Menerka 'Tawuran' Opini Sesama Kader TB Hasanuddin-Arteria soal Bicara Sunda

Matius Alfons - detikNews
Rabu, 19 Jan 2022 06:55 WIB
TB Hasanuddin (Firda Cynthia Anggrainy/detikcom).
Foto: TB Hasanuddin (Firda Cynthia Anggrainy/detikcom).
Jakarta -

Kader PDIP TB Hasanunddin secara terang-terangan mengkritik sesama Kader PDIP, Arteria Dahlan berkaitan dengan permintaan kepada Jaksa Agung ST Burhanuddin agar memecat Kajati yang berbicara bahasa Suda di rapat. TB Hasanuddin menyebut ucapan Arteria bisa melukai masyarakat Sunda.

Direktur Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno mencoba menerka maksud TB Hasanuddin sampai harus mengkritisi sesama kadernya Arteria Dahlan. Dia menduga ada perbedaan pendapat antara TB Hasanuddin dan Arteria Dahlan soal Kajati dicopot gegara berbahasa Sunda saat rapat.

"Terlihat itu soal beda pendapat pribadi antar anggota dewan dari PDIP terkait substansi masalah. Pernyataan Arteria Dahlan yang minta Kajati dicopot dinilai TB Hasanuddin sepertinya sangat berlebihan dan terkesan memamerkan arogansi kekuasaan anggota dewan. Apalagi masalahnya hanya soal berbahasa sunda. Perkara sepele," ucap Adi saat dihubungi, Selasa (18/1/2022).

Selain ada perbedaan pendapat, Adi menyebut background TB Hasanuddin sebagai putra Jawa Barat (Jabar) juga berpengaruh terhadap kritik tersebut. Dia menyebut TB Hasanunddin mencoba meredam amarah masyarakat Sunda terkait perkataan Arteria.

"Sebagai putra Jabar tentu TB Hasanuddin berkepentingan meredam situasi sejak dini karena pernyataan Arteria bisa menimbulkan amarah masyarakat Sunda. Seakan bahasa Sunda itu tak layak jadi bahasa pergaulan. Tak heran jika ada yang meminta Arteria mintaa maaf karena merasa terusik dan menghina," ujarnya.

"Lebih terlihat ingin meredam supaya tak banyak yang marah atas Arteria. Apapun judulnya, TB Hasanudin putra daerah yang tentunya sangat memegang tegus nilai-nilai adat Sunda. Apalagi TB Hasanuddin dan Arteria satu partai," lanjut dia.

Meski begitu, Adi menilai cara TB Hasanuddin mengkritik Arteria Dahlan di ruang publik tetap tidak etis. Terlebih keduanya merupakan sesama kader dan sesama anggota dewan.

"Tentu tak etis antar sesama kader partai terlibat tawuran opini menyangkut isu yang sebenarnya sangat sensitif. Apalagi keduanya sama-sama anggota dewan dimana segala sesuatu bisa diselesaikan tanpa keramaian di media," tuturnya.

Adi lantas mengingatkan pesan di balik persoalan Arteria Dahlan. Dia menyebut jangan sampai ada lagi anggota dewan yang pamer kekuasaan politik untuk meminta memecat orang lain tanpa alasan jelas.

"Pelajaran penting dari kasus ini jangan lagi ada kesan anggota dewan itu suka pamer kekuasaan politik dengan minta orang dipecat tanpa alasan jelas. Padahal anggota dewan itu hanya mewakili secuil suara rakyat di dapilnya. Tidak mewakili seluruh rakyat Indonesia," sebutnya.

Lihat Video: Ridwan Kamil Tuntut Arteria Minta Maaf ke Masyarakat Sunda

[Gambas:Video 20detik]



(maa/idn)