Pencinta Binatang Ungkap Hasil Visum Anjing Mati Serempak di Mandalika: Horor!

Andi Saputra - detikNews
Senin, 10 Jan 2022 16:57 WIB
ibizan hound open mouth
Foto ilustrasi anjing (Getty Images/iStockphoto/Eloi_Omella)
Jakarta -

Masih ingat kasus kematian anjing secara misterius di Mandalika, NTB, beberapa waktu lalu? Ketua Animal Defenders Indonesia (ADI) Doni Herdaru Tona memaparkan temuan yang mengenaskan. Apa temuannya?

"Ada yang lebih horor daripada racun pada anjing Mandalika," kata Doni kepada wartawan, Senin (10/1/2022).

Doni mengatakan pihaknya bersama pihak terkait mengamankan dua bangkai anjing di Mandalika. Bangkai tersebut kemudian dikirimkan ke Laboratorium Forensik Universitas Airlangga untuk mengetahui penyebab kematiannya.

"Hasil (visum) yang kami terima, sungguh mengejutkan. Ternyata salah satu bangkai anjing tersebut, mati dengan cara dihantam benda tajam pada rahang atas dan jeratan tali pada kaki depan," beber Doni.

Namun, bangkai yang satu lagi tidak bisa diketahui penyebab kematiannya karena telah hancur.

"Bangkai yang satu lagi sudah terlalu hancur dan tidak bisa ditemukan penyebab kematiannya," ujar Doni.

Visum tersebut dilakukan untuk menindaklanjuti laporan warga terkait anjing di sekitar Sirkuit Mandalika mati secara serempak yang diduga diracun.

"Dari laporan awal dan pengamatan kawan-kawan pers, ada 7 ekor. Bangkai yang bisa kami temukan di lokasi, hanya 2. Sisanya hilang dari tempat mereka terlihat sebelumnya," kata dia.

Doni pun menduga bahwa kematian anjing-anjing tersebut ada kaitannya dengan unggahan di website Dinas Peternakan NTB yang berupaya mensterilkan area Sirkuit Mandalika.

"Saya menduga ada kaitan antara upaya mensterilkan area sirkuit, postingan di website Dinas Peternakan, dan matinya anjing-anjing ini," katanya.

Untuk itu, pihaknya pun menyerahkan bukti-bukti awal tersebut ke pihak kepolisian agar segera bergerak untuk memeriksa dan menyelidiki kasus tersebut.

"Perlu dicatat, anjing-anjing ini tidak mati dengan seketika. Ada darah yang terhirup masuk ke kerongkongan dan bagian tubuh lainnya," kata Doni.

Menurutnya, sebelum mati, anjing-anjing tersebut sangat menderita dan tidak mati dengan cara yang mudah.

"Untuk meningkatkan roda pariwisata, tak sepatutnya sampai menumpahkan darah hewan yang menjadi sahabat masyarakat di sana yang selama ini hidup berdampingan dan saling menghormati," beber Doni.