Bertemu Dubes Ceko, Bamsoet Bahas Ibu Kota Nusantara hingga Investasi

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Sabtu, 22 Jan 2022 11:48 WIB
Bamsoet dan Dubes Ceko
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengapresiasi dukungan para duta besar, diplomat, dan investor dari berbagai negara terhadap rencana pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan Timur yang kini diberi nama Nusantara. Bamsoet mengatakan pihaknya juga tengah mengkaji Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) guna memastikan kesinambungan pembangunan IKN Nusantara.

Diketahui, Duta Besar Ceko untuk Indonesia, H.E. Mr. Jaroslav Dolecek mengaku siap mendukung IKN Nusantara menjadi kota dunia yang modern dan berkelanjutan. Namun menurutnya akan lebih merasa yakin dan nyaman jika ada aturan hukum yang memastikan progres pembangunan IKN Nusantara bisa tetap berjalan, meski Presiden Joko Widodo tidak lagi menjabat. Mengingat jika hanya diatur dalam undang-undang akan rawan diganti atau bahkan dihentikan melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu).

"MPR RI saat ini sedang menyelesaikan kajian terhadap Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN). Sehingga para duta besar, diplomat, dan investor tidak perlu khawatir terhadap proses pembangunan IKN Nusantara. Keberadaan PPHN akan memastikan kesinambungan pembangunan IKN Nusantara tidak hanya dilakukan di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, melainkan juga dilanjutkan oleh berbagai presiden penggantinya," kata Bamsoet dalam keterangannya, Sabtu (22/1/2022).

"Karena belajar dari berbagai pengalaman negara dunia, setidaknya membutuhkan waktu 10 hingga 20 tahun dalam proses pembangunan dan pemindahan Ibu Kota Negara, atau sekitar 2-4 kali Pemilu di Indonesia," lanjutnya.

Ketua DPR RI ke-20 dan mantan Ketua Komisi III DPR RI yang membidangi hukum, HAM dan keamanan ini menjelaskan, dalam pertemuan dengan Duta Besar Ceko untuk Indonesia, H.E. Mr. Jaroslav Dolecek di Jakarta, Kamis (20/1), keduanya sepakat untuk saling meningkatkan berbagai kerja sama, khususnya di bidang pertahanan.

Dikatakannya, kedua negara juga telah mengadopsi Perjanjian Kerja sama Pertahanan untuk alih teknologi dan produksi Alutsista, yang telah dimulai dengan produksi bersama Panzer. Pertemuan tersebut sekaligus juga mengundang industri pertahanan Ceko untuk berpartisipasi dalam Indo Defence Expo 2022 yang akan digelar pada November 2022 mendatang.

"Kita juga sepakat untuk mendorong penyelesaian perjanjian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang telah berlangsung sejak 2016. Momentum tahun 2022 sangat tepat, mengingat di tahun ini Indonesia memimpin G-20, sedangkan Ceko akan memimpin Uni Eropa (European Union). Uni Eropa merupakan mitra strategis Indonesia di bidang ekonomi. Nilai perdagangan bilateral pada periode Januari hingga Agustus 2021 mencapai USD 18,1 miliar, meningkat 8,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar USD 16,7 miliar. Nilai investasi Uni Eropa pada tahun 2020 mencapai USD 2,1 miliar," jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini juga menghargai dukungan Ceko terhadap minyak sawit berkelanjutan Indonesia yang sering mendapatkan diskriminasi dari Uni Eropa. Ia mengatakan, Indonesia sebagai sahabat baik senantiasa membuka banyak kesempatan untuk mempermudah investasi dari Ceko agar bisa masuk ke Indonesia. Khususnya pada sektor energi baru terbarukan, pengolahan limbah, infrastruktur, dan pembangunan private defence industry park.

"Investasi Ceko di Indonesia hingga triwulan II 2021 tercatat mengalami peningkatan hampir tujuh kali lipat menjadi USD 686 juta dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar USD 87 juta. Tersebar pada berbagai sektor, antara lain hotel dan restoran, jasa lain, serta pertanian dan peternakan," tuturnya.

Kepala Badan Hubungan Penegakan Hukum, Keamanan dan Pertahanan KADIN Indonesia ini juga mendorong agar nilai perdagangan Indonesia-Ceko bisa terus ditingkatkan. Diketahui nilai perdagangan bilateral kedua negara pada tahun 2019 sebesar USD 278,73 juta. Jumlah ini naik 21,63 persen pada tahun 2020 menjadi USD 339,02 juta. Namun, menurun pada periode Januari-November 2021 menjadi USD 207 juta akibat pandemi COVID-19.

"Pada periode yang sama, Indonesia selalu mengalami defisit perdagangan bilateral, mencapai USD 198,76 juta (2020) dan USD 41,6 juta (Jan-Nov 2021), karena besarnya nilai impor alutsista serta peralatan teknologi dan permesinan dari Ceko, bila dibandingkan ekspor non-migas dan komoditas Indonesia ke Ceko. Ke depannya, diharapkan bisa terjadi perimbangan neraca perdagangan antar kedua negara, sehingga jangan sampai terjadi defisit yang besar dari sisi Indonesia," pungkas Bamsoet.

(fhs/ega)