Usulan Ganjil Genap Dihentikan karena Corona DKI Terus Ada Peningkatan

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 19 Jan 2022 05:43 WIB
Anggota Polisi dan Dishub mengatur arus lalu-lintas di pos pengendalian mobilitas ganjil-genap kendaraan, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Senin (30/8/2021). Pemerintah memperpanjang PPKM level 3 dan 4 di Jawa-Bali hingga 6 September 2021. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/wsj.
Ilustrasi ganjil genap (Foto: ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)
Jakarta -

Kasus positif Corona di DKI Jakarta kembali meningkat. Usulan agar ganjil genap dihentikan pun mengemuka.

Kemarin, kasus positif Corona di Jakarta bertambah 670 orang, sehingga total kasus aktif di DKI saat ini mencapai 4.297 orang. Atas terus merebaknya COVID-19 di Ibu Kota, Ketua Komisi A DPRD DKI Jakarta Mujiyono mendesak Pemprov DKI Jakarta untuk meniadakan ganjil genap.

"Untuk menghadapi penyebaran COVID-19 tersebut, apalagi Omicron semakin tinggi di Provisi DKI Jakarta, kami meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mulai meniadakan ganjil-genap," kata Mujiyono dalam keterangannya, Selasa (18/1/2022).

"Sehingga diharapkan dapat mengurangi penggunaan transportasi massal," sambung Mujiyono.

Mujiyono juga menyoroti peningkatan keterisian tempat tidur di RS rujukan COVID-19 yang mengalami peningkatan, di mana BOR isolasi mencapai 20 persen dan BOR ICU 5 persen. Dia berharap beralihnya masyarakat ke transportasi pribadi dapat mengurangi transmisi lokal kasus Omicron.

"Pemerintah perlu memperketat kembali protokol kesehatan di fasilitas umum dan tempat keramaian. Pembatasan jumlah penumpang pada angkutan umum massal juga harus segera diterapkan untuk menghindari transmisi lokal," jelasnya.

Di samping itu, politikus Partai Demokrat tersebut mewanti-wanti supaya penerapan pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah-sekolah terus diawasi. Pasalnya, sudah ada 39 sekolah di Jakarta yang ditutup usai ditemukan kasus COVID-19.

"Total ada 67 kasus COVID-19 pada guru dan siswa. Sehingga, perlu dievaluasi secara menyeluruh penerapan protokol kesehatan di sekolah-sekolah," ujarnya.

"Selain itu, perusahaan-perusahaan di Jakarta pun harus diminta membatasi karyawan yang bekerja di kantor atau work from office (WFO) dan kembali menerapkan work from home (WFH) bagi jenis pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah," sambungnya.

Baca data COVID-19 DKI Jakarta terbaru di halaman selanjutnya...

Lihat juga Video: Update Corona RI 18 Januari: Bertambah 1.362 Kasus, 564 Sembuh

[Gambas:Video 20detik]