Gus Baha Minta Kader PPP Jaga Keberagaman dan Perdamaian

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Jumat, 07 Jan 2022 20:51 WIB
PPP
Foto: dok. PPP
Jakarta -

KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) berpesan agar kader PPP menjaga keberagaman dan perdamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, keberagaman harus dijaga dengan baik supaya hadir kenyamanan dan persatuan di tengah-tengah masyarakat.

"Keberagaman adalah sunnatullah, dalam tradisi para ulama berbeda itu sebuah pengetahuan, beda itu bukan berarti musuh, menghargai perbedaan dan menjaga keberagaman bagian dari ajaran para ulama," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (7/1/2022).

Ia mengatakan politik bukan hal asing bagi umat Islam. Menurutnya, banyak kiai dan ulama yang memberi teladan cara berpolitik yang baik. Seperti almarhum KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) yang diyakini mempunyai manhaj atau metode yang bersanad ke Wali Sanga hingga Rasulullah SAW.

Salah satu cara berpolitik yang baik menurut Gus Baha yaitu terus berusaha bersama berbagai pihak dengan niat untuk memperbaiki apa yang kurang ideal menjadi ideal, serta hal-hal yang kurang baik menjadi lebih baik.

"Saya pernah menulis naskah ketika Mbah Moen masih sugeng (sehat), sering saya konfirmasikan dan saya mintakan fatwa sama beliau. Di antara orang baik adalah berbuat baik kepada siapa pun. Kita ini ibarat bengkel motor, jika tidak bisa menerima motor rusak tidak usah jadi bengkel, jadi dealer saja," ujar Gus Baha.

Di acara Tasyakuran Harlah PPP Ke-49, Rabu (1/5), Gus Baha juga menjelaskan Mbah Moen sering mengulang suatu ayat.

"Allah saja memperlakukan orang yang zalim dengan 2 cara. Pertama yaitu dengan menyiksa, karena itu hak prerogatif Allah sebagai Tuhan. Lalu yang kedua Allah sebagai pemberi taubat," ungkapnya.

"Jadi, jangan sampai kita ini memvonis orang buruk, ternyata Allah memberi dia taubat. Dulu orang-orang yang banyak memusuhi Rasulluah yang dikira akan su'ul khotimah ternyata banyak menjadi Ashabu Rasulillah (sahabat Rasulullah), seperti Sayyidina Umar dan sahabat-sahabat yang lain," lanjut Gus Baha.

Kemudian, lanjut dia, setelah akal manusia mengantarkan iman kepada Allah, maka tugas berikutnya adalah berperilaku simpatik. "Kita punya akal, akal kita merumuskan menemukan Tuhan. Kedua, akal kita gunakan supaya berperilaku simpatik kepada manusia," tutur dia.

Sehingga untuk merebut kemenangan atau mendapatkan simpati, Gus Baha mengingatkan agar menggunakan cara yang baik. Sebab kemenangan dalam bentuk apa pun, asal dilakukan dengan cara yang baik tidak akan menghilangkan status kesalehan seseorang.

"Di antara sifat para Nabi diberikan Mulkan Adzima (kekuasaan yang besar). Tentu besar itu bisa dengan arti menang demi kebaikan. Ada satu antitesis pada akhirnya yang menjadi akhir dari perjuangan di antaranya adalah kemenangan," paparnya.

Dikatakan Gus Baha, para ulama dan tokoh terdahulu yang memiliki kebesaran hati dalam mengelola kompetisi menjadi sebuah simpati. Hal itu menurutnya juga dilakukan oleh para ulama di Tanah Air, termasuk Mbah Moen.

"Tugas kita sebagai manusia harus berperilaku simpatik, awal orang mengikuti kita itu karena simpatik dengan kita. Karena pada dasarnya manusia itu adalah budak kebaikan. Yang harus kita hindari dalam kompetisi adalah pertumpahan darah. Ulama berpolitik, itu seni untuk menghindari pertumpahan darah," tegasnya.

(prf/ega)