Pasar Legi Solo Akan Terapkan QRIS, Pedagang Harap Ada Akses WiFi

Inkana Izatifiqa R Putri - detikNews
Rabu, 19 Jan 2022 13:28 WIB
Pasar Legi Solo
Foto: Istimewa
Jakarta -

Pasar Legi Kota Solo siap beroperasi kembali pasca kebakaran hebat pada 2018. Pembangunan yang memakan waktu satu tahun melalui pembiayaan APBN multiyears ini menghasilkan sebuah gedung baru dengan beragam fasilitas seperti area parkir, masjid, shelter angkutan umum hingga ruang laktasi.

Selain dilengkapi berbagai fasilitas, secara bertahap Pasar Legi akan mulai menerapkan teknologi dalam transaksi harian, seperti penggunaan QRIS. Melalui teknologi ini, pelanggan hanya perlu melakukan scan QR code menggunakan aplikasi m-banking atau fintech di ponsel untuk membayar.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Solo, Heru Sunardi menyampaikan Pasar Legi merupakan pasar ke-13 di Kota Solo yang sudah menerapkan pembayaran non-tunai. Sejak 2018, transaksi digital telah diperkenalkan, dan tahun ini, 44 pasar tradisional di Kota Solo direncanakan akan bermigrasi ke pembayaran digital.

"Ini untuk mendukung Solo sebagai smart city, memudahkan transaksi, menghindari peredaran uang palsu dan supaya semua transaksi di pasar terekam, ada dokumennya," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (19/1/2021).

Usai dibangun, Pasar Legi kini memiliki tampilan gedung baru 3 lantai yang lebih luas. Pasar Legi yang baru terbagi dalam 4 blok, yakni Blok A hingga Blok D. Adapun Bok A difungsikan sebagai zona semi basah bagi pedagang buah dan sayur, dan Blok B untuk zona kering. Sementara itu, Blok C dan D akan dialokasikan sebagai zona basah untuk lapak pedagang daging segar dan ikan asin.

Pengoperasian Pasar Legi pun mendapat respons baik dari para pedagang. Salah satunya, Katih Budiman, seorang pedagang yang sudah berjualan sejak sebelum Pasar Legi terbakar.

Katih mengaku senang dengan dibukanya kembali Pasar Legi. Pasalnya, selama masa pembangunan, penjual cabai dan bawang pindah ke tepi jalan. Menurutnya, gedung baru ini akan sangat membantu para pedagang.

"Gedungnya bagus, penataan rapi sehingga lebih nyaman," ujarnya.

Soal penerapan QRIS, para pedagang memiliki respons yang beragam. Pedagang pasar tradisional yang sudah berusia lanjut umumnya lebih memilih transaksi tunai, sedangkan pedagang yang masih muda memilih transaksi non-tunai. Meski demikian, mereka ingin agar masa tunda pencairan dana ke rekening bisa dipersingkat.

Katih menambahkan penggunaan QRIS di Pasar Legi dapat memudahkan usahanya. Namun, ia berharap pihak pengelola dapat menyediakan akses WiFi guna mempermudah transaksi.

"Para pedagang berharap agar ada WiFi di Pasar Legi karena sinyal HP susah, apalagi nanti pakai QRIS, kami sangat butuh akses jaringan," pungkasnya.

Sebagai informasi, pasca kebakaran akhir 2018, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) membangun kembali Pasar Legi dalam 1 tahun. Pembangunan telah rampung pada akhir tahun lalu dan telah diserahterimakan ke Pemerintah Kota Solo pada November 2021. Pasar Legi akan diresmikan Kamis (20/1) oleh Ketua DPR RI Puan Maharani atas undangan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka.

Sebagai kawasan pasar induk, Pasar Legi akan terintegrasi dengan pusat-pusat perekonomian di sekitarnya seperti sentra minyak dan sentra buah. Pasar Legi juga memasok komoditas pangan hingga ke wilayah lain seperti Daerah Istimewa Yogyakarta. Adapun transaksi harian di Pasar Legi diperkirakan mencapai Rp 3 miliar.

(ncm/ega)