Heboh Konten 'Ular Hama Kebun Sawit' Balai Karantina Pertanian Denpasar

Sui Suadnyana - detikNews
Rabu, 19 Jan 2022 16:00 WIB
Heboh video ular disebut hama kelapa sawit di Denpasar
Konten video ular hama sawit (Tangkapan Layar Video)
Denpasar -

Postingan konten TikTok Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar yang menyebut ular sebagai hama kebun sawit bikin heboh. Ular tersebut ditangkap dan dijadikan produk ekspor.

Postingan Balai Karantina Pertanian Denpasar yang kini telah dihapus. Pihak Balai Karantina Pertanian Denpasar menyebut ada kesalahan dalam pemilihan kata dalam postingan tersebut.

"Saya kira itu kan mungkin masalah pemilihan kata ya," kata Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar I Putu Terunanegara saat dihubungi detikcom, Rabu (19/1/2022).

Terunanegara menuturkan sebenarnya dalam postingan tersebut pihaknya ingin menonjolkan potensi kulit ular yang menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi.

"Itu sebenarnya yang ingin kita tonjolan. Kalau yang terkait pemilihan kata hama barangkali ini tergantung dari sisi mana kita melihatnya kan. Memang kalau dari sisi petani yang menganggap itu hama ya bisa menjadi hama, bisa juga tidak," jelasnya.

Namun, terlepas dari perdebatan itu, Terunanegara menegaskan bahwa sebenarnya di Bali terdapat pabrik kulit ular yang mempunyai potensi nilai ekspor luar biasa dalam setahun yang dipasarkan ke berbagai negara.

Ekspor ini mempunyai nilai cukup tinggi untuk bahan baku tas dan sebagainya. Ular yang dicari kulitnya untuk ekspos ini adalah yang berukuran besar seperti ular sanca, ular piton dan sebagainya.

Hingga saat ini, terdapat dua pabrik kulit ular di Bali yang terletak di Kota Denpasar. Di Indonesia, pabrik ini terbilang terbatas, sebab hanya ada di Bali dan Jakarta. Pabrik yang berada di Bali selalu rutin dalam dua sampai tiga bulan sekali melakukan ekspor kulit ular ke luar negeri dengan nilai yang sangat fantastis.

"Kalau sekali kirim itu bisa Rp 1 miliar atau Rp 2 miliar. Karena memang bernilai tinggi setelah kulit ular itu kulitnya diproses di pabrik, dikirim ke luar negeri itu memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Sebenarnya itu sih teman-teman (humas) tonjolkan (dalam postingan di medsos)," jelasnya.

Menurut Terunanegara, ekspor ular ini dilakukan secara legal. Ekspor kulit ular ada ada kuotanya yang ditentukan oleh instansi berwenang. Kemudian, perusahaan penangkapan ular juga harus dilakukan dengan memiliki izin tangkap.

Ular tersebut didatangkan ke Bali dari Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan. Menurut Terunanegara, ular dari Pulau Kalimantan mempunyai nilai yang cukup bagus dibandingkan dari daerah lain, baik dari sisi warna kulit dan sebagainya.

"Mungkin viral itu pemilihan bahasa di situ yang barangkali buat kita (jadi koreksi). Tapi sebenarnya buat kita kan kalau bicara hama kan bisa saja terjadi dari sisi mana kita melihat, bisa saja hama, bisa juga tidak kalau terkait rantai makanan," tuturnya.

"Tapi terlepas dari itu mungkin kami adalah ingin menunjukkan bahawa ada potensi yang luar biasa ya walaupun ularnya tidak dari Bali, tapi datang dari luar Bali sebagian wilayah di Indonesia, kemudian diolah dan diproduksi di Bali menjadi sebuah produk yang bernilai sangat tinggi," kata dia.

Terunanegara menyebut kedua pabrik pengolahan kulit ular di Kota Denpasar, Bali, masih terus eksis melakukan ekspor meskipun di tengah pandemi COVID-19.

"Jadi tidak terhambat oleh pandemi (eskpornya), mungkin karena alasan terbatasnya pesawat saja yang mungkin sedikit mengganggu, kan (penerbangan) internasional kan tutup, tapi mereka masih lancar ekspornya. Mahal, sekali ekspor itu miliaran," ungkapnya.

(mud/mud)