Inspirasi

Ojol Tunarungu: 20 Meter Sebelum Belok, Silakan Tepuk Pundak Saya

Wisma Putra - detikNews
Minggu, 23 Jan 2022 12:45 WIB
Keterbatasan tak halangi semangat Hartono untuk mencari nafkah. Dengan motornya ia mengumpulkan rezeki sebagai seorang driver ojek online. Berikut kisahnya.
Driver ojol disabilitas, tunarungu, di Bandung . (Wisma Putra/detikcom)
Bandung -

Hampir sewindu, Hartono (38) yang merupakan penyandang tunarungu menjadi sopir ojek online (driver ojol). Sebelum pindah ke Kota Bandung, Hartono pernah menjadi driver ojol di kota kelahirannya, Surabaya.

Berbekal ponsel yang digunakan untuk mengoprasikan aplikasi dan sebuah stiker yang digunakan sebagai media komunikasi, Hartono bisa melayani pelanggan-pelanggannya. Dari mulai menarik penumpang, mengantarkan makanan atau paket.

Khusus untuk penumpang, Hartono memasang stiker di belakang helm miliknya, yang memiliki keterangan sebagai berikut:

SAYA TUNARUNGU/DEAF
Mohon Kerjasamanya
20 Meter Sebelum Belok: Tepuk Pundak Saya
Belok Kanan: Tepuk Pundak Kanan
Belok Kiri: Tepuk Pundak Kiri
Berhenti: Tepuk Keduanya
Terimakasih

Sekedar informasi, penyandang disabilitas yang menjadi driver ojol di Kota Bandung bisa dihitung dengan jari dan jumlahnya pun tidak lebih dari 20 orang.

"Saya (pasang stiker) di helm, ini kanan (sambil tepuk pundak kana), ini kiri (tepuk pundak kiri), ini setop (tepuk dua pundak) dan terimakasih," kata Hartono saat berbincang dengan detikcom di salah satu kafe di Jalan Sumbawa, Kamis (13/1).

Keterbatasan tak halangi semangat Hartono untuk mencari nafkah. Dengan motornya ia mengumpulkan rezeki sebagai seorang driver ojek online. Berikut kisahnya.Keterbatasan tak halangi semangat Hartono untuk mencari nafkah. Dengan motornya ia mengumpulkan rezeki sebagai seorang driver ojek online. Berikut kisahnya. Foto: Wisma Putra/detikcom

Hartono berujar, karena sekarang sudah ada aplikasi maps, dirinya tak merasa sulit untuk menemui penumpang. Dia tak bisa menerima telepon, hanya pesan WhatsApp (WA) saja.

"Nggak sulit, saya bisa cari orang, hanya bisa WA, tanya alamat orang muter," ujarnya.

Saat bertemu dengan penumpangnya, Hartono pun memperlihatkan stiker yang dipasang di helm miliknya.

"Saya tunarunggu, mohon kerjasama, 20 meter sebelum belok tepuk pundak saya," ungkapnya.

Keterbatasan tak halangi semangat Hartono untuk mencari nafkah. Dengan motornya ia mengumpulkan rezeki sebagai seorang driver ojek online. Berikut kisahnya.Keterbatasan tak halangi semangat Hartono untuk mencari nafkah. Dengan motornya ia mengumpulkan rezeki sebagai seorang driver ojek online. Berikut kisahnya. Foto: Wisma Putra/detikcom

Salah satu pengguna Gojek, Evi Damayanti (40) mengatakan jika dirinya kerap naik ojol dengan driver tunarungu.

"Saya sering naik ojek online penyandang tunarungu, ada di aplikasi juga memberikan keterangan drivernya tunarungu," kata Evi.

Sama halnya dengan Hartono, driver tunarungu lain juga kerap membawa stiker yang menyebutkan jika driver tersebut merupakan penyandang tunarungu.

"Pas nganter makanan juga dia bawa stiker, bahwa dia (penyandang tuna rungu), dia tidak mau membohongi konsumen," ujarnya.

Menurutnya, pelayanan driver ojol penyandang tunarungu sama dengan yang lainnya. "Sama, malah katanya pengen ngasih lebih," pungkasnya.

Tak mudah penyandang tunarungu menjadi driver ojol. Seperti Hartono, dirinya kerap menemukan penumpang yang sulit berkomunikasi dengannya hingga terjadi salah paham karena bahasa isyarat yang diberikan Hartono dianggap sebagai pesan 'mesum' oleh penumpang, khususnya penumpang perempuan. Cerita itu, akan dibahas di artikel berikutnya.



Simak Video "Pantang Menyerah Driver Ojol di Tengah Keterbatasan Disabilitas"
[Gambas:Video 20detik]
(wip/dnu)