Terkurung Pandemi, Wartawan Senior Bambang Wiwoho Tulis 6 Buku

Deden Gunawan - detikNews
Minggu, 16 Jan 2022 14:50 WIB
Wartawan senior Bambang Wiwoho dan aktivis Malari Hariman Siregar saat peluncuran buku Trilogi Tonggak-Tonggak Orde Baru, 15 Januari 2022
Aktivis Malari dr Hariman Siregar dan Bambang Wiwoho (batik) (Foto: Dok. Andre)
Jakarta -

Bagi Bambang Wiwoho, aktivitas menulis tak boleh surut oleh faktor usia dan berbagai keterbatasan lainnya. Selama dua tahun pandemi Covid-19, mantan wartawan Suara Karya dan Panji Masyarakat itu menulis enam buku. Tiga buku pertama, yakni Orang Jawa Mencari Gusti Allah, Pageblug Corona, dan Membaca Nusantara dari Afrika terbit pada November 2020 dan Maret 2021. Tiga buku lainnya diluncurkan pada 15 Januari 2022, bertepatan dengan peringatan Peristiwa Malari ke-48.

"Trilogi buku saya, Tonggak-Tonggak Orde Baru diluncurkan barengan (peringatan) Malari kemarin dan ulang tahun INDEMO (Indonesian Democracy Monitor) ke-22," kata Wiwoho kepada detikcom, Minggu (16/1/2022). Hadir dalam acara itu tokoh Malari dr Hariman Siregar serta belasa aktivis dan politisi seperti Jumhur Hidayat, Syahganda Nainggolan, Eggi Sudjana, dan Fahri Hamzah.

Buku pertama yang bertajuk Jatuh Bangun Strategi Pembangunan antara lain mengupas bagaimana Presiden Soeharto dan tim ekonomi mengutamakan pertumbuhan ekonomi. Hal itu ditandai dengan masuknya perusahaan-perusahaan multi nasional yang melakukan investasi besar-besaran dengan leluasa di Indonesia pada akhir 1960-an.

Strategi ini dimaksudkan untuk menciptakan kue pertumbuhan lebih dulu untuk kemudian dilakukan pemerataan sesuai teori 'menetes ke bawah'. Tapi yang terjadi kemudian strategi pertumbuhan ini secara cepat dan kasat mata mempertontonkan ketidakadilan di dalam masyarakat.

"Strategi tersebut melahirkan persekongkolan kekuatan ekonomi dengan kekuasaan politik. Ironisnya sekarang berulang, terjadi kekuatan oligarki yang merupakan persekongkolan pengusaha - penguasa," kata Wiwoho.

Terkait peristiwa Malari yang menjadi momen peluncuran, karena Hariman dikenal sebagai tokoh gerakan mahasiwa kala itu dan Wiwoho adalah wartawan yang meliputnya. Dalam sebuah foto di buku tersebut tergambar Wiwoho berada di belakang Menhankam/Pangab Jenderal M. Panggabean yang tengah menghalau massa dari Pasar Senen hingga Jalan Kramat Raya pada 16 Januari 1974.

Buku kedua yang diberi judul, Musuh Terbesar: Kesenjangan Bernuansa Sara & Ekstremisme antara lain mengulas cara Presiden Soeharto merekrut para menterinya, penggalangan citra di masa Orba, RUU-RUU yang digarap puluhan tahun, hingga gerakan kebangkitan Islam.

Hariman Siregar (kemeja putih), Jumhur Hidayat, Syahganda Nainggolan, Fahri Hamzah, dan Eggy Sudjana dalam acara peluncuran buku Trilogi Tonggak-Tonggak Orde Baru, Sabtu (15/1/2022).Hariman Siregar (kemeja putih), Jumhur Hidayat, Syahganda Nainggolan, Fahri Hamzah, dan Eggy Sudjana dalam acara peluncuran buku Trilogi Tonggak-Tonggak Orde Baru, Sabtu (15/1/2022). Foto: Dok. Andre

Selama masa Orba, tulis Wiwoho, pemerintah dengan sokongan Golkar dan ABRI menguasai 70% suara di DPR. Tapi nyatanya tak serta-merta bisa meloloskan pembahasan setiap RUU. Setidaknya ada dua RUU yang menyita waktu bertahun-tahun bahkan sampai 20 tahun untuk bisa disahkan. Wiwoho menyebut RUU Perkawinan dan RU Pancasia sebagai Asas Tunggal.

"Sebetulnya bisa saja disahkan dalam tempo sebulan - dua bulan. Tapi pendekatan kekuasaan dan hokum semata tidak dilakukan. Ada pendekatan humanism dengan duduk bersama, membongkar dan menyusun kembali draf yang ada," tulis Wiwoho.


Di buku ketiga, Wiwoho memberi judul Kejatuhan Soeharto dan Ancaman Pembelahan Bangsa. Dia antara lain menyebut lengsernya Soeharto mirip dengan kejatuhan Amangkurat I. Bila Amangkurat dijatuhkan oleh pemberontakan yang diprakarsai puteranya sendiri, Soeharto turun oleh desakan massa dan orang-orang terdekatnya yang mendadak mundur.

Total, Bambang Wiwoho telah menulis lebih dari 50 judul buku, antara lain Memoar Jenderal Yoga dan Operasi Woyla.

(jat/jat)