Arahan Gus Yahya, PBNU Panggil PCNU Banyuwangi Urusan Kandidat Capres

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 23 Jan 2022 10:58 WIB
gedung PBNU
Gedung PBNU (Nu.or.id)
Jakarta -

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memanggil Ketua Pengurus Cabang NU (PCNU) Kabupaten Banyuwangi dan Sidoarjo terkait dengan dugaan keterlibatan politik praktis. Hal itu terkait pemberian dukungan bagi bakal calon presiden 2024.

"Atas arahan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, kami secara resmi memanggil Ketua Cabang NU Banyuwangi dan Sidoarjo," kata Ketua PBNU Amin Said Husni seperti dilansir Antara, Minggu (23/1/2022).

Pemanggilan tersebut tertuang dalam surat resmi yang ditandatangani langsung Ketua PBNU Amin Said Husni dan Wakil Sekretaris Jenderal Nur Hidayat.

Ketua PCNU Banyuwangi dipanggil setelah PBNU menerima laporan adanya agenda politik Pemilihan Presiden 2024 yang melibatkan PCNU Banyuwangi. Bahkan kegiatan itu juga digelar di Kantor PCNU Banyuwangi pada Rabu (19/1) dengan mendatangkan salah satu bakal calon presiden.

Dijelaskan pula bahwa pemanggilan PCNU Sidoarjo dilandasi adanya laporan kegiatan yang diinisiasi DPC PKB Sidoarjo serta melibatkan seluruh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) se-Kabupaten Sidoarjo.

Terkait dengan hal ini, Ketua PCNU Banyuwangi dan Sidoarjo diminta segera buat laporan tertulis dan lengkap serta dikirim secara langsung kepada Ketua Umum PBNU K.H. Yahya Cholil Staquf di Kantor PBNU.

Gus Yahya Tegaskan Tak Ada Capres-cawapres dari PBNU

Yahya Cholil Staquf terpilih menjadi Ketum PBNU yang baru. Sebelum menjadi Ketum, pria yang akrab disapa Gus Yahya ini sudah meminta jangan ada capres atau cawapres dari PBNU.

Dia bahkan akan menerapkan kebijakan agar Ketua Umum PBNU ke depan tidak ikut terlibat dalam kontestasi pemilihan presiden dan wakil presiden. Hal ini agar ke depan NU dapat kembali berperan sebagai penyangga sistem bagi keutuhan NKRI.

"Nahdlatul Ulama harus kembali sebagai penyangga sistem. Bahaya politik identitas ini sulit dicegah karena para politisi instan pasti akan selalu mencari sumber daya instan untuk mendapatkan dukungan. Cara paling instan yang mudah didapat adalah dengan memainkan identitas, terutama agama. Ini bahaya," kata Gus Yahya kepada tim Blak-blakan detikcom, Kamis (15/10/2021).

Nahdlatul Ulama, dia melanjutkan, sebetulnya punya potensi dan sudah puluhan tahun berpengalaman sebagai penyangga keutuhan NKRI. Ke depan, NU harus memainkan lagi fungsi ini. Syaratnya, menurut pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Tholibin, Rembang, itu, NU tidak boleh menjadi pihak di dalam sengketa politik agar fungsi sebagai penyangga bisa efektif.

"Tanpa itu, NU tak akan bisa lagi menengahi. Karena itu, saya tidak ingin ada pola capres atau cawapres dari PBNU supaya NU tidak menjadi pihak bila terjadi persoalan," kata Gus Yahya.

Simak Video 'Alasan Gus Yahya Libatkan Politikus di Kepengurusan PBNU':

[Gambas:Video 20detik]

(eva/gbr)