Perspektif

Sejarawan: Nusantara Nama Asli Kutai, Bukan Jawa-sentris

Danu Damarjati - detikNews
Selasa, 18 Jan 2022 12:35 WIB
Sejarawan Muhammad Sarip mengamati Batu Yupa, prasasti Kutai. (Dok Pribadi M Sarip)
Sejarawan Muhammad Sarip mengamati Batu Yupa, prasasti Kutai. (Dok Pribadi M Sarip)
Jakarta -

Nama Nusantara yang dipilih Presiden Jokowi sebagai nama Ibu Kota Negara di Kalimantan Timur dikritik berbau Jawa-sentrisme. Namun menurut sejarawan ini, nama Nusantara justru merupakan nama asli Kutai, Kalimantan Timur, bukan dari Jawa.

Adalah Muhammad Sarip yang mengemukakan hal ini. Dia adalah sejarawan Samarinda yang diakui kompetensinya oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan-Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

"Ada yang bilang bahwa nama Nusantara untuk ibu kota baru terlalu Jawa-sentris dan nggak mengakomodasi kearifan lokal Kalimantan Timur. Benarkah begitu?" ujarnya dalam keterangan yang dia kirimkan kepada Perspektif detikcom, Selasa (18/1/2022).

Dia menilai nama 'nusantara' adalah nama yang ideal dan merepresentasikan seluruh Indonesia. Meski nantinya Ibu Kota Negara bakal berdiri di Kaltim, tapi nama ibu kota itu sendiri juga tidak terlalu lokal Kaltim.

"Nggak Jawa-sentris, nggak juga Kaltim-sentris," kata dia.

Nusantara nama asli Kutai

Sarip menyatakan Nusantara adalah nama asli Kerajaan Kutai Kartanegara. Kerajaan Kutai Kartanegara berdiri pada abad ke-14.

Kerajaan Kutai Kartanegara ini berbeda dengan kerajaan yang sering disebut sebagai yang tertua di Indonesia yang menandai dimulainya masa sejarah Indonesia, yakni kerajaan Kutai Martapura yang berdiri pada Abad 4 Masehi. Sarip menyebut, Kutai Martapura adalah Kerajaan Martapura, sedangkan Kerajaan Kutai Kartanegara adalah Kerajaan Kutai saja.

"Nusantara sebenarnya merupakan toponimi (nama tempat) wilayah di timur Kalimantan sebelum dicetuskannya nama Kutai," kata Sarip.

Pendiri Kutai Kartanegara adalah Aji Batara Agung Dewa Sakti pada tahun 1300-an Masehi. Daerah Kutai pada awalnya berpusat di Jaitan Layar, saat ini bernama Desa Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara. Namun sebelum dinamakan sebagai 'Kutai', daerah itu bernama 'Nusantara'.

Sarip mendasarkan keterangannya pada tulisan Solco Walle Tromp berjudul Uit de Salasila van Koetei, dalam Journal of The Humanities and Social Sciences of Southeast Asia, terbitan Brill, 1 Januari 1888. SW Tromp tersebut merupakan sosok yang pernah menjabat Asisten Residen Oost Borneo dan meneliti manuskrip Salasilah Kutai.

"Dalam risetnya, Tromp menulis bahwa menurut tradisi lisan setempat, sebelum Kutai menjadi nama kerajaan, kala itu wilayahnya menyandang nama Nusantara. Teks asli versi Tromp dalam bukunya yang berjudul Uit de Salasila van Koetei adalah Noes├źntara," ujar Sarip.

Tak hanya SW Tromp yang menyebut nama asli Kutai adalah Nusantara, ilmuwan lain bernama SC Knappert juga menyebut demikian. SC Knappert mempublikasikan penelitiannya Beschrijving van De Onderafdeeling Koetei (Deskripsi Subdivisi/Onderafdeeling Kutai).

"Knappert juga menulis bahwa menurut cerita penduduk asli, dulu daerah Kutai disebut Nusantara," kata Sarip.

Karena Nusantara adalah nama asli Kutai di Kalimantan Timur, maka menurutnya penamaan Nusantara untuk Ibu Kota Negara kelak adalah penamaan yang representatif bagi komunitas lokal kaltim. Begitu menurut Sarip.

Selanjutnya, apakah Penajam Paser Utara calon Ibu Kota Negara yang baru masuk wilayah Kutai?

Lihat Video: Nama Ibu Kota Baru Pilihan Jokowi: Nusantara

[Gambas:Video 20detik]