Analisis BMKG soal Gempa M 6 Guncang Melonguane Sulut

Jabbar Ramdhani - detikNews
Sabtu, 22 Jan 2022 11:52 WIB
Petugas mengukur panjang amplitudo letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) dari data rekam seismograf di Pos Pengamatan GAK Pasauran, Serang, Banten, Kamis (27/12/2018). PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) menaikan status GAK dari WASPADA ke level SIAGA sejak Kamis (27/12) karena frekwensi letusan meningkat dengan amplitudo rata-rata 25 milimeter diiringi dentuman cukup keras. ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/hp.
Seismograf, alat perekam gempa (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)
Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memutakhirkan gempa bumi di Kabupaten Melonguane, Sulawesi Utara (Sulut), menjadi magnitudo (M) 6. BMKG menyatakan gempa tersebut terjadi akibat aktivitas sesar.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Bambang Setiyo Prayitno menjelaskan, berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa itu merupakan jenis gempa bumi dangkal.

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik mendatar (oblique thrust)," kata Bambang dalam keterangannya, Sabtu (22/1/2022).

Gempa terjadi pada pagi ini pukul 09.26 WIB. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 3,72 derajat Lintang Utara dan 126,78 derajat Bujur Timur.

Gempa berlokasi di laut pada jarak 34 km arah selatan dari Kota Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulut, pada kedalaman 66 km.

Guncangan gempa bumi ini dirasakan di Melonguane, Talaud, dalam skala III-IV MMI, yang artinya bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah.

Hasil pemodelan menunjukkan gempa bumi ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

"Hingga saat ini sudah ada laporan dampak kerusakan di Desa Pangeran, Pulau Kabaruan, yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut," ucapnya.

BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Masyarakat juga diminta menghindar dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.

"Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal Anda cukup tahan gempa ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum Anda kembali ke dalam rumah," imbau BMKG.

(jbr/bar)