Janji Yahya Staquf Tak Ada Pola Capres-Cawapres dari PBNU

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 24 Des 2021 17:02 WIB
Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Foto: dok. panitia Muktamar)
Jakarta -

Yahya Cholil Staquf terpilih menjadi Ketum PBNU yang baru. Sebelum menjadi Ketum, pria yang akrab disapa Gus Yahya ini sudah meminta jangan ada capres atau cawapres dari PBNU.

Dia bahkan akan menerapkan kebijakan agar Ketua Umum PBNU ke depan tidak ikut terlibat dalam kontestasi pemilihan presiden dan wakil presiden. Hal ini agar ke depan NU dapat kembali berperan sebagai penyangga sistem bagi keutuhan NKRI.

"Nahdlatul Ulama harus kembali sebagai penyangga sistem. Bahaya politik identitas ini sulit dicegah karena para politisi instan pasti akan selalu mencari sumber daya instan untuk mendapatkan dukungan. Cara paling instan yang mudah didapat adalah dengan memainkan identitas, terutama agama. Ini bahaya," kata Gus Yahya kepada tim Blak-blakan detikcom, Kamis (15/10/2021).

Nahdlatul Ulama, dia melanjutkan, sebetulnya punya potensi dan sudah puluhan tahun berpengalaman sebagai penyangga keutuhan NKRI. Ke depan, NU harus memainkan lagi fungsi ini. Syaratnya, menurut pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Tholibin, Rembang, itu, NU tidak boleh menjadi pihak di dalam sengketa politik agar fungsi sebagai penyangga bisa efektif.

"Tanpa itu, NU tak akan bisa lagi menengahi. Karena itu, saya tidak ingin ada pola capres atau cawapres dari PBNU supaya NU tidak menjadi pihak bila terjadi persoalan," kata Gus Yahya.

Untuk diketahui, salah satu tokoh NU, KH Hasyim Muzadi, pernah maju dalam Pilpres 2004. Ia menjadi cawapres mendampingi Megawati Soekarnoputri.

Saat itu, Hasyim masih menjadi Ketua Umum Tanfidziyah PBNU. Namun Hasyim gagal menjadi wapres.

Ada juga KH Ma'ruf Amin, yang kini menjadi wapres Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ma'ruf Amin pernah menjadi Rais Aam NU.

Kembali ke penjelasan Gus Yahya. Dia menegaskan tak punya obsesi menjadi presiden. Andai ingin menjadi calon presiden sekalipun, dia merasa tak perlu menjadi pengurus, apalagi Ketua Umum PBNU. Sebab, dirinya tahu bagaimana cara mengkapitalisasi manuver untuk mendapatkan perhatian publik. "Saya dulu itu mau nyalon jadi anggota DPR saja nggak boleh sama Gus Dur, apalagi jadi presiden, ha-ha-ha...," seloroh putra sulung KH Cholil Bisri itu.

Dengan fokus menjadi Ketua Umum PBNU, Gus Yahya cuma berharap masih bisa masuk dalam janjinya Hadratussyeh KH Hasyim Asy'ari bahwa 'barang siapa mau ikut merawat NU, dia kuanggap santriku, dan barang siapa menjadi santriku, aku mendoakannya beserta seluruh keluarga dan keturunannya husnulkhotimah'.