Sidang Permohonan Suntik Mati Nelayan di Lhokseumawe Digelar 13 Januari

Agus Setyadi - detikNews
Senin, 10 Jan 2022 12:15 WIB
jarum suntik dan ampul obat
Foto ilustrasi suntikan: thinkstock
Banda Aceh -

Seorang nelayan di Lhokseumawe, Nazaruddin Razali mengajukan permohonan suntik mati ke Pengadilan Negeri Lhokseumawe. Sidang permohonan tersebut bakal digelar pekan ini.

"Permohonan euthanasia di Pengadilan Negeri Lhokseumawe dijadwalkan akan disidangkan pada Kamis 13 Januari nanti," kata kuasa Hukum Nazaruddin, Safaruddin saat dikonfirmasi, Senin (10/1/2022).

Permohonan itu terdaftar dengan nomor 2/Pdt.P/2022/PN Lsm tanggal 7 Januari 2022. Safaruddin mengatakan, pihaknya telah mempersiapkan berkas-berkas pendukung untuk persidangan permohonan suntik mati tersebut.

"Pak Nazaruddin sendiri saat ini masih pada komitmennya dalam pengajuan euthanasia," ujar Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) itu.

Safaruddin, mengatakan permohonan suntik mati diajukan karena kliennya tidak sanggup menghadapi tekanan, termasuk dari Pemkot Lhokseumawe. Wali Kota disebut telah mengeluarkan aturan melalui surat nomor 523/1322/2021 yang isinya melarang budi daya ikan di dalam Waduk Pusong.

"Dengan berbagai tekanan yang pemohon hadapi saat ini, baik itu dari Wali Kota Lhokseumawe, Muspika, dengan kondisi pemohon yang sudah tua dan sakit-sakitan juga sebagai kepala keluarga yang tetap harus memenuhi kebutuhan hidup, membuat pemohon sangat tertekan dan menilai bahwa negara tidak berpihak kepada Pemohon sebagai warga negara," ujar Safaruddin.

"Oleh karena itu, pemohon dengan memohon kepada Ketua Pengadilan Negeri Lhokseumawe agar mengabulkan permohonan pemohon untuk melakukan eutanasia di Rumah Sakit Umum Kesrem Lhokseumawe dengan disaksikan oleh Wali Kota Lhokseumawe, Camat Banda Sakti, dan Danramil Banda Sakti," lanjut Safaruddin.

Respons Pemkot

Camat Banda Sakti Kota Lhokseumawe, Heri Maulana, mengatakan, alasan Nazaruddin mengajukan suntik mati tidak masuk akal. Dia menyebut, permohonan suntik mati hanya sebagai luapan emosi sesaat Nazaruddin.

"Mungkin kecewa sedikit. Biasalah. Jangankan suntik mati, suntik vaksin COVID-19 saja banyak masyarakat Lhokseumawe yang menolak," kata Heri dalam keterangannya, Jumat (7/1).

Menurutnya, beberapa waktu lalu sudah ada perjanjian antara pemerintah dengan masyarakat terkait relokasi keramba di waduk pusong. Muspika Banda Sakti disebut bakal terus melakukan sosialisasi ke warga.

"Dulu itu pembangunan waduk sudah dibebaskan lahannya oleh pemerintah. Lalu mereka, rakyat minta izin ke pemerintah buat keramba dalam waduk. Janjinya, kalau sewaktu-waktu pemerintah menggunakan waduk, baik pembersihan dan lain sebagainya akan diizinkan," ujar Heri.

"Kita masih tahap sosialisasi, akan bersihkan waduk. Solusinya, kita relokasi petani keramba, kita beri keramba, bibit dan pembinaan. Ini yang untung siapa? Mereka jugakan, kok dibilang putus asa," lanjut Heri.

(agse/zap)