Ke Pesantren Bambu Bogor, Ketua DPD RI Bicara Nilai Pancasila

Nada Zeitalini Arani - detikNews
Kamis, 13 Jan 2022 16:20 WIB
LaNyalla di Pesantren Bambu Bogor
Foto: DPD RI
Jakarta -

Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti berkunjung ke Pesantren Bambu Abah Jatnika di Cibinong, Bogor, Rabu (12/1) kemarin. Rombongan Ketua DPD RI diterima langsung Pengasuh Pesantren Abah Jatnika Nanggamiharja atau dikenal dengan Abah Bambu.

Dalam silaturahmi tersebut, LaNyalla dan Abah Jatnika membahas Pancasila agar dibumikan semakin dalam ke setiap warga bangsa. Sehingga Pancasila dapat kembali menjadi falsafah hidup rakyat Indonesia.

"Kita terus berjuang untuk mengembalikan Pancasila sebagai pedoman utama bangsa ini, termasuk dalam demokrasi dan sistem ekonomi," kata LaNyalla dalam keterangan tertulis, Kamis (13/1/2022).

Menurut LaNyalla, saat ini sistem demokrasi di Indonesia sudah menyimpang dari Demokrasi Pancasila. Ada pun ciri Demokrasi Pancasila adalah keterwakilan semua elemen bangsa sebagai pemilik kedaulatan utama yang berada di dalam sebuah Lembaga Tertinggi di negara.

"Faktanya sekarang ini hanya partai politik yang menguasai. Wakil dari golongan, dari daerah, sultan dan raja nusantara serta non-partisan lainnya tidak terakomodasi bisa berperan," paparnya.

LaNyalla juga menambahkan tentang sistem ekonomi yang di Indonesia yang menurutnya sekarang menjadi sistem ekonomi kapitalistik.

"Seharusnya kekayaan sumber daya alam negeri ini harus dikelola dengan prinsip kekeluargaan dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kenyataannya cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak telah diserahkan kepada pasar. Ini harus dikoreksi," ucapnya.

Senada dengan LaNyalla, Abah Jatnika juga berharap Pancasila di dalam kehidupan. Oleh sebab itu, Pancasila harus dijaga, dipahami, dan diamalkan dengan konsisten.

"Nilai-nilai dalam Pancasila itu menurut saya adalah perwujudan dari nilai-nilai Al-Qur'an. Di Pancasila itu mengandung nilai-nilai Islam yang sangat jelas seperti adanya adil, beradab, kerakyatan, hikmat, permusyawaratan," ujar Abah Jatnika.

Abah Jatnika juga menjelaskan di dalam negara Indonesia yang majemuk ini, sebagai warga yang beradab dan beriman, nilai persatuan harus diutamakan.

"Kita terdiri banyak suku, agama dan ras. Keunggulan-keunggulan dari berbagai daerah itu yang harus diambil sebagai kekuatan dalam membangun bangsa. Bukan yang perbedaannya yang dikedepankan yang justru menambah perseteruan," tegasnya.

Dalam kesempatan itu Abah Jatnika juga menceritakan kiprahnya sebagai 'ahli bambu'. Dia menekuni dunia bambu sejak muda. Bahkan selesai kuliah tahun 1981 dirinya menekuni bisnis pembangunan rumah bambu hingga berhasil mengekspor kerajinan bambu sejak tahun 1985.

Jatnika merupakan salah satu pendiri Yayasan Bambu Indonesia. Hingga kini, ia masih aktif mendidik para ahli pembuat rumah bambu maupun kerajinan bambu lainnya. Pada tahun 2006, Jatnika yang sudah mengembangkan 41 model rumah tradisional bambu khas Jawa Barat mematenkan hak cipta untuk rumah bambu semi permanen.

"Saya tidak hanya membuat rumah bambu dan kerajinan bambu, tapi juga melakukan program penanaman bambu secara kontinyu, terutama di sekitar sungai sebagai penahan tebing," tuturnya.

(ncm/ega)