Artis Sinetron Ivanka Suwandi Diduga Tertipu Mafia Properti di Bali

Sui Suadnyana - detikNews
Senin, 10 Jan 2022 15:35 WIB
Kasubdit II Ditreskrimum Polda Bali AKBP I Made Witaya (Sui Suadnyana/detikcom)
Kasubdit II Ditreskrimum Polda Bali AKBP I Made Witaya (Sui Suadnyana/detikcom)
Denpasar -

Artis sinetron Ivanka Suwandi (52) diduga ditipu oleh mafia properti di Bali. Sebab, rumah yang dibeli Ivanka Suwandi dan dibayar hingga lunas dijual lagi oleh pihak pengembang.

Setelah dijual pengembang, rumah tersebut kemudian beberapa kali berpindah tangan. Atas kejadian tersebut, Ivanka Suwandi akhirnya melapor ke Polda Bali.

"Laporan dari IS (Ivanka Suwandi) terkait dengan menyuruh menempatkan keterangan palsu ke dalam akta otentik," kata Kasubdit II Ditreskrimum Polda Bali AKBP I Made Witaya kepada detikcom di Polda Bali, Senin (10/1/2022).

Awalnya pada Februari 1996, Ivanka Suwandi melihat stan pameran dari PT BLKU dan berniat untuk membeli rumah. Direktur PT BLKU berinisial SH saat itu menawarkan Perumahan Pondok Kampial Permai di Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.

Adapun rumah yang ditawarkan pengembang saat itu saat itu berada di blok A nomor 229-230 dengan harga Rp 38,6 juta. Ivanka Suwandi kemudian membeli rumah tersebut dengan cara mencicil hingga lunas.

"Itu diawali pada tahun 1996, IS membeli sebuah bangun di Perumahan Pondok Kampial, Nusa Dua dengan luas 137 meter persegi dengan harga Rp 38.600.000 dengan cara mencicil dan sudah lunas," terang Witaya.

Setelah lunas, Ivanka Suwandi diberikan kunci rumah oleh SH pada Februari 1998. SH kemudian meminta Ivanka Suwandi berkoordinasi dengan notaris berinisial TDK untuk pemecahan sertifikat hak guna bangunan (SHGB).

Setelah menerima kunci, rumah tersebut kemudian didiami oleh keluarga Ivanka Suwandi kurang-lebih selama 6 bulan. Setelah itu, rumah dalam keadaan kosong.

"Keluarga ibu IS ini sempat menempati kurang lebih selama 6 bulan. Kemudian tidak ditinggal lagi karena keluarganya sudah tidak bekerja lagi di wilayah Denpasar," jelas Witaya.

Pada 2018, Ivanka Suwandi melihat rumahnya tersebut, tapi ternyata sudah ada orang lain yang menempati. Kepala dusun setempat juga mengatakan bahwa terdapat orang lain yang menempati rumah tersebut.

"Ternyata di tahun 2018, rumah teras dicek kembali oleh korban sudah ada yang menempati. Ada orang yang menempati di sana. Kemudian diselidiki oleh korban memang benar, dilaporkan kepada kelihan (kepala) dusun yang ada di lokasi tersebut bahwa ada orang lain yang menempati di situ," kata dia.

"Atas peristiwa ada orang yang menempati rumah yang dimiliki oleh IS tersebut, kemudian IS melaporkan pengaduan ke Polda Bali di tahun 2019 bulan Februari," imbuh Witaya.

Witaya menjelaskan, berdasarkan kwitansi tertanggal 5 Januari 2000, Ketua Tim Pelaksana Operasional PT BLKU berinisial TH telah menjual rumah tersebut kepada DIS dengan harga Rp 45 juta. Kemudian pada 5 April 2000, TH telah menyerahkan kavling bangunan blok A 229-230 perumahan tersebut kepada DIS.

Pada 15 Agustus 2009 terbit akta jual-beli (AJB) nomor 57 tahun 2009 antara DIS dengan HR di notaris NWS dan disaksikan oleh staf notaris berinisial NKS dan NMK. Tak berhenti sampai di sana, pada 21 November 2013 terbit SHGB nomor 4322 atas nama DIS dengan luas 137 meter persegi.

Pada 4 Februari 2015, kemudian terjadi peralihan hak antara DIS kepada IWR dan harga Rp 150 juta. Terjadi peralihan hak lagi pada 10 Agustus 2016 dari IWR ke INS dengan harga Rp 400 juta.

Witaya menegaskan pihaknya sebenarnya telah melakukan pemanggilan dan pemeriksaan terhadap 6 saksi dan 1 terlapor. Untuk proses penyidikan, terlapor sudah dimintai keterangan, namun kini terlapor sedang sakit.

"Memanggil HR mulai 7 Februari 2020. HR juga sedang terbaring di rumah sakit akibat penyakit diabetes komplikasi yang dialaminya. Kemudian pada 17 Desember 2021, polisi juga telah memanggil saksi dan langsung dibuatkan berita cara pemeriksaan (BAP)," tutur Witaya.

Polisi belum menetapkan tersangka dalam perkara Ivanka Suwandi tersebut. Ke depan, Polda Bali berencana memeriksa saksi lain, yakni notaris bernisial IWS dengan terlapor HR dan menyita minuta akte setelah turun izin dari Majelis Kehormatan Notaris (MKN).

Kemudian yang bakal turut diperiksa yakni memeriksa saksi notaris NKS dan stafnya NMK; Direktur PT BLKU berinisial SH dan pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Badung.

"Kasusnya sudah kita melakukan saksi-saksi melakukan penyitaan dokumen sudah juga naik ke sidik. Sementara kita masih memeriksa saksi dari BPN, notaris kemudian izin dari MKN juga belum turun, semua itu terkait dengan peralihan hak dan akta jual-beli," ungkapnya.

(dwia/dwia)