berawal dari Fariz ingin mengambil kunci motor di kolong lemari, dengan menutup satu mata agar penglihatannya tajam, namun ia malah merasakan ada yang aneh dengan matanya.

"Tapi ternyata mata saya yang kanan bagian tengahnya sudah tidak kelihatan. Kemudian saya berobat. Kemudian masuk bulan Desember, kesimpulan dari dokter, 'Kesimpulan dari saya adalah kamu harus jaga baik-baik mata kamu yang sebelah kiri. Ini akan menjadi harapan kamu ke depannya,'. Ini bahasa halus bahwa mata kanan saya tidak bisa kembali normal," cerita Fariz.

Kini, ketiganya menjadi santri di pesantren yang bernama Pesantren Tahfidz Quran Tuna Netra Sam'an Darushudur. Pesantren khusus tuna netra yang berada di Desa Cimenyan, Kabupaten Bandung ini sudah beroperasi sejak tahun 2018 dengan jumlah santri tuna netra 25 orang.

(fuf/gah)