Lingkungan Tercemar Abu Kilang Batu, Emak-emak di Sumut Cegat Truk Proyek

Perdana Ramadhan - detikNews
Senin, 17 Jan 2022 16:10 WIB
Emak-emak di batu Bara, Sumatera Utara mencegat truk proyek kilang pemecah bagtu, Senin (17/1/2022).
Emak-emak di Batu Bara, Sumatera Utara, mencegat truk proyek kilang pemecah bagtu, Senin (17/1/2022). (Dok. Istimewa)
Batu Bara -

Puluhan emak-emak nekat mencegat truk yang keluar-masuk jalan desa mereka menuju kilang pemecah batu di Desa Petatal Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara (Sumut). Mereka protes atas dampak abu yang dinilai mencemari lingkungan tempat tinggal mereka.

Emak-emak tersebut berdiri di tengah jalan dengan membawa poster bertuliskan kecaman terkait abu yang dinilai mengganggu kesehatan mereka. Aktivitas kilang batu itu disebut bagian dari proyek pembangunan jalan Tol Tebing Tinggi-Kisaran.

"Kalau adanya pembangunan di sini kami dukung. Tapi kami tak mau debu, masyarakat kami sekarang sudah banyak terdampak kesehatannya, anak-anak yang batuk, ISPA, itu terjadi sudah lama. Kami sudah berulang bilang ke perusahaan ini tapi tak ditanggapi jadi ibu-ibu di sini melakukan demo," kata Zulfian (40) salah seorang warga desa, Senin (17/1/2022).

Selain mencegah truk, emak-emak itu kemudian mendatangi pintu masuk kilang dan berharap aspirasinya tersampaikan. Zulfian menganggap perusahaan tak memikirkan kesehatan warga sekitar.

"Kami lihat adanya aktifitas perusahaan di sini semena-mena terhadap masyarakat. Tidak memikirkan kesehatan masyarakat. Kami bukan menolak adanya pembangunan di sini, tapi masyarakat jangan dikasi abu," ucapnya.

Di lokasi, warga hanya berdebat dengan petugas keamanan kilang batu. Mereka berjanji akan menyampaikan tuntutan masyarakat tersebut kepada pimpinannya.

Terpisah, Plt Kepala Desa Petatal Helda saat dimintai konfirmasi wartawan memaklumi keresahan warganya itu atas aktivitas kilang batu tersebut. Pihaknya mengatakan sebelumnya juga sudah pernah menyampaikan persoalan ini ke perusahaan.

"Kalau aktivitasnya itu sudah ada satu tahun setengah. Tapi lima bulan terakhir ini memang semakin parah karena pabriknya memang dekat dengan permukiman masyarakat," kata Hilda.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.