Jejak Pengendali 1,2 Ton Sabu di Aceh: Batal Dieksekusi-Divonis Mati Lagi

Agus Setyadi - detikNews
Jumat, 07 Jan 2022 16:04 WIB
Ilustrasi Palu Hakim
Ilustrasi palu hakim (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Pengadilan Negeri Meulaboh memvonis mati pengendali 1,2 ton sabu di Aceh, Okonkwo Nonso Kingsley. Pria asal Nigeria itu sebelumnya divonis mati tapi batal dieksekusi.

Dirangkum detikcom, Jumat (7/1/2022), Okonkwo ditangkap saat menyelundupkan narkoba melalui Bandara Polonia, Medan, pada 25 Oktober 2003. Pria dengan nama samaran John dan KNK itu menyelundupkan kapsul sabu dengan metode swallow.

Dia merupakan kurir narkoba spesialis 'petelur' jaringan internasional. Sepanjang 2003, paspornya sudah tercap ke berbagai negara, seperti Pakistan, Thailand, serta Indonesia.

Ketika Okonkwo tiba di Bandara Polonia, anjing pelacak narkotika mengendus perut dia tiada henti sehingga petugas curiga. Okonkwo lalu digelandang ke rumah sakit dan dipaksa 'bertelur'.

Setelah ditunggu beberapa saat, benar dugaan petugas. Okonkwo 'bertelur' belasan kapsul yang berisi heroin. Total 'telur' heroin yang dibungkus kapsul itu sebesar Rp 1,1 kg.

Pada 4 Mei 2004, Pengadilan Negeri (PN) Medan menjatuhkan hukuman mati kepada Okonkwo. Putusan itu dikuatkan Pengadilan Tinggi (PT) Medan pada 16 Agustus 2004. Vonis mati itu tidak bergeming saat MA menolak dan tetap menguatkan hukuman mati kepada Okonkwo pada 16 Februari 2006.

Okonkwo sempat menggunakan upaya hukum luar biasa dengan mengajukan peninjauan kembali (PK). Tapi majelis PK yang diketuai Artidjo Alkostar menolaknya dan berkeyakinan hukuman mati kepada Okonkwo sudah tepat dan benar. Putusan yang diketok pada 24 November 2014 itu juga diadili oleh hakim agung Suhadi dan hakim agung Sri Murwahyuni.

Batal Dieksekusi

Okonkwo harusnya dieksekusi mati pada Jumat (29/7/2016). Okonkwo masuk sel isolasi bersama 13 orang lainnya. Di menit-menit terakhir, Okonkwo tidak dikeluarkan dari ruang isolasi bersama sembilan temannya. Empat yang lain tetap dibawa dan dieksekusi mati.

"Tidak semua yang benar itu baik, dan yang baik itu tidak selamanya benar," kata Prasetyo dalam jumpa pers pada Jumat (29/7/2016) pagi, menjelaskan alasan menunda mengeksekusi mati 10 terpidana yang sudah siaga di TKP itu.

Hingga saat ini, Okonkwo belum juga dieksekusi. Alih-alih dieksekusi mati, Okonkwo justru masih bisa mengendalikan jaringan dari balik jeruji.

Okonkwo kini divonis mati lagi, simak selengkapnya di halaman berikut