Soal 'China Akan Gelar Perang Sebelum 2050', Legislator Yakin Negara Siap

Eva Safitri - detikNews
Minggu, 23 Jan 2022 11:19 WIB
Bobby Adhityo Rizaldi
Bobby Adhityo Rizaldi (Dok. Pribadi)

Menjawab pertanyaan itu, Andi berdalih pendapat pada 2010 karena didasari kondisi global waktu itu masih kondusif. Saat itu, AS dan China masih adem hingga muncul Trump yang meningkatkan eskalasi hubungan kedua negara.

"Kalau dilihat dari eskalasi dinamika ancaman yang terjadi, ya, memang ketegangan antarnegara besar di kawasan ini semakin meningkat, ya. Pada saat saya membuat tulisan itu tahun 2010, tidak ada kondisi‐kondisi yang terjadi antara misalnya Trump dengan China yang mengarah kepada trade world, yang mengarah kepada embargo perusahaan‐perusahaan IT‐nya China, embargo teknologi‐teknologinya China, tidak ada seperti itu," jawab Andi Widjajanto yang juga mantan Sekretaris Kabinet itu.

Selain itu, Andi menilai analisanya hubungan China-AS mereda setelah Biden naik menjadi Presiden AS meleset.

"Saya sebagai analisis hubungan internasional, tadinya menduga bahwa dengan kemunculan Biden dari Partai Demokrat akan ada peredaan ketegangan antara China dengan Amerika Serikat, dan ternyata tidak. Ketegangannya makin tinggi," ujar Andi.

Andi menilai China melakukan rencana strategis selama 70 tahun lebih. Tahap pertama dari 1980 sampai 2000. Tahap kedua, tahun 2000 sampai 2020. Tahap ketiga, tahun 2020 sampai 2050.

"Di tahap kedua, rensra-nya China 2000 sampai 2020 mereka siap menggelar kekuatan, memenangkan perang Laut Cina Selatan. Nanti di tahun 2020 sampai 2050, mereka siap menggelar kekuatan, menang perang di dua titik sekaligus sebagai patokannya. Yaitu Guam di Samudra Pasifik dan Diego Garcia di Samudra Hindia," beber Andi.


(eva/gbr)