2 Penambang Emas di Boltim Terjebak dalam Galian Mengandung Gas Beracun

Trisno Mais - detikNews
Rabu, 12 Jan 2022 16:26 WIB
A miner uses a hammer to crush rocks with ore at Tierra Amarilla town, near Copiapo city, north of Santiago, Chile, December 16, 2015. As copper prices have slid to a more than six-year low, miners laboring away at the countless smaller mines that pock mark the Atacama desert are finding the buckets of ore they spend all day digging from the ground are fetching less and less money.   Picture taken December 16, 2015. REUTERS/Ivan Alvarado
Foto: REUTERS/Ivan Alvarado
Boltim -

Dua penambang emas secara tradisional di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara (Sulut), dilaporkan terjebak dalam galian tambang yang mengandung gas beracun. Petugas kini masih kesulitan mengevakuasi korban karena tingginya kandungan gas beracun di lokasi.

"Jadi kendalanya karena kandungan gas beracun sangat tinggi," kata Koordinator Pos SAR di Kotamobagu Rusmadi saat dimintai konfirmasi detikcom, Rabu (12/1/2022).

Lokasi pertambangan diketahui berada di kedalaman 40 meter di Desa Atoga, Kecamatan Motongkad, Boltim, Sulut. Kedua korban yang belum diungkap identitasnya tersebut sudah terjebak gas beracun sejak pukul 15.30 Wita. Selain karena kandungan gas beracun yang tinggi, evakuasi terkendala kelengkapan peralatan yang terbatas.

"Kami belum turun full dengan peralatan karena peralatan masih terbatas. Jadi kami masih menunggu alat SCBA dan itu didatangkan dari Manado," kata Rusmadi.

"Jadi SCBA itu semacam alat khusus untuk turun untuk gas beracun," tuturnya.

Dikatakan Rusmadi, tim evakuasi dan masyarakat sekitar saat ini tetap melakukan upaya evakuasi dengan alat seadanya.

"Jadi memang masyarakat masih berupaya tadi, tapi kandungan gas beracun sangat tinggi jadi sampai saat ini belum bisa terevakuasi," ujarnya.

Selain itu, jarak lokasi yang jauh hingga kurangnya dukungan jaringan telekomunikasi membuat upaya evakuasi di lokasi belum berjalan maksimal.

"Karena itu aksesnya cukup jauh, di lokasi tidak ada signal. Jadi di lokasi dari jalan raya perkiraan kendaraan itu satu jam, tapi kalau jalan kaki dua jam," pungkasnya.

(hmw/mud)