Yahya Waloni Terima Divonis 5 Bulan Penjara

Yulida Medistiara - detikNews
Selasa, 11 Jan 2022 14:30 WIB
Jakarta -

Terdakwa Yahya Waloni divonis 5 bulan penjara terkait kasus ujaran kebencian terkait SARA. Yahya Waloni mengaku menerima vonis tersebut dan tidak mengajukan banding.

"Saya menerima Yang Mulia," kata Yahya Waloni dalam persidangan, di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Selasa (11/1/2022).

Sementara itu jaksa penuntut umum, Baringin Sianturi mengatakan pihaknya masih pikir-pikir apakah mengajukan banding atau tidak. Ia mengatakan akan melaporkan terlebih dulu hasil vonis tersebut sebelum memutuskan banding, ia menilai peluang untuk banding tetap ada.

"Ada semua kemungkinan (peluang banding) ada, nanti kami teliti lagi sejauh mana pertimbangan majelis hakim, mana celah-celahnya kemungkinan kami ada banding, kemungkinan bisa terima," ujarnya.

Sebelumnya, Yahya Waloni divonis 5 bulan penjara, denda Rp 50 juta, subsider 1 bulan penjara. Ia diyakini terbukti bersalah melakukan tindak pidana menyebarkan ujaran kebencian terkait SARA.

Yahya terbukti bersalah melanggar Pasal 45a ayat (2) jo Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

"Mengadili menyatakan Terdakwa Muhammad Yahya Waloni terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan di kelompok masyarakat tertentu berdasarkan agama," kata jaksa Ketua Majelis Hakim, di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Selasa (11/1).

Kasus ini bermula ketika pada Rabu, 21 Agustus 2019, terdakwa Yahya Waloni sebagai penceramah diundang oleh DKM Masjid Jenderal Sudirman World Trade Center Jakarta untuk mengisi kegiatan ceramah dengan tema 'Nikmatnya Islam'.

Pada hari itu, jumlah anggota jemaah sekitar 700 orang, tetapi terdakwa dalam mengisi kegiatan ceramah tersebut ternyata memuat materi yang dapat menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan SARA, karena menyangkut kata-kata yang bermuatan kebencian terhadap umat Kristen sehingga materi ceramah diduga dapat menyakiti umat kristiani.

Selengkapnya di halaman berikutnya.