Cerita Para Pedagang Pasar Legi Solo yang Mulai Tempati Gedung Baru

Nada Zeitalini - detikNews
Rabu, 19 Jan 2022 14:37 WIB
Pasar Legi Solo
Foto: Istimewa
Jakarta -

Jelang peresmian Pasar Legi Kamis (20/1) mendatang, geliat aktivitas di gedung baru pasar yang terletak di Jalan Letjen S. Parman, Kota Surakarta ini mulai ramai. Para pedagang yang selama ini menempati pasar darurat di belakang bangunan baru memang diberi batas waktu hingga Senin (17/1) untuk menempati kios mereka.

Bangunan baru Pasar Legi terdiri dari 3 lantai dengan 306 kios, 2.190 unit los dan 250 unit los bagi pedagang pelataran. Bangunan yang didirikan dengan biaya APBN sebesar Rp 104 miliar itu memang terlihat besar dan luas, namun para pedagang punya cerita lain.

"Di sini masih sepi pembeli, hari Minggu kemarin saya hanya dapat Rp 9.000," ujar salah seorang pedagang sayur, Parni dalam keterangan tertulis, Rabu (19/1/2022).

Sepinya pembeli sebenarnya umum terjadi dalam relokasi pasar. Biasanya kondisi ini akan perlahan membaik. Akan tetapi untuk pedagang seperti Parni dan ratusan pedagang lain yang menggantungkan hidup dari pendapatan harian di pasar, pendapatan pada satu hari tentu sangat berarti.

Kekhawatiran akan sepinya pelanggan di gedung baru menjadi salah satu penyebab mengapa belum semua pedagang pindah ke tempat ini. Mereka lebih memilih berjualan di pasar darurat yang kondisinya sangat minim. Hingga akhir pekan kemarin, baru 80% pedagang menempati Pasar Legi.

Cerita lain juga disampaikan oleh pedagang-pedagang lainnya. Selain keluhan sepinya pelanggan, tak jarang pedagang juga menceritakan soal akses di Pasar Legi yang kini kurang mendukung aktivitas pedagang dan pembeli.

"Akses ke dalam los cukup jauh dan memutar. Kendala banget setiap harus mengangkut dagangan", ujar seorang pedagang ikan asin, Padmi.

Ia menjelaskan bahwa pegawai kiosnya harus mengangkut minimal 50 kg barang dagangan ke kendaraan pembeli dan ini dilakukan berkali-kali setiap harinya. Padmi menuturkan kondisi di pasar darurat lebih ideal karena akses antara pedagang dan pembeli lebih dekat sehingga pasar darurat menjadi lebih ramai.

Ada pula seorang pedagang garam, Viktor yang mengeluhkan akses di gedung baru Pasar Legi.

"Titik bongkar muat jauh dan tangga terjal, yang mengeluh bukan hanya kuli panggul yang harus menghabiskan waktu dan tenaga hingga tiga kali lipat, tapi juga pelanggan yang sering mengeluh kesulitan naik turun membawa belanjaan," kata Viktor.

Namun tidak semua pedagang mengalami kendala dengan bangunan pasar baru ini. Seorang pedagang daging Yeni justru menyampaikan cerita positif setelah pindah ke gedung baru Pasar Legi.

"Posisi kios cukup strategis. Enaknya gedung bagus dan teratur. Dulu kalau pindahan ke pasar darurat enggak langsung ada pembeli. Di sini pindah pasar baru langsung ada pembeli", kata Yeni.

Persoalan yang diceritakan para pedagang di Pasar Legi soal gedung baru ini pun sudah mendapatkan tanggapan dari Pemerintah Kota Solo. Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka bahkan telah menyampaikan langsung tanggapannya untuk para pedagang.

"Saya sarankan teman-teman memanfaatkan jalur ramp yang tersedia", ujar Gibran.

Ramp yang dimaksud Gibran adalah jalur miring yang menghubungkan antar lantai yang diperuntukkan bagi penyandang disabilitas maupun lansia. Namun persoalan baru kemudian diperkirakan akan muncul apabila ramp digunakan oleh kuli panggul maka penyandang disabilitas dan lansia akan terpinggirkan. Belum lagi kondisi ramp yang basah dan licin karena terkena air hujan yang tampias.

Kemudian berdasarkan pengukuran ulang konstruksi tangga yang menunjukkan bahwa lebar anak tangga (antrede) 30 cm dan tinggi anak tangga (optrade) 18 cm masih masuk dalam kisaran normal.

Tantangan dan perlunya melakukan penyesuaian oleh berbagai pihak sebenarnya umum terjadi pada proses pemindahan atau relokasi. Saat ini, para pedagang, kuli angkut dan pelanggan Pasar Legi yang baru masih terus menanti kemudahan akses di bangunan baru yang megah dan luas tersebut.

Sebagai informasi, Pasar Legi sebelumnya terbakar pada akhir 2018 lalu, sekitar 250 kios habis dilalap api. Kemudian dilakukan pembangunan gedung pasar yang baru sejak November 2021. Gedung ini pun telah diserahterimakan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) kepada Pemerintah Kota Solo November 2021 lalu.

(akn/ega)