Pakar UI Melihat Ada Bahaya di Balik Metaverse: Psikologis hingga Politis

Danu Damarjati - detikNews
Jumat, 21 Jan 2022 10:18 WIB
Ilustrasi Metaverse
Ilustrasi Metaverse
Jakarta -

Metaverse mulai diperbincangkan orang-orang dengan antusias belakangan ini. Pakar komunikasi dari Universitas Indonesia (UI) mengingatkan, ada bahaya di balik metaverse. Bahayanya meliputi aspek psikologis personal, sosial, hingga politik!

"Teknologi tidak perlu kita tolak. Yang perlu kita lakukan adalah bersikap kritis," kata pemerhati budaya, komunikasi digital, sekaligus pengajar ilmu komunikasi Universitas Indonesia, Firman Kurniawan, kepada detikcom, Kamis (20/1/2022).

Metaverse adalah seperangkat ruang virtual. Di dalamnya, pengguna bisa membuat dan menjelajah dunia dengan pengguna metaverse yang lain. Padahal, metavers ini bukanlah ruang fisik yang benar-benar ada, namun hanya hasil citra komputer.

"Dalam metaverse, dunia nyata ini disempurnakan sehingga ilusi kita menjadi maksimal. Itu adalah hiperealitas," kata Firman.

Dalam metaverse yang bersifat hiperealistik, dunia dimungkinkan bisa lebih indah (atau juga lebih mengerikan) daripada aslinya. Suara yang didengar orang bakal lebih indah di metaverse, warna yang dilihat di metaverse lebih cemerlang ketimbang dunia nyata, aktivitas menjadi lebih menyenangkan di metaverse. Namun ketika pengguna metaverse kembali ke dunia nyata, kenyataan terasa tidak seindah di metaverse.

"Akhirnya kita menjadi kecanduan dengan metaverse," kata Firman.

Pakar Komunikasi UI Dr Ir Firman Kurniawan Sujono MsiPakar Komunikasi UI Dr Ir Firman Kurniawan Sujono Msi Foto: Dok. Istimewa

Bahaya psikologis yang ditimbulkan dari metaverse adalah efek candu yang mengikat pengguna. Bahaya selanjutnya, pengguna metaverse menjadi lebih percaya kepada metaverse ketimbang dunia nyata. Bahaya muncul: alienasi.

"Kita menjadi terasing dengan realitas. Kita menjadi kesepian di dunia nyata," kata dia.

Bahaya selanjutnya ada di aspek politik. Karena orang-orang menjadi lebih percaya metaverse ketimbang dunia nyata, maka orang-orang juga bakal lebih percaya realitas politis yang tercermin di metaverse ketimbang realitas politis di dunia fisik.

"Ketika quick count memenangkan capres X dan real count memenangkan capres Y, maka orang bakal lebih percaya quick count yang memenangkan capres X. Ini karena orang sudah menganggap dunia virtual lebih benar ketimbang kenyataan," kata dia.

Dunia metaverse akan menjadi lebih berbahaya secara politis bila dikuasai oleh oligarki. Metaverse berisiko digunakan oleh penguasa tanpa memandang kepentingan publik yang sesungguhnya. Di masa depan, persaingan politik diprediksinya bakal bergeser.

"Pertempuran politik ke depan adalah pertempuran kebijakan antarpengembang teknologi," kata Firman.

Sebenarnya, kata Firman, potensi-potensi bahaya di atas sudah dicicil sejak era media sosial dan internet pada umumnya pada saat ini. Hanya saja, era metaverse bakal menambah intensitasnya.

Lihat juga Video: Penjelasan Kominfo soal Tren Metaverse di Indonesia

[Gambas:Video 20detik]



(dnu/tor)