Hal Memberatkan Vonis Yahya Waloni: Dapat Rusak Kerukunan Umat Agama

Yulida Medistiara - detikNews
Selasa, 11 Jan 2022 13:39 WIB
Jakarta -

Terdakwa Yahya Waloni divonis 5 bulan penjara terkait kasus ujaran kebencian terkait SARA dalam ceramahnya. Hakim menuturkan alasan pemberat dan meringankan, salah satunya Yahya Waloni telah menyesali perbuatannya dan meminta maaf.

"Keadaan yang meringankan terdakwa menyesali perbuatannya, terdakwa menyatakan permohonan maafnya, terdakwa memiliki tanggungan keluarga," kata ketua majelis hakim Hariyadi, di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Selasa (11/1/2022).

Selain itu, hal yang memberatkan adalah perbuatan terdakwa dinilai dapat merusak kerukunan antar-umat agama.

Diketahui, Yahya Waloni divonis 5 bulan penjara, denda Rp 50 juta subsider 1 bulan penjara. Yahya terbukti bersalah melanggar Pasal 45a ayat (2) jo Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

"Mengadili menyatakan Terdakwa Muhammad Yahya Waloni terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan di kelompok masyarakat tertentu berdasarkan agama," kata jaksa Ketua Majelis Hakim, di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Selasa (11/1).

Atas vonis tersebut, Yahya Waloni menyatakan menerima. Sementara jaksa penuntut umum menyatakan pikir-pikir apakah mau mengajukan permohonan banding atau tidak.

"Saya terima, Yang Mulia," ujar Yahya.

Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa. Sebelumnya, Yahya Waloni dituntut hukuman 7 bulan penjara, dan denda Rp 50 juta, dan subsider 1 bulan.

Kasus ini bermula ketika pada Rabu, 21 Agustus 2019, terdakwa Yahya Waloni sebagai penceramah diundang oleh DKM Masjid Jenderal Sudirman World Trade Center Jakarta untuk mengisi kegiatan ceramah dengan tema ceramah 'Nikmatnya Islam'.

Pada hari itu, jumlah anggota jemaah sekitar 700 orang, tetapi terdakwa dalam mengisi kegiatan ceramah tersebut ternyata memuat materi yang dapat menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan SARA, karena menyangkut kata-kata yang bermuatan kebencian terhadap umat Kristen sehingga materi ceramah diduga dapat menyakiti umat kristiani.

Selengkapnya halaman berikutnya.