Polisi Buru 2 DPO Kasus Mafia Tanah di Bogor Libatkan Eks Pegawai DJKN

Rizky Adha Mahendra - detikNews
Kamis, 13 Jan 2022 12:14 WIB
Kasat Reskrim Polres Bogor, AKP Siswo Tarigan (Rizky Adha Mahendra/detikcom)
Kasat Reskrim Polres Bogor AKP Siswo Tarigan (Rizky Adha Mahendra/detikcom)
Bogor -

Polisi membekuk enam tersangka dalam kasus mafia tanah di Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang salah satunya eks pegawai Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN). Saat ini polisi masih mengejar dua tersangka lainnya.

"Ada kemungkinan bertambah. Untuk sementara ada dua orang DPO. Perannya satu itu yang memproduksi sertifikat palsu, yang satunya lagi sebagai perantara," kata Kasat Reskrim Polres Bogor AKP Siswo Tarigan kepada wartawan, Kamis (13/1/2022).

Melalui pengungkapan kasus ini, polisi berharap, bila ada korban lain, segera melapor. Sebab, tidak tertutup kemungkinan ada korban lain dalam kasus ini.

"Harapan kami, dengan adanya rilis ini, masyarakat yang pernah merasa membeli atau berinteraksi dengan mereka itu melaporkan kerugiannya. Karena tidak menutup kemungkinan untuk korban lainnya," lanjutnya.

Tersangka melakukan tindakannya sejak 2014. Pengungkapan kasus ini diharapkan menjadi pintu masuk untuk mengungkap kasus lainnya yang sudah dilakukan sejak 2014.

"Mereka melakukan dari 2014. Jadi sebenarnya yang tanah 2.000 meter persegi milik Kementerian Keuangan itu adalah pintu masuk kita mengembangkan ke perbuatan mereka dari tahun 2014 tersebut. Ini adalah perbuatan mereka yang kesekian kalinya," bebernya.

Modus tersangka dengan memanfaatkan akses informasi objek kekayaan negara dari mantan pegawai DJKN. Mereka menjual tanah tersebut kepada masyarakat dan korporasi.

Kemudian para pelaku membuat surat-surat transaksi dan sertifikat palsu. Seolah-olah dibuat resmi oleh pihak DJKN.

"Adapun yang dilakukan para tersangka berawal dari mereka membuat surat palsu seolah-olah itu diberikan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Negara terkait objek tanah milik negara yang mereka jual untuk dilepas kepada pembeli," ujar Kapolres Bogor AKBP Iman Imanuddin.

Akibat perbuatannya, tersangka dikenai Pasal 263 Ayat 1-2 KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama 6 tahun serta Pasal 378 tentang penipuan dengan ancaman pidana penjara maksimal 4 tahun.

(isa/isa)