Perspektif

Menebak Pengisi Kursi Pangkostrad, Faktor 'Menantu Luhut' Menentukan?

Danu Damarjati - detikNews
Rabu, 12 Jan 2022 19:03 WIB
Batalyon Yonif Para Raider 328 Kostrad dan Yonif Para Raider 305 Kostrad menggelar latihan parade dan defile jelang peringatan HUT ke72 TNI di Cilegon, Banten.
Foto ilustrasi pasukan Kostrad (Dok Penkostrad)
Jakarta -

Dua bulan sudah kursi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) kosong. Nama-nama potensial muncul, salah satunya menantu Luhut. Ada pula nama lain yang sama-sama dekat dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menantu Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan adalah Mayjen Maruli Simanjuntak. Dia adalah Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Udayana. Maruli pernah menjadi Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspampres) 2018-2020. Munculnya nama Maruli sebagai sosok potensial pengisi kursi Pangkostrad pertama terdengar dari DPR.

Selain itu, ada nama lain yang sama-sama dekat dengan Presiden Jokowi lantaran juga pernah menjadi Danpaspampres 2020-2021. Dia adalah Mayjen Agus Subiyanto. Kini dia menjabat Pangdam Siliwangi.

Direktur Institut for Security and Strategic Study (ISES), Khairul Fahmi, memberikan perspektifnya.

"Ini sudah dua bulan kok kursi Pangkostrad belum juga terisi. Saya menduga selain proses di Wanjakti (Dewan Kepangkatan dan Jabatan Tinggi), ada juga proses-proses politik yang belum tuntas, yakni mencari sosok yang selaras dengan visi Panglima Tertinggi yakni Presiden Jokowi," kata Khairul Fahmi kepada detikcom, Rabu (12/1/2022).

Kekosongan jabatan Pangkostrad sudah sejak 17 November 2021, saat Jenderal Andika Perkasa menerbitkan Surat keputusan Panglima TNI Nomor Kep/1029/XI/2021.

Pengisi Pangkostrad bakal diambil dari jajaran bintang tiga dan bintang dua. Mereka yang menjabat Pangdam atau yang pernah menjadi Pangdam sama-sama berpeluang menjadi Pangkostrad. Bagaimana dengan faktor hubungan kekerabatan dengan Luhut Pandjaitan yang hanya dipunyai Maruli? Apakah itu juga merupakan faktor yang menentukan pengisian jabatan Pangkostrad?

"Itu faktor keberuntungan dari Mayjen Maruli, ya. Itu yang dianggap berpengaruh di lingkar kekuasaan Presiden Jokowi. Namun, apakah itu akan jadi pertimbangan utama? Saya kira tidak. Tentu harus dilihat faktor lain, yakni prestasi dan catatan rekam jejak," kata Fahmi.

Direktur Institut for Security and Strategic Study (ISES), Khairul Fahmi (Dok pribadi Khairul Fahmi)Direktur Institut for Security and Strategic Study (ISES), Khairul Fahmi (Dok pribadi Khairul Fahmi)

Jadi, menurutnya, faktor hubungan kekerabatan dengan Luhut bukanlah faktor utama. Faktor lain yang juga penting sebagai pertimbangan Wanjakti dan Presiden Jokowi dalam menentukan Pangkostrad adalah catatan prestasi, rekam jejak, juga faktor kapabilitas, kompetensi, dan pengalaman jabatan.

"Tentu saja aspek senioritas juga harus dipertimbangkan. Tapi apakah mereka yang senior punya prestasi yang lebih baik dari yang lain? Itu perlu diuji, karena promosi jabatan bukan sekadar like and dislike," kata Fahmi.

Bagaimana dengan faktor kedekatan politik? Menurut Fahmi, untuk saat ini, faktor kedekatan politik dengan puncak kekuasaan tidak terlalu menjadi pertimbangan. Soalnya, Pilpres 2024 masih cukup jauh. Jabatan Pangkostrad bisa diganti sewaktu-waktu. Lagipula, Jenderal Dudung bakal tetap menjadi KSAD sehingga potensi Pangkostrad untuk menggantikan KSAD masih kecil, kecuali Panglima TNI pengganti Jenderal Andika Perkasa tahun 2022 nanti dipilih dari TNI AD lagi, kemungkinan itu kecil lantaran Panglima TNI sudah berturut-turut berasal dari TNI AD.

"Jabatan Pangkostrad ini sebenarnya tidak terlalu strategis dalam kalkulasi politik," kata dia.

infografis jejak karier Maruli SimanjuntakMaruli Simanjuntak (Edi Wahyono/detikcom)

Soal kualifikasi jenderal bintang tiga yang tersedia, Fahmi menghitung ada 16 orang jumlahnya. Namun, di antaranya termasuk jenderal bintang tiga yang tak punya pengalaman memimpin satuan tempur. Nama potensial lain ada Pangdam Jaya Mayjen TNI Untung Budiharto, Pangdam XVIII/Kasuari, Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa yang memegang bintang penghargaan bergengsi Adhi Makayasa lulusan terbaik 1990 dan mantan Danjen Kopassus, Pangdam Iskandar Muda Mayjen Mohamad Hasan juga sama-sama pernah menjabat Danjen Kopassus.

Kasdam Bukit Barisan Brigjen TNI Untung BudihartoUntung Budiharto (Khairul Ikhwan/detikcom)

Yang jelas, kata Fahmi, kursi Pangkostrad harus segera diisi. Soalnya, bila tidak segera diisi, tugas Pangkostrad akan membebani Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Tugas Pangkostrad juga strategis dalam militer.

"Siapa pun yang ditunjuk jadi Pangkostrad, jangan terlalu lama prosesnya. Kalau mau angkat Maruli, ya angka saja jangan malu-malu. Ini kalau terlalu lama berlarut-larut, kesannya para jenderal sedang bersaing," tutur Fahmi.

Dihubungi terpisah, pengamat pertahanan dan intelijen, Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati (Nuning) menjelaskan para jenderal bintang dua dan bintang tiga berpeluang mengisi kursi Pangkostrad. Dia berharap, Presiden Jokowi segera menunjuk Pangkostrad yang baru selepas ditinggalkan Jenderal Dudung Abdurachman yang kini menjabat KSAD.

Nuning KertopatiNuning Kertopati (Dok. Pribadi)

"Menurut saya, sebaiknya segera diisi karena Kostrad adalah pasukan cadangan strategis yang membutuhkan pimpinan yang dapat mengomandoi giat taktis pasukan," kata Nuning.

Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie punya pandangan berbeda. Dia menilai pengisian kursi Pangkostrad tidak perlu terburu-buru meski sebaiknya juga tidak dibiarkan kosong terlalu lama. Dia menilai Panglima TNI Andika Perkasa dan KASAD Jenderal Dudung masih butuh waktu menyaring calon paling tepat.

"Saat ini, pasukan elite Kostrad yakni Kompi Intai Tempur (Taipur) tidak sedang urgen diperlukan dalam mensabotase ataupun melakukan intelijen serta operasi tempur di misi operasi khusus," kata Connie, saat dihubungi detikcom secara terpisah.

Connie Rahakundini Bakrie merupakan pengamat militerConnie Rahakundini Bakrie merupakan pengamat militer. (Lamhot Aritonang/detikcom)

Saat ini, Indonesia sedang tidak menghadapi kondisi yang memaksa pengerahan pasukan operasi khusus. Jadi, Wanjakti bisa lebih baik menentukan siapa Pangkostrad yang paling tepat. Bagaimana dengan Maruli yang mengantongi faktor 'menantu Luhut'? Atau, siapakah calon potensial Pangkostrad?

"Saya kira hasil Wanjakti yang terbaik yang Panglima sedang putuskan dan baiknya kita tunggu bersama. Tidak perlu diragukan deh kalau sesuai hasil Wanjakti pasti itu yang paling pas," kata Connie.

Jadi, siapa ya yang bakal jadi Pangkostrad? Silakan menebak.

Simak Video: Anggota Komisi I: Baru Kali Ini Posisi Pangkostrad Kosong Lama

[Gambas:Video 20detik]



(dnu/tor)