40 Ekor Tukik Dilepasliarkan di Pantai Mertasari Bali

Sui Suadnyana - detikNews
Kamis, 20 Jan 2022 13:34 WIB
Pelepasan tukik di Taman Inspirasi Muntig Siokan, Pantai Mertasari, Kota Denpasar, Bali. (Sui Suadnyana/detikcom)
Pelepasan tukik di Taman Inspirasi Muntig Siokan, Pantai Mertasari, Kota Denpasar, Bali. (Sui Suadnyana/detikcom)
Bali -

Sebanyak 40 ekor anak penyu alias tukik dilepasliarkan di Taman Inspirasi Muntig Siokan, Pantai Mertasari, Kota Denpasar, Bali. Puluhan ekor penyu kecil yang dilepasliarkan terdiri atas jenis penyu sisik dan penyu lekang.

"Hari ini kita lepas 40 ekor ya, anakan dari dua jenis, ada penyu sisik dan penyu lekang," kata Kepala BKSDA Bali Raden Agus Budi Sentosa di lokasi pelepasan penyu, Kamis (20/1/2022).

Agus mengungkapkan sebagian besar tukik yang dilepas memang jenis penyu lekang. Sebab, populasi penyu sisik sangat sedikit yang bisa bertelur di Pulau Bali. Tukik yang dilepas tersebut terdiri atas tiga kelas umur, yakni kurang dua minggu, berumur 2 bulan, dan umur 5 bulan.

Agus menjelaskan semakin besar usia tukik dilepas, harapan hidupnya di alam liar juga semakin tinggi. Namun pemeliharaan tukik akan menghabiskan biaya pakan yang terlalu besar jika dipelihara dalam kurun waktu yang lama.

"Jadi memang beberapa literatur juga menyebutkan (tukik) sebaiknya dilepas sebelum umur 6 hari. Karena apa? Karena dia masih punya cadangan makan. Sampai umur 6 hari penyu tidak perlu makan. Nanti setelah di laut dia akan mengenali makanan di habitat aslinya," jelas Agus.

Jadikan Bali Surga Penyu

Agus menuturkan, tujuan pelepasan tukik ini dapat dilihat dari aspek konservasi, yaitu untuk menambah ketersediaan penyu di lautan. Dirinya berkeinginan agar Bali kembali menjadi surga bagi penyu untuk bertelur.

"Karena kita pengin Pulau Bali ini kembali seperti 20 (sampai) 30 tahun yang lalu menjadi surganya untuk penyu bertelur. Sekarang ini kan mulai banyak aktivitas yang memanfaatkan garis pantai sehingga penyu sekarang juga mulai enggan bertelur (di Bali)," ungkapnya.

Saat ini, kata Agus, banyak sekali pemanfaatan pantai di Bali yang menyebabkan penyu enggan untuk bertelur. Banyak pantai di Bali diberi lampu dan terdapat suara bising.

Selain itu, banyak bibir pantai yang diberi bangunan pemecah ombak. Berbagai kondisi ini menyebabkan penyu enggan untuk bertelur di pantai di Bali.

"Apalagi di beberapa tempat di bibir pantai itu kemudian diberi bangunan untuk pemecahan ombak. Kalau sudah dikasih bangunan pemecah ombak, kan penyu tidak bisa bertelur karena pasirnya sudah nggak ada lagi," jelas Agus.

Agus mengungkapkan masyarakat Bali yang sebelumnya mengkonsumsi penyu sekarang sudah turun sangat jauh dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Pemanfaatan penyu dalam bentuk lain juga sudah berkurang.

"Sangat kecil persentasenya, juga untuk pemanfaatan (penyu) yang lain juga sudah mulai berkurang," kata dia.

Namun Agus tetap mengingatkan kepada masyarakat luas bahwa penyu sekarang sudah masuk dalam Apendiks I CITES. Artinya, penyu tidak lagi atau dilarang untuk diperdagangkan atau dikomersialkan.

"Nah, untuk itu, kami berharap, mohon kita jaga bersama-sama. Daripada penyunya kita pakai untuk kita konsumsi atau dimakan, lebih baik kita dapat uang dengan cara yang lain. Apa itu? Dengan cara adopsi tukik penyu. Itu dapat duitnya lebih banyak, alamnya lebih sejahtera, penyunya juga sejahtera," ucapnya.

Di samping itu, Agus menegaskan bahwa keberadaan penyu begitu penting untuk rantai makanan. Sebab, penyu memakan rumput-rumput laut dan biota-biota laut.

Dengan demikian, sinar matahari bisa sampai ke kedalaman yang lebih dalam karena tidak tertutup oleh ganggang-ganggang laut dan menyebabkan tempat ikan berpijaknya semakin banyak.

"Bila tempat ikan berpijaknya semakin banyak, ikannya semakin banyak juga. Ikan makin banyak, kita kan lebih enak, karena kita juga butuh ikan untuk makan. Jadi menjaga penyu sama saja dengan menambah jumlah ikan yang ada di laut," papar Agus.

(hmw/mud)